Jumat, 28 Desember 2012

Belajar Cinta Dari Sumber Cinta






Di dunia ini, banyak kisah cinta yang bisa kita tauladani. Yang bisa kita ambil hikmah dan pelajaran bagaimana mereka memaknai cinta, menghidupkan cinta, dan saling salih menshalihkan cinta sesuai dengan titah cinta itu sendiri.

Sebut saja kisah cinta Nabi kita Muhammad SAW dan Ibunda Khadijah r.a. Pelajaran cinta pertama bahwa perbedaan usia bukan halangan dalam cinta. Perbedaan kepemilikan harta bukan keterbatasan cinta. Ia berbicara tentang jiwa yang putih, suci, dan syahdu. Tentang jiwa-jiwa yang saling memanggil dalam keimanan. Betapa anggun dan dewasanya Ibunda khadijah. Sosoknya hadir menguatkan sang nabi dalam masa-masa perjuangan Islam yang berat kala wahyu telah diturunkan.
Cintanya mewangi, suci, dan abadi hingga hayatnya.

Hadir pula romansa baru kisah dari Nabi Muhammad dan Ibunda Aisyah r.a. Masa-masa kesedihan Rasul, dihadiahkan Allah dengan hadirnya sosok periang, manja dan cerdas. Menghibur jiwa yang basah. membuat hari-hari menyenangkan dan berlimpah ilmu pengetahuan pembawa keberkahan. Dari Ibunda Aisyah kita juga belajar pentingnya menyenangkan hati suami, dan cemburu yang natural dalam cinta. Sekali lagi, perbedaan usia bukan halangan dalam cinta. Ia tentang jiwa-jiwa yang saling memanggil dalam keimanan. Ibunda Aisyah yang cerdas, membakar semangat diri bahwa perempuan juga penting mengenyam pendidikan dan sejajar dengan ikhwan dalam ilmu pengetahuan.

Tauladan cintanya turun kepada anak tercinta, Fatimah Az-Zahra r.a dan Ali bin Abi Thalib r.a. "Tidak ada lelaki sejantan Ali!" pepatah Arab yang bersumber dari betapa agungnya cinta yang khalifah Ali miliki untuk Ibunda Fatimah. Ikhlas dalam mencinta dan hanya memupuk cinta untuk di bawa ke altar suci pernikahan. Menutup rapat rasa yang fitrah sanking takutnya dosa dan terjerumus dalam nafsu goda syaitan. Cinta yang dibungkus dengan rasa malu dan kepatuhan pada Tuhan. Tak ada keluhan yang keluar meski hari-hari hidup menyederhana. Saling memahami dalam menjaga luhurnya cinta. Hingga akhir hayat, tak ada yang mendua. Kisah cinta mereka mewangi, suci, dan abadi. Ibunda Fatimah, wanita penghulu di surga.

Yang masanya lebih dekat denganku, kutemui cinta serupa dalam kisah Pak Habibie (Presiden ke 3 RI) dan Ibu Ainun. Seperti takdir Tuhan yang memanggil jiwa-jiwa dalam keimanan untuk menyatu, Pak Habibie melabuhkan cintanya  pada teman SMP gula jawanya yang berubah menjadi gula pasir, Ibu Ainun. Hari-hari berjalan, meretaskan tali ketidakmampuan dan keterbatasan untuk meraih tambatan hati. Cinta yang lugu, putih dan suci. Seperti Ibunda Fatimah, tak ada keluhan yang keluar dari Ibu Ainun meski hari-hari hidup menyederhana di negeri orang. Mampu merengkuh sisi 'keras kepalanya' Pak Habibie dengan sikap tegasnya dalam wujud cinta. Tak ingin membebani suami, bahkan tetap menciptakan zona save buat orang yang ia cintai meskipun ia sendiri tengah terengah dengan sakitnya. Hingga hayat kisah mereka melukiskan sejarah. Mereka menunggal dalam do'a yang dipanjatkan Pak Habibie pada Sang Maha Cinta, "Terimakasih ya Rabb, Engkau telah ciptakan Ainun untuk saya, dan saya untuk Ainun." Cintanya mewangi, suci, dan abadi hingga hayat.

Masih banyak kisah cinta yang menggetarkan keimanan hati lainnya. Semisal kisah Salman Al-farizi, khalifah Utsman bin Affan dengan Ummu Kultsum, dan juga sahabat-sahabat Nabi lainnya. Semuanya membuka mataku untuk berkenalan dengan cinta. KIsah-kisah di atas adalah kitab cinta yang kupilih menjadi refrensi dalam membangun dan menjalani cinta dengan pasangan jiwa kelak. Mempersiapkan diri mengenali jiwa-jiwa yang saling memanggil dalam keimanan. Hingga akhir cinta itu suci, abadi dan mewangi. Mensejarah, biar tak di bumi, tapi terkenal di langit. Aamiin..

1 komentar: