Selasa, 20 Mei 2014

Sampaikan Walaupun Satu Ayat



[BACA PELAN-PELAN DENGAN SEKSAMA]
💥Jangan baring ketika adzan, nanti jenazah kita berat."
Rasulullah S.A.W bersabda "Sebarkan Walaupun
Daripada Sepotong Ayatku..
💥 Jangan berkata-kata semasa adzan, agar lidah tidak kelu menyebut syahadat ketika sakaratul maut..
💥 5 perkara orang Islam patut tahu berkenaan dengan kesehatan.
Al-Quran ada mengajar kita menjaga kesehatan dengan membuat amalan seperti berikut :
🌠 1. Mandi pagi sebelum subuh atau sekurang-kurangnya sejam sebelum matahari naik.
Air sejuk yang meresap ke dalam badan bisa mengurangkan lemak yg terkumpul. Kita bisa lihat orang yg mengamal mandi pagi kebanyakan badan nya tidak gemuk.
 2. Rasulullah SAW mengamalkan minum segelas air sejuk(bukan air es) setiap pagi.
Mujarabnya, Insya Allah jauh dari penyakit (susah kena penyakit).
🌠 3. Waktu sholat Subuh disunatkan kita bertafakur (yaitu sujud sekurang kurangnya semenit selepas membaca doa).
Ia bisa mengelak dari sakit pening atau migrain.
Ini terbukti oleh para saintis yg membuat kajian kenapa dalam sehari perlu kita sujud.
Ahli-ahli sains telah menemui beberapa milimeter ruang udara dalam saluran darah di kepala yang tidak dipenuhi darah. Dengan bersujud maka darah akan mengalir ke ruang tersebut.
🐓 4. Dalam kitab juga ada melarang kita makan makanan darat bercampur dengan makanan laut.
Nabi pernah mencegah kita makan ikan bersama ayam. Dikhawatirkan akan cepat mendapat penyakit.
Ini terbukti oleh saintis yang menemukan dimana dalam badan ayam mengandungi ion + ve, manakala dalam ikan mengandung ion-ve, jika dalam suapan ayam bercampur dengan ikan maka terjadi tindak balas biokimia yang terhasil yg bisa merusak USUS kita.
Orang yahudi suka memakan ikan tanpa bercampur dengan makanan bercampur ayam.
 5. Nabi juga mengajar kita makan dengan tangan kanan dan bila habis hendaklah menjilat jari.
Begitu juga ahli sains telah menemukan bahwa ENZYME banyak terkandung di celah jari, yaitu 10 kali lipat terdapat dalam air liur. (Enzyme sejenis alat percerna makanan, tanpanya makanan tidak terurai).
 Sabda Nabi SAW, Ilmu itu milik Allah, barangsiapa menyebarkan ilmu demi kebaikkan Insya Allah, Allah akan menggandakan 10 kali lipat kepadanya.
Cara senang utk dapatkan pahala
walaupun sesudah mati,,,:
😇 Pasang kipas di surau/masjid
walaupun 1, setiap kali orang pakai,
anda dpt pahala walau sesudah mati.
 Derma kursi roda di RS, setiap kali pasien gunakan,
anda akan dpt pahala.
 Beri baju kpd orang , setiap kali
org pakai , anda dpt pahala.
 Beri makanan kpd org , anda
dpt pahala selagi makanan itu
mnjadi darah daging nya.
📚 Menyampaikan ilmu yg bermanfaat, selagi mereka mengamalkan pahala anda tetap ada.
😎 Berbagi pesan ini kpd orang banyak 👪. Walaupun 1 tolong
bagikan kpd org, anda akn dpt pahala sbb anda telah berdakwah
utk sampaikan ilmu.
InsyaAllah yg penting keikhlasan karena Allah semata 😊...
✋✌☺7 kalimat yg harus di biasakan..
🌀1.BismIllahirrahmannirrahim-Setiap hendak melakukan sesuatu.
🌀 2.AlhamdulIllah-Setiap habis melakukan sesuatu.
🌀 3.AstagafirUllah-Jika melakukan sesuatu yg buruk.
🌀 4.InsyaAllah-Jika ingin melakukan sesuatu pada masa yg akan dtg.
🌀 5.Laa hawla walaaquwwata illaa billaah-Bila tidak dpt melakukan sesuatu yg agak berat/melihat hal yg buruk.
🌀 6.Innalillahi wainna ilaihi rojiun-Jika melihat/menghadapi musibah atau menerima kabar kematian.
🌀 7.Lailaha illAllah-Bacalah siang dan malam sebanyak-banyaknya.
💥Ada 2 ✌pilihan utk anda :
🙇 1. Biarkan saja tulisan ini tanpa bermanfaat utk org lain.
atau
👍 2. Anda sebarkan kepada semua kenalan anda.👍
📖✨Rasulullah SAW bersabda,
"Barangsiapa yg menyampaikan ilmu saja dan ada org yg mengamalkannya, maka walaupun yg menyampaikan sudah tiada (meninggal dunia), dia akan tetap memperoleh pahala..
🍃
Amiiin yaa Robbal alamin... 😊
👍Semoga bermanfaat

Selasa, 06 Mei 2014

Cerpen Lomba "SENJA dan HUJAN"


“Kamu tahu, mengapa mas menyukai senja?”
“Hm, karena senja adalah saksi saat pertama kali kita bertemu?”
“Tentu, itu satu alasan dari sekian alasan mengapa mas menyukai senja. Meskipun, mas sudah lama menyukainya sebelum kita bertemu.”
“Lalu alasan utamanya apa?”
“Seperti kamu yang menyukai hujan, semua tak beralasan dengan pasti. Mas menganggap senja adalah do’a, senja adalah zikir petang yang tak boleh kulewatkan. Senja adalah rahmat, dimana Rasulullah pernah berkata bahwa do’a yang paling mustajab adalah sebelum sholat maghrib, dan itu berarti adalah waktu senja.”

Aku masih ingat percakapan itu. Percakapan setelah satu hari kita menikah. Kamu memperkenalkanku pada senja yang kamu sukai. Mengajakku melewati petang dalam zikir, sambil memandang senja.
*** 
More Read in  trmksh ^_^

Senin, 28 April 2014

Cerpen Ke-6 di Dakwatuna


Kutemui dan Kunikahi Engkau di Masjid
(Masjid, ich bin verliebt)

            Siang itu, cuaca tidak terlalu baik. Musim dingin di Berlin mencapai -0,5̊ C. Jalanan kota tampak lengang, bisa di tebak separuh penduduk kota ini sedang berada di depan perapian masing-masing, menghangatkan diri. Aku tiba di Masjid Umar Bin Khatabb jam dua belas. Masih ada waktu kosong dua jam sebelum jadwal mengajar Al-Quranku di Masjid ini. Untung saja masjid ini memiliki restoran ditingkat atas, sehingga aku tidak perlu keluar lagi untuk mencari makan siang.
            Masjid yang di resmikan pada 21 Mei 2010 ini terdiri dari tujuh lantai. Dua lantai untuk tempat sholat dengan daya tampung seribu jamaah. Di setiap lantainya, terdapat fasilitas umum seperti kantor jasa perjalanan, sekolah Alquran dan Bahasa Arab bagi anak-anak, toko buku, cafe, restoran, jasa pelayanan kematian bagi umat muslim, hingga toko daging halal pun ada.
Aku memesan Kohlsuppe (sup kol) dan Erbsensuppe (sup kacang polong) dan teh hangat.
            “Assalamu’alaikum, Mas Faris,”
            “Wa’alaikum salam. Hafiz? Lama tidak bertemu. Kamu di German juga? Habis dari mana?”
            “Habis dari toko buku, Mas. Senang sekali bisa bertemu dengan Mas Faris di sini. Bertemu dengan saudara setanah air itu ibarat bertemu telaga surga. Sejuk.” Ia sumringah sekali.
            “Sudah lama di German, Fiz? Study di sini?”
            “Lah, mas ini tinggal di German kok bahasanya Inggris? Ia mas, baru tahun kedua. Kedokteran. Do’a kan ya biar lancar.”
            “Udah tahun kedua kok ketemunya baru sekarang ya?”
            “Kalau itu, jawabannya bisa ada beberapa kemungkinan mas. Kalau ndak saya atau mas yang sibuk, berarti memang baru ini takdirnya untuk ketemu. Hehehe..”
            “Kamu kenapa nggak ngabarin mas? O ya, kamu sudah pesan makanan? ayo pesan, biar mas yang traktir. Biasanya kan kantong anak kuliahan terbatas bulanan.” Candaku.
            “Ah, sampean ini mas. Pengertiannya menusuk hati sekali. Hehe..”
            Benar yang Hafiz katakan, bertemu saudara sendiri seperti menemui telaga surga. Sejuk. Dinginnya cuaca pun berganti hangat tawa. Hafiz, adik sepupuku dari Malang Surabaya ini bercerita banyak tentang pengalaman tahun pertamanya di kampus dan tinggal di German. Setelah sholat zuhur, aku pun mengajak Hafiz turut serta bersamaku mengajar anak-anak mengaji Al-Qur’an. Dua jam berlalu. Setelah sholat ashar berjamaah, murid-muridku pun pamit pulang. Aku senang dengan semangat mereka belajar mengaji. Meskipun cuaca dingin, mereka tetap hadir untuk mempelajari kalam Qur’an. Aku pun berjanji mengajak mereka liburan setelah musim dingin berlalu, sebagai reward atas semangat mereka.
            “Kalau begitu, saya pamit pulang ke asrama ya, Mas.”
            “Kalau kamu mau, kamu bisa tinggal sama mas. Mas kan tinggal sendiri di sini.”
            “Makanya Mas Faris harus menikah biar tidak tinggal sendiri lagi. Sudah 25 tahun kan? Ganteng, soleh, mapan pula. Tunggu apa lagi?”
            “Tunggu jodohnya, hehe..”
***
Turun ke lantai satu ruang sholat, aku dan Hafiz berpapasan dengan Sarah yang tengah memeluk seorang wanita. Wanita itu menangis sesengkuan di bahunya.
“Ru..qaya?” Panggil Hafiz sedikit ragu. Wanita yang berada dalam pelukan Sarah berpaling melihat ke arah Hafiz.
“Kamu kenapa menangis?”
Wanita yang bernama Ruqaya itu menghapus air mata dengan jemarinya. Ia tersenyum ke arah Hafiz dan aku, “Insya Allah, Alles Gute.”
“Katakanlah, bukankah kita teman?”
Sarah mengajak kami untuk berbincang di kafe. Di sana Ruqaya menceritakan sebab tangisannya kepadaku dan Hafiz. Ruqaya yang bernama asli Natalia Anne Muller, berasal dari keluarga nasrani yang taat. Setengah tahun yang lalu ia menjadi mualaf di Masjid Umar Bin Khatabb karena tersentuh oleh bacaan Al-Qur’an seorang pemuda yang ia dengar. Padahal saat itu, ia datang ke Masjid Umar hanya untuk melihat interior dan kemegahan masjid baru ini.
Setelah itu, ia pun kerap datang ke masjid ini, dan disitulah ia berjumpa dengan Sarah. Karena sering mengobrol dan bertanya ini itu tentang islam, mereka pun akhirnya menjadi teman akrab. Sarah yang tiga tahun lebih tua dari Ruqaya, sudah menganggap Ruqaya seperti adiknya sendiri. Lima bulan perjalanannya sebagai mualaf, Ruqaya sudah hafal juz amma. Ia dibantu Ustadzah Yasmin, salah satu staf konsultasi masjid Umar. Namun di tengah proses  belajarnya sebagai muslim, sebulan yang lalu rahasia kemuslimannya pun diketahui oleh keluarganya.
Ketika itu, Ruqaya sedang sholat maghrib di kamarnya. Di tengah sholat, ayahnya memanggil dan mengetuk pintu kamar. Karena Ruqaya tidak menjawab, ayahnya pun membuka pintu kamarnya.
“Natalia!” Teriak ayahnya, murka. Namun Ruqaya tak menjawab, ia tetap tenang dalam tasyahud akhirnya. Ia tak merespon teriakan ayahnya sampai sholatnya selesai.
“Sudah kuduga ada yang lain dari dirimu. Mengapa tadi kau tak ikut makanan siang bersama. Beberapa minggu yang lalu temanku juga menelepon mengatakan bahwa ia melihatmu memasuki Masjid. Aku pikir ia hanya salah orang, tetapi sekarang aku melihat dengan mata kepalaku sendiri! Kamu akan mendapatkan hukuman atas ini, Nat! Ayo ikut Ayah!”
“Ayah, setiap orang bebas memeluk agama yang ia yakini kebenarannya.”
“Mungkin untuk orang lain bisa, tapi kau anakku! aku yang mengatur hidupmu!”
Saat itu juga, ayahnya memukuli, menarik paksa dan menyeret Ruqaya ke gudang. Ia dibiarkan tinggal di sana. Bahkan, tak ada yang memberinya makan malam. Keadaannya cukup lemas karena saat berbuka puasa sunah tadi, ia hanya meminum seteguk teh. Di hari ketiga, ibunya diam-diam memberinya selimut, beberapa potong roti dan segelas susu. Ia tidak tega melihat Ruqaya tidur di lantai tanpa beralas apapun di musim dingin ini. Ruqaya merasa lega, karena ibunya tidak membenci dirinya atas pilihan hidup yang ia ambil.
“Bila menurutmu ini yang terbaik untuk kau jalani, maka laluilah dengan keimananmu, Nak. Semoga Tuhan menjagamu.”
Hari berikutnya, ayahnya memperlakukan Ruqaya seperti budak. Ia disuruh kerja ini itu, tanpa memberinya waktu istirahat dan makan yang cukup. Melihat keadaan Ruqaya yang semakin mengenaskan, tadi malam ibunya menyuruh Ruqaya untuk pergi dari rumah. Ia tidak ingin Ruqaya diperlakukan terus-terusan seperti itu. Kalau Ayahnya nekat, bisa saja sewaktu – waktu ia menjual Ruqaya. Aku dan Hafiz terdiam mendengar penuturannya. Aku pandang Ruqaya sekilas, ada memar di pelipisnya. Hafiz, tiba-tiba menarikku sedikit menjauh dari Sarah dan Ruqaya.
“Ada apa, Fiz?”
“Mas, saya pikir kamu sudah menemukan jodohmu,”
“Maksudmu Ruqaya?”
“Mas, saya berani menjamin bahwa ia wanita yang baik, bahkan jauh sebelum ia menjadi mualaf. Apalagi setelah sedemikiannya cobaan yang dia hadapi demi hijrahnya.”
Aku tersenyum, “Tidak usah khawatir, sebelum kamu minta, tadi juga sudah terlintas dipikiran mas. Bagaimanapun juga, menyelamatkan jiwa seorang muslim itu wajib.”
“Alhamdulillah, saya memang tidak salah mengagumi orang.”
Aku dan Hafiz kembali ke meja kami. Dengan Bismillah kuutarakan niatku, “Saya tidak tahu, apa hal yang saya sampaikan ini cukup membantu atau tidak, tetapi bila diizinkan, saya bermaksud menawarkan diri saya untuk menikahimu, Ruqaya.”
Sarah tampak kaget, namun sedetik kemudian tersenyum, Hafiz tampak bersemangat sekali, dan Ruqaya malah menangis memeluk Sarah. Apa ia tidak suka?
“Kalau kamu tidak setuju juga tidak apa, tapi kumohon jangan menangis,” Ucapku merasa bersalah.
“Ia terharu. Ini tangis bahagia, bukan bersedih Faris.” Jelas Sarah. Aku hanya ber ‘O’ saja sementara Hafiz menertawaiku. Alhamdulillah.
Saat itu juga aku mengabari staf Masjid Umar bin Khatabb untuk proses akad besok. Ruqaya ingin menikah di masjid ini. Karena aku juga mengajar di masjid ini, jadi banyak pihak yang turut membantu dengan suka rela pernikahan kami.
***
“Wah, cakep sekali sampean, Mas. Makin keluar nih aura kebahagiaan calon pengantin.” Goda Hafiz saat melihatku keluar kamar dengan pakaian pengantin.
“Dari dulu mas memang sudah cakep. Hehehe..” Karena kejadian semalam, Hafiz tidak jadi pulang ke asrama. Ia menginap di rumahku untuk membantu proses acara hari ini. Ruqaya sendiri menginap di apartemen Sarah. Jam sembilan kami tiba di masjid dan langsung proses akad dilaksanakan.
“Saya terima nikah dan kawinnya Ruqaya binti Jhon Muller dengan mas kawin seperangkat alat sholat, sebuah Al-Quran, dan uang sebesar 15.000 Euro dibayar tunai.”
“Sah? Barakallahulaka..,”
***
“Mas, kita ngaji bareng yuk?” Ajakmu setelah kita sholat subuh bersama. Aku tersenyum mendengarnya. Istriku tercinta langsung mengambil dua Al-Quran yang terletak di atas meja kerjaku.
“Mas yang baca terlebih dahulu, setelah itu baru saya.”
Aku memulai dengan ta'awudz dan basmalah. Kubaca surah Ar-Rahman. Hingga pada kalimat, “Maka nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang kau dustakan” Ruqaya menangis. Terus menangis sesengkuan.
Aku memberhentikan bacaanku, “Kamu tidak apa-apa Dinda?”
“Saya merasa bersyukur sekali dengan nikmat yang Allah berikan. Kamu tahu mas, kamu adalah jembatan cahaya dari cahaya yang kudapatkan.”
“Maksud Dinda?
“Kamu tahu kan saya mendapat hidayah untuk memeluk islam karena mendengar bacaan Al-Quran di masjid Umar? dan orang yang membaca Al-Quran itu adalah kamu mas. Dan saya tidak menyangka karena pada akhirnya kamu juga yang menyelamatkan hidup saya dari keterasingan keluarga sendiri. Kamu memuliakan saya dengan menjadikan saya pendamping hidupmu. Maka nikmat Allah yang mana lagi yang saya dustakan? Allah sangat menyayangi saya.” Ucapnya masih dengan tangis sesengkuan.

“Allah menyayangi kita, Dinda. Mas juga sangat bersyukur memiliki istri soleha seperti Dinda yang terus giat mempelajari islam. Menyukai semua hal tentang islam. Begitu sami’na wa atho’na terhadap seruan Allah. Kamu yang mas pinta untuk menjadi bidadari surga mas kelak.” Aku mencium dahinya. Ia tenang, diam dalam pelukku.

Selasa, 10 Desember 2013

CERPEN KETIGA DI DAKWATUNA "AKU & SI MBAH

Aku dan Si Mbah
Entahlah! Rasanya tidak masuk akal bagiku ketika kudengar cerita Uwakku tentang Mbah Saif. Sosok yang belakangan ini kerap kudengar namanya dari mulut-mulut keluargaku, ah tidak! Sudah merembet pula rupanya pada tetangga kiri kanan rumahku. Pasalnya, cerita ini dimulai ketika seminggu yang lalu Uwak Tiur diminta untuk menemani salah seorang temannya di pabrik, pergi berobat.
Sudah sebulan belakangan ini, temannya itu merasakan sakit di kepala. Bermacam-macam obat sakit kepala yang dibelinya di kedai dekat rumah maupun pabrik, tak ada yang berhasil menyembuhkannya. Ke dokter, ia tak mau. Biaya mahal, diagnosa penyakit pun tak jelas menurutnya. Jadilah mereka pergi ke rumah Mbah Saif atas saran dari penjual obat dekat pabrik. Berdua dengan kereta, mereka melewati jalanan yang penuh dengan pohon-pohon tua. Hingga di ujung belokan jalan, tampak rumah panggung sesuai alamat yang diberikan penjual obat siang tadi.
“Ada paku-paku yang keluar dari kepala temenku itu. Berkarat, namun ada juga yang masih baru. Banyak! Ada 12 paku.”
“Seharusnya Wak ambil. Lumayan buat persediaan paku di rumah.”
“Asal kau tau, pakunya harus dibuang ke sungai atau ditanam. Bukan buat dipakai lagi. Nanti bisa kau pula yang kena santet!” Repet Wak Tiur padaku.
Uwak Tiur mempercayai kehebatan Mbah Saif, sebab mujurnya, esok tak ada lagi keluhan sakit di kepala yang keluar dari mulut temannya itu.
Cerita yang hebat itu mempengaruhi Bu Rustam. Mertuanya yang lumpuh, hendak ia bawa ke Mbah Saif agar sembuh dan bisa berjalan kembali. Hanya saja proses itu belum sempat ia lakukan, mengingat harus keluar kota selama tiga hari dalam tugas dinas. Tapi tak sama dengan Mpok Niluh. Ia begitu semangat membawa anak gadisnya bertemu Mbah Saif agar segera mendapat jodoh. Usia anak perawannya yang hampir kepala tiga itu ternyata membuat Mpok Niluh kalut tak dapat mantu.
Dari Mbah Saif mereka mendapat “oleh-oleh” bunga-bunga cantik untuk dimandikan, jamu untuk diminum, dan dibukakan aura. Aura apa coba? Bentuknya pun tak jelas! Aura yang kutahu, ya Aura Kasih penyanyi di TV. Namun lagi-lagi komentarku di pandang sinis.
“Bau kencur mana ngerti!”
Hebatnya lagi, penjual kedai nasi di depan kompleks rumahku jadi laris manis setelah mengunjungi Mbah Saif. Padahal dulunya sepi. Aku jadi penasaran bagaimana ia melakukan semua ini?
“Jadi bertambah rezekinya Uni,”
“Iya Alhamdulillah, Mbah Saif rancak!”
“Hm, ramai karena oleh-oleh Mbah Saif, atau karena harga yang diturunkan ya?” komentarku yang spontan itu mendapat cubitan dari Mama dan tatapan polos dari Uni.
***
Pagi-pagi perutku rasanya sakit sekali. Bajuku basah karena keringat dingin menahan sakit. Aku berteriak-teriak memanggil Mama, namun sampai suaraku tertahan di kerongkongan tak dapat di keluarkan, Mama tetap tak jua datang menghampiri. Kupecahkan saja gelas yang ada di meja untuk menarik perhatian. Dan berhasil! Mama datang.
“Ya Allah, kamu kenapa, Nak?”
“Sakit perut, Ma.”
“Sampai keringat dingin, Mama carikan obat dulu ya.”
Sepuluh menit berikutnya Mama kembali dengan obat sakit perut. Kuminum, lalu istirahat sejenak. Dua jam berikutnya aku berulah lagi. Perutku kembali sakit. Mama mencoba mengolesiku dengan minyak yang dicampur bawang merah, lalu aku disuruh tidur. Namun ulahku belum selesai sampai di situ, karena esok paginya aku merengek sakit perut lagi.
“Kita bawa ke tempat Mbah Saif aja, Yan,”
“Ke dokter saja lah kak Tiur.”
“Kau ini, dokter sekarang tak bisa dipercaya. Sudah, kutemani kau ke sana.”
Sepanjang jalan ke tempat Mbah Saif, Uwak Tiur mengomentari sikapku yang selama ini sering menjelek-jelekkan Mbah Saif. Uwakku yang tambun itu mengatakan, aku harus menyesali semua komentarku yang lalu, kalau nanti Mbah Saif berhasil menyembuhkanku.
Parahnya lagi, ia menduga sakit perut yang kualami karena kualat sering mengatai Mbah Saif. Ah, Uwakku itu, ternyata sudah banyak meninggalkan….
***
Kedatangan kami disambut seorang lelaki sepuh. Penampilan yang tercermin dari orang yang dibanggakan uwakku ini terlihat seperti layaknya seorang Kiai besar. Ia mempersilahkan kami masuk dan tak banyak basa-basi, langsung menanyakan sakitku.
“Sakit apa?”
“Perutnya Mbah, dari kemarin katanya sakit. Udah dikasih obat dan disapukan minyak bawang, tapi belum sembuh juga.”
“Golekkan dia di sini.”
Aku disuruh berbaring di hadapan lelaki sepuh ini. Ia memeriksa perutku yang di atasnya telah ia taruhkan kain sarung, lalu perlahan ia menarik sesuatu dari perutku.
“Bungkusan hitam?” Pekik Mama dengan penuh keheranan.
“Setelah ini langsung dibuang saja ke sungai. Besok kembali lagi.” Komentarnya singkat dan dingin.
Besoknya bukan bungkusan hitam tak jelas entah apa isinya lagi yang keluar dari perutku, tapi beberapa jarum patah yang semuanya berkarat. Mama bolak-balik istighfar melihatnya. Dihari ketiga kedatanganku, banyak tamu yang berkunjung mengharap kesembuhan dari Mbah Saif. Ada lima belas orang, tak terhitung dengan keluarga yang ikut mengantar. Ini waktu yang tepat bagiku untuk bertanya.
“Mbah, apa tanggapan mbah dengan riwayat hadis Imam Muslim yang isinya, Nabi Muhammad melarang mendatangi para kaahin?” Ia tak menjawab. Hanya memandangku semenit, lalu fokus dengan pasiennya.
“Lalu ada lagi riwayat Bukhari-Muslim, yang isinya nabi mengatakan bahwa kaahin itu bukan apa-apa’.”
“Tapi yang kukatakan benar dan sembuh.”
“Kalaupun apa yang dikatakana kaahin itu benar, itu adalah suatu kebenaran yang disambar oleh seorang jin lalu jin itu menjelaskannya kepada telinga walinya, lalu mereka mencampurnya dengan seratus kebohongan.” Kukatakan komentar itu sambil membaca buku catatan kecilku yang telah kutulis beberapa hari yang lalu dari sebuah sumber di internet.
Semua orang memandangiku. Tak terkecuali Mama dan Uwak Tiur. Aku masih tetap menampilkan wajah naifku sambil menatap Mbah Saif, menanti jawaban. Orang yang ditunggu jawabannya malah menatapku balik tak karuan.
“Kalau kau anggap aku salah, lalu kenapa kau datang padaku? Bukankan sholatmu tak akan diterima selama empat puluh hari?”
“Cerdas!” Aku tertawa sambil mendengar pertanyaan si Mbah.
“Sakit perut itu hanya modus saya agar bisa ketemu si Mbah. Jadi saya ikuti saja permainan Mbah yang malah mengeluarkan bungkusan hitam tak jelas, begitupun dengan paku-paku dari perut saya. Wong perut saya aman sentosa kok!”
“Lagi pula kalau saya tidak datang, maka uwak saya ini akan terus membanggakan Mbah di depan orang-orang. Itu artinya, akan semakin banyak orang yang salah jalur dan semakin banyak pula dosa yang berserakan. Saya mahasiswa ingusan berhak menegur dengan ilmu yang telah didapatkan.”
“Jadi bapak ibu, menutup rapat jalan yang menuju kerusakan itu lebih didahulukan daripada mengambil suatu manfaat. Kalau sakit, lebih halal datang ke dokter. Lebih baik kehilangan banyak uang daripada kehilangan surga.” Ceramahku mirip ustadzah. Semuanya diam. Sama halnya dengan Mbah Saif. Namun matanya lebih menyala ke arahku.
“Oya Mbah, jangan mempermalukan kita dengan memanfaatkan pakaina suci itu. Ayo Ma, Wak, kita pulang.” Ajakku tanpa mau berpanjang lebar urusan lagi.
“Tunggu, Nak! Kaahin itu apa ya?” Tanya salah seorang ibu pengunjung.
“Alamak, sudah dijelaskan panjang lebar, tak paham juga kah? Gawat ibu-ibu ini.” Batinku (*)
                                               
Medan, 2013


Senin, 17 Juni 2013

Puisi Pilar Aisyah di Dakwatuna "Kesatria 2020"


Kesatria 2020
Apa makna dari zaman milenia?
Jika yang kau dapat hanya kehedonisan semata.
Dimana ia prajurit Khandaq?
yang siap menahan lilitan lapar demi terbit sang fajar.
Di negeriku, pemuda-pemudi diarak.
Disuguhi teori-teori purbakala penipu dunia.
Mengagungkan logika di atas ketauhidannya.
Menampar empati dan simpati untuk eksistensi diri tak berarti.
Tidakkah kau cemburu pada serdadu badar?
Tidak mampukah kau petik arti perang uhud?
Tidakkah kau malu pada pemuda sejati bernama Muhammad?
Yang masih menyebutmu meski ruh telah sampai di kerongkongan.
Nun, jikalah cermin masih kau punya,
Tentu retak diri yang kau dapat.
Negeri tentu rindu sosok Al-Fatih.
Tak pelak, bersabarlah negeriku,
Aku yakin masih ada jiwa yang tak membatu.
Aku masih mendengar nurani berseru!
Meski parau terindikasi di telingaku,
Pemuda kesatria menakbirkan Indonesia emas 2020…
Riska H Akmal