Tampilkan postingan dengan label Qalb Aisyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Qalb Aisyah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 13 November 2014

Aku Ingin Bersamamu Selamanya


Assalamu’alaikum,
Hallo,
Anyeong,

Apa kabar semuanya?
Ah, rasanya waktu berlalu begitu cepat. Banyak jarak, ruang, dan waktu yang sekarang tercipta di antara kita. Bagaimana hari-hari kalian?
Seperti biasa, gadis sentimentil melankolis perfeksionis analisis narsis ini datang mengetuk branda kalian hanya sekedar untuk memaksa kalian membaca tulisan (nggak) PENTINGnya. Hahahha..
(Bagaimana ia harus memulainya?) *abaikan
Jika diingat-ingat (entah kalian mengingatnya) ini kali kedua gadis ini menulis tentang kalian, tentang kita. Bagaimana dulu tulisan itu berupa album kenangan untuk membuat awal mimpi selepas kita wisuda. Sekarang kita tengah melangkah berupaya mewujudkannya.
Tapi tulisan yang terurai ini tidak untuk membahas itu, melainkan kata-kata terimakasih dan rindu gadis ini untuk kalian.
Baiklah, gadis ini berharap kalian membacanya dengan benar :D
  •        Terimakasih itu bernama Wulan dan rindu itu bernama kedewasaan logika
Hallo kakak tertua? Bagaimana keadaan kota impianmu? Apa kau menemukan gadis sepertiku di sana? *kurasa tidak! karena messagesmu selalu mengatakan bahwa kau merindukanku… :8
Ada banyak waktu yang kita lewati dengan perbincangan yang lebih berat untuk dicerna tidak dengan sekedar candaan. Yang gadis ini pelajari darimu adalah keberanianmu dalam melangkah mengambil keputusan-keputusan. Meski kadang cukup riskan, tapi kau selalu menapakkan langkah pertamamu tanpa ragu. Kata kuncimu adalah logika. Kau selalu bangga memanggilku “Adeg Kedua Pilar Aisyahku”, dan aku menyukainya. Jalan hidupmu tidak mudah maka itu Allah mencurahkan kasih sayang yang lebih padamu. Kau orang baik, tapi tidak semua tindakanmu dapat gadis ini benarkan. Tentu saja kau perlu mendengar pendapat orang lain tentang itu. Namun, apapun yang orang-orang katakan tentangmu, gadis ini akan selalu menyaringnya. Bagaimanapun juga, 6 tahun mengenalmu membuatku paham akanmu. Kau, kakak tertua Pilar Khadijahku.
Gadis ini merindukan saat kita berdua menonton CD hingga larut malam di ruang TV sambil tertawa egois (mengabaikan orang rumah yang tengah tidur) demi menikmati film yang kita tonton. Atau menghabiskan waktu menyantap kolak durian dan steak blackpaper atau mushroom sederhana di kampus orang lain, dan banyak waktu gila lainnya bersama para PILAR. Love you :*

  •        Terimakasih itu bernama Rahmi dan rindu itu bernama perhatian   
Ah, pertama kali bertemu denganmu, gadis ini merasa ia akan memerlukan waktu yang cukup lama untuk akrab denganmu. Dengan kesoktahuan gadis ini, baginya kau tipikal orang yang akan fokus dengan orang-orang yang telah membuatmu nyaman saja. Istilahmu, kau katakana bahwa dirimu pemalu. Tapi menurut gadis ini, itu tidak sepenuhnya benar. Kau menyimpan kenarsisan yang terselubung sama seperti gadis ini.
Nggak ngerti juga bagaimana awalnya, sebab pada akhirnya kita begitu cepat akrab. Kau malah memanggil gadis kecil ini dengan sebutan kakak. Padahal jelas-jelas kau lebih tua 5 bulan dariku. Selain itu, posturku juga tidak mendukung untuk menjadi kakakmu. Namun aku menerimanya dengan perasaan narsis bahwa mungkin aku salah satu yang terbaik di hidupmu, sehingga kau menghormati gadis kecil ini dengan sapaan kakak.
Mendapati orang sepertimu di sisiku adalah hal yang menyenangkan. Banyak perhatian yang kau curahkan untuk gadis ini. Handphone silentku itu kerap bergetar lebih banyak memuat namamu. Sayangnya terkadang terlalu banyak terabaikan karena kebiasaan jelekku. Maafkan gadis ini… Kau benar-benar orang yang penuh perhatian dan kepedulian padaku. (*Meski kau lebih banyak mencintai Juni daripada aku :D). Namun tetap saja gadis ini merasa ia tidak memberikan perhatian yang setimpal padamu. Ya, gadis ini terlalu betah dengan style cueknya. Tapi kali ini gadis ini katakan, ia benar menyayangimu seperti adiknya sendiri.

Banyak masa telah kita habiskan dengan beat merahmu. Kau yang selalu setia bersamaku untuk pergi liqo bareng, maupun ketempat-tempat lainnya. Kepergianmu ke kota yang baru membuat waktu berkelana gadis ini hilang. Dan itu membuatku banyak merindukanmu.

            Aku selalu mengingat bagaimana kau mengurus dengan baik ketika gadis ini sakit saat perjalanan kita ke Sibolangit mengunjungi air terjun dwi warna. Kau menjaga tidurku, menyuapiku makan, mengusuk kakiku yang sakit, membalutku dengan selimut dan baju hangat, memberikanku obat. *Bukankah kau yang lebih pantas menjadi kakak? Momen itu, tidak akan pernah kulupakan. Kau orang yang paling suka memelukku. Jazakillah khairan katsiran. Love you :*


  •        Terimakasih itu bernama Tipa dan rindu itu bernama prepare.
Miss prepare mungkin itu julukan yang tepat untukmu. Kau yang selalu mempersiapkan segala sesuatu dan kemungkinan yang akan terjadi. Contoh hal kecilnya, selalu ada payung di tasmu untuk melawan cuaca panas dan hujan. :D Terkadang gadis ini tidak PD berjalan di kampus dengan payung saat terik menyapa, tapi kau begitu mengacuhkan dan selalu menarikku untuk berlindung di payung kalau kita sedang jalan bersama. Gadis ini juga banyak belajar tentang sikap keibuan yang kau miliki. Bagaimana kau memasak untuk adikmu. Ya, kala itu gadis ini menginap di rumahmu. Kau memasak sop, cumi goreng, dan (gadis ini lupa, apa gorengan itu bakwan? :D) sementara aku hanya membantu memotong bahan. Tapi, aku tidak begitu menikmati sopnya, sebab menurutku itu masih kurang matang. Namun menurutmu, begitu cara memasak sayur yang baik. *aku tak paham, hanya taunya makan aja :D
Saat gadis ini bersamamu, ia selalu merasa kau kakak baginya. Sebab itu gadis ini selalu menyukai kala kau memanggilnya dengan panggilan “Dedekku”. Ah, mengingatnya selalu membuatku tersenyum. Kadang kala, gadis ini juga merasa kita bisa lebih terbuka satu sama lain. Kabar terakhir darimu, kau sedang mengejar kebaikan untuk semakin dekat denganNya. Aku begitu bahagia mendengarnya. Semoga kita selalu mendapatkan keberkahan dariNya. Love you sista :*


  •        Terimakasih itu bernama Suci dan rindu itu bernama curhat.
Kalau berbicara tentangmu, tentu saja kau paling suka dibilang mirip sama gadis kecil ini. (apa gadis ini begitu manis?) *abaikan
Dirimu orang yang sangat peduli akan kesehatan, sangat terbalik denganku yang melanggar kepedulian itu hingga rentan sekali sakit. Saat bersamamu, aku benar menjadi aku. Aku tidak perduli dengan imageku. Aku mengeluarkan semua kenarsisanku padamu. (aku tidak peduli meski kau merasa ingin muntah sekalipun). Gadis ini juga obat buatmu. Kalau kau suntuk, kau akan menelpon gadis ini untuk mendengar suara cemprengnya dan lelucon kenarsisan rasa melonnya. *aku rasa kau akan merasa jauh lebih baik setelah itu karena kau selalu tertawa mendengar ocehanku.
Saat kuliah dulu, selalu kostmu yang jadi rumah keduaku. Sejujurnya bukan Formasi, karena aku jarang sekali menginap di PI (salah kalimat). Sedikit aneh, aku yang asli kota ini malah kerap menjadi Kak Toyiba dengan terlalu seringnya menginap di kostmu. Meski ujung-ujungnya bajumu kerap kupakai karena tidak pernah prepare untuk menginap. Ahhhaaa…Kita juga berkecimpung di dunia sastra (membuat kita sedikit lebih puitis dari yang lainnya). Kita selalu terlibat curhat tentang apapun. Tentang rasa yang paling purba sekalipun (cinta) tidak ada yang kita tutupi. Mungkin benar kalau kita Upel dan Ipel. Love you :*
  •      Terimakasih itu bernama Tika dan rindu itu bernama Gila hangout.
Ah, ini lagi! Kalau ditanya Si Riska dan Si Tika kemana? jawabannya tentu  sedang pergi melalak. Kadang dengan tujuan yang jelas, kadang juga absurd :D
Kita banyak menghabiskan waktu sama-sama. Selalu rela ngantar gadis ini pulang sampai rumah kalau waktu hangout kita melewati jam 8 malam. Ia bilang, titipapan-tembung/pancing udah terasa dekat aja jaraknya! ahahha…
Kita selalu berusaha jujur terbuka ngomongin apa yang kita suka dan nggak suka satu sama lain, karena menurut kita itu cara ampuh untuk menyelesaikan masalah. Diantara teman-teman yang lain, dia nih yang paling cemburuan kalau aku dekat sama orang lain. Ahahha… Takut banget kehilangan gadis kecil imut kayak ane bro?? *PD GILA!!
Hampir semua momen kita menyenangkan kecuali acara jutek dan ngambekan :D Jazakillah khair udah selalu care, sayang, dan cemas buat aku. Terimakasih juga udah mau menerimaku dengan segala bentuk kenarsisan yang kadang eneg di telinga. You said, “Please deh dek, jangan mulai lebay!” Ahahha.. Love you :* Oiya, mari kita order dimsum lagi dan pintu rumah ane selalu terbuka kalau ente mau nginep :D


  •      Terimakasih itu bernama Fitri dan rindu itu bernama easy going.
Kalau ditanya siapa teman yang asyik dibawa kemana aja, jawabannya tentu Fitroke :D Dia orang yang easy going banget meskipun kadang-kadang galak juga ya trok :v
Jalan-jalan kita selalu menyenangkan. Dulu kita suka berbagi banyak hal bareng-bareng, termasuk ngebahas artis (padahal nggak penting). Sekarang, rasanya sudah sangat jarang kita melakukannya. *Ayo kita mulai lagi. Hihihiii..
Oiya, gadis ini mau bilang terimakasih banget karena dirimu udah mau ikut repot dan ngejaga gadis ini waktu sakitnya kumat di drug center dan kost Intan. Sebenarnya saat itu, gadis ini merasa bahwa hari itu waktu terakhir baginya, itu benar-benar terasa sakit. T_T Meskipun demikian, gadis ini akan senang karena saat itu ia di kelilingi oleh sahabat-sahabat terbaiknya. Terimakasih juga karena tidak pernah meninggalkanku disaat aku menjadi orang aneh di mata orang-orang sekalipun. Jazakillah khairan Syahfitri moet, Love you :D


  •        Terimakasih itu bernama Dinda dan rindu itu bernama perfeksionis.
Memiliki tanggal lahir yang sama, namun kita ini kembar tapi beda ya kak? hehehe.. Kak Nda yang gadis ini kenal adalah orang yang semangat belajar, kreatif, dan kemauan buat majunya sangat besar. Ia ingin perfek di segala hal. *sama, saya juga. Aku senang melihat kakak semangat seperti itu, meskipun kami (sayup rindu gengges) jadi terabaikan T_T. (*apa sih? nggak penting) Maksudnya, meskipun kakak sedang sibuk S2 sekarang, jangan lupa jaga kesehatannya.. Jangan lupa makan, kalau begadang ngerjain tugas, harus banyak minum vitamin. Madu dan sari kurma atau obat habbatussaudah bagus untuk dikonsumsi.
Sebenarnya dengan kesibukan kakak yang konsen dikuliah saat ini, membuat gadis ini berpikir bahwa kakak nggak akan sempat baca tulisan yang gadis ini buat, tapi meskipun begitu gadis ini berkeyakinan kalau teman-teman yang lain akan menyampaikan isi tulisan ini ke kakak. *PD. Kalau bosen, calling-calling kita buat refreshing bareng. Dan, mari kita rayakan ulang tahun kita bersama lagi tahun depan :D *Semangat sukses dan sayang buat Kak Nda. Love you :*


  •        Terimakasih itu bernama Nisa dan rindu itu bernama error.
Nisa (aka Maghfiratun Nisa) (aka Mak Tun) (aka Mak’e) gadis error *ralat: Emak Error (karena sekarang udah punya Baby Goldie) yang pernah aku kenal. Sebenarnya soal keeroran kita beda tipis sih. Kadang-kadang kita sama-sama suka telmi, tapi kadang-kadang juga narsis tingkat muntah. Kalau udah kumat, suka messages narsis bin aneh ke orang-orang. Maniak buku juga.

Diantara teman-teman yang ada di sini, kita yang paling lama saling kenal ya, Mak? kira-kira udah 8 tahun. Dan selama perkenalan itu pula yang paling nggak berubah adalah kenarsisanmu. Lain kali, mari kita duet narsis Mak. Ahahahaa..


Tapi gadis ini salut samamu mak. Dirimu termasuk bergerak cepat dalam kebaikan. Baik itu soal hijrah, maupun soal pernikahan. Mari rawat baby Goldie dengan baik. Supaya kalau gathering Formasi Kid’s nanti Goldie bisa jadi kandidat terkuat dengan bilang, “Woi, ente anak gen berapa? papa ane penggagas sekaligus gen pertama di Formasi. Mama ane juga turunan ke tiganya. Ane darah murni di Formasi! *ngikut film yang kekinian. Darah murni darah suci. Wkwkwkwk..


“Eits, tunggu dulu! Antum bukan just the one. Ane juga darah murni. Abi ane keturunan ketiga dan ummi ane keturunan keempat. *(calon anak Arif dan Heny). :D Love you Mak’e :*


  •        Terimakasih itu bernama Fida dan rindu itu bernama duo imut.
Kalau ada yang bisa ngalahin imyutnya aku, tentu jawabannya gadis jalan pukat ini. Sebenarnya secara postur, gelar upel ipel ini lebih cocok antara gadis titipapan dan jalan pukat dari pada dengan gadis rampah (Suci). Dimulai dari tinggi, kacamata, penampilan, dan imutnya 11-12.

Ingat nggak panggilan emak dan anak yang kita gunakan kalau lagi saling nge-joke? Ane punya versi barunya,

Emak: “Aduh Nak, kan udah mamak bilang jangan makan bakso bakar aja, sakit perutnya kan? Mamak cubit nanti ya!”
Anak: “Jangan khawatir mak, sekarang ada kabar bahagia. Anak emak udah jual herbal. Jadi nggak khawatir sakit lagi.”
Emak: “Termasuk buah manggis yang ada ekstraknya?”Anak: “LOL”


Momen yang aku suka juga waktu kita makan durian berhias badai hujan. Beneran deh itu momen yang sweet dan nyenengin banget! Ya meskipun ujung-ujungnya pulang dengan kuyup. Hehehe… Semoga lain kali bisa melewatkan momen menyenangkan seperti itu lagi. Go Ucok duren go.. *loh??? love you :*
            
  •         Terimakasih itu bernama Juni dan rindu itu bernama kerja dakwah.

Juni gadis pintar, soleha, dan baik yang kukenal. Gadis ini banyak belajar tentang semangat dakwah dan sharing ilmu agama dengannya. Penampilannya sederhana, ia juga memiliki kegemaran menulis. *Makanya aku membiarkan Rahmi lebih baik dengannya daripada denganku. Karena Juni memang lebih baik dariku :D
Aku suka menghabiskan waktu bersamanya di kereta api saat jadi freelance tester di Kisaran. Malamnya kami suka sharing sebelum terlelap. Gadis ini senang karena dirimu menyukai panggilan khusus yang gadis ini buat untukmu. Bahkan salah satu accountmu bernikname Junkusay. Singkatan dari yang kubuat (Juniku sayang). Semoga terus saling mengingatkan dalam kebaikan. Love you Junkusay :*   *Ayolah Junkusay, jadi Murobbiku \(0_0)/



  •         Terimakasih itu bernama Intan dan rindu itu bernama innocent.
Kalau bercerita tentang Intan ssi yang wajahnya mirip artis ibukota Aura Kasih ini, maka tentu saja itu Korean style. (Ah, Nuna aku sangat lapar. Bisakah kau memasakkanku kimchi? :D)

Intan nuna orang yang sedikit sensitif, aku suka menggodanya dengan guyonan. Kalau dapat kiriman ikan teri kacang dari ommanya di Aceh, maka ia yang alergi ikan teri akan menepikannya. Meninggalkannya untukku. (Padahal Nuna, aku juga lebih suka kacangnya dari pada teri itu!)


Aku menyukai boneka turtle miliknya. Itu sangat cantik. Gadis kecil ini suka memeluknya saat nginap di kost Intan Nuna gara-gara melihat drama/video Korea. *Kelihatan banget Kak Toyiba gadis kecil ini karena selalu menginap di kost orang. (Mari lain kali kita melihat filmnya bersama lagi nuna :D) Love you nuna :*


  •         Terimakasih itu bernama Putri dan rindu itu bernama nyanyian.
Sudah lama sekali lost contact dengan ia yang gadis ini panggil Bubun. Bubun (aka Bunda) karena sosoknya yang keibuan dan terlihat dewasa. Gadis ini suka belajar tehnik bernyanyi denganmu yang memang memiliki suara yang bagus. Sebenarnya gadis ini tidak benar-benar tahu bagaimana keadaanmu sekarang, maka dari itu, mari kita hangout bareng lagi dengan yang lainnya :D love you bubun :*


  •         Terimakasih itu bernama Lini dan rindu itu bernama jalinan.
Sejujurnya kita tidak terlalu dekat. Namun kita juga lumayan sering melewati momen bersama sayup rindu (Fitri, Tipa, Dinda, Nisa, Intan, Putri). Maka dari itu gadis kecil ini menamakan rindu itu dengan jalinan. Meskipun kita berbeda, namun kita saling menghormati. Itu yang membuat kita menjadi berbahagia bersama. love you :*


            Tak lupa pula untuk sahabatku yang lainnya. Untuk teman-teman masa kanak-kanak, terimakasih telah menjadi sahabat yang apa adanya dengan kepolosan kita. Untuk teman-teman menengah, terimakasih sudah menjadi sahabat melewati masa pubertas yang positif. Untuk teman-teman tingkat atas, terimakasih sudah menjadi sahabat yang mengajarkanku untuk memahami karakter setiap individu.   Love you all :*:*:*
Hm, nggak terasa sudah 12 lembar gadis ini menulis. Apapun yang gadis kecil ini tulis, ini hanya ungkapan terimakasihnya. Afwan jiddan kalau ada kata-kata yang kurang berkenan. Bagaimanapun juga, gadis kecil ini hanya seorang Riska. Just Riska! Seorang Riska yang seperti menipu usianya sendiri karena selalu dipanggil Adek oleh kalian (kecuali Rahmi).
Bersama kalian aku hidup, bersama kalian aku belajar memahami, menghargai, dan memaklumi perbedaan. Bersama kalian aku melangkah, bersama kalian aku ada dan menjadi berarti. Jazakillah khair karena telah mewarnai hidupku. Dan aku berterimakasih pada Allah atas takdir ini. Mari tetap membersamai dan melangkah dalam kebaikan.

Ketika tunas ini tumbuh, serupa tubuh yang mengakar.
Setiap nafas yang terhmbus adalah kata.
Angan, debur, dan emosi bersatu dalam jubah keterpautan.
Tangan kita terikat, lidah kita menyatu, maka setiap apa yang terucap adalah sabda pendita ratu.
Di luar itu pasir, di luar itu debu.
Hanya pasir meniup saja lalu terbang tak ada.
Tapi kita tetap menari, tarian hanya kita yang tahu.
Jiwa ini tandu, maka duduk saja, maka akan kita bawa semua,
karena kita adalah satu. (Aku ingin bersamamu selamanya, AADC 2002)




                                                                                                With Love,

                                                                               

            Riska H Akmal


Selasa, 02 September 2014

Belajar Tentang Kamu


Assalamu'alaikum,


Hari-hari terus bergulir, berjalan menurut titah TuhanNya.
dan dalam hari-hari itu pula secara bersamaan terus mempertanyakan kesetiaanku padamu,
pada keyakinan yang kupercayakan bahwa kaulah yang memang akan hadir membawa kisah kita menuju keridhoanNya.

Ini sedikit aneh, tak salah juga bila dikatakan sedikit gila. Aku mempercayakanmu untuk menjemputku dalam ikatan suci. Sementara, aku sendiri tak tahu banyak tentangmu. Bahkan tak tahu dimana keberadaanmu sekarang. Aku hanya mengenalmu lewat jejak-jejak tulisan yang kau torehkan. Aku membaca pribadimu dari apa yang kau tulis di dalam medsos pribadimu. Oh, tidak-tidak! ini bukan tentang kisah dunia maya. Aku mengetahui sosokmu dengan jelas. Ya, paling tidak kita pernah bertemu tiga kali meski tanpa ada sepatah kata dan sapa yang terlontar. Dan dalam waktu yang sedikit itu, aku belajar tentangmu.
Tentangmu yang aktif di beberapa organisasi islam bahkan pernah diamanahkan sebagai sosok nomor satu. Tentangmu yang ternyata juga suka menulis dan mengutip kepingan-kepingan hikmah dalam hidup.
Tentangmu yang tak mengumbar pesona, meski karena itu kau malah jadi mempesona.
Tentang kebiasaanmu duduk di majelis ilmu, tentang kesederhanaanmu, tentang cara pikirmu, tentang bagaimana kau memahami sesuatu, tentang kepedulian dan cintamu pada dien rahmatan lil 'alamin.
Sementara bagaimana aku dimatamu, aku sendiri tidak tahu. Atau bahkan, tak ada kata aku di memorimu?
Semua itu tidak menjadi masalah bagiku. Karena itu memang hal yang baik untuk kau jalani. Biar cinta itu murni, perawan, dan semata karenaNya.

Sepertinya aku terlihat terobsesi padamu. Tapi tidak demikian. Karena meskipun pengharapan itu ada bersamamu, namun ketetapanNya lebih harus dicintai.
Aku hanya terlanjur mengetahuimu. Terlanjur melihat kepadamu, karena bagaimanapun, tentu aku mengharapkan lelaki yang tak hanya sekedar baik, namun Lelaki yang mencintaiku karena tuhanNya. Lelaki yang mencintai Allah dan Rosulnya tidak hanya sekedar dengan kata, tapi juga melaksanakannya dengan cinta. Dan aku yakin, masih ada seseorang dengan cinta yang demikian. Seperti yang Allah firmankan, “Wanita baik-baik untuk laki-laki baik-baik.” Karena keyakinan akan firmanNya itu aku selalu berusaha menjadi wanita yang baik di hadapan Allah. Agar kelak, aku mempunyai keluarga yang penuh cinta terhadapNya.

Aku tidak tahu apakah cinta seperti ibunda Fatimah dan khalifah Ali yang kudambakan ini, Allah ridhoi juga menjadi kisahku. Jujur, lamaran-lamaran yang telah datang tak bisa kusambut dengan ahlan wa sahlan. Lamaran itu tertolak karena keyakinan cinta itu menuju padamu.

Saat kefuturan datang, saat keimanan yang tak statis itu berada di bawah, saat totalitas di jalan kebaikan itu memudar, keresahan itu pun datang. Aku resah bila tak pantas membersamaimu. Bersebab jodoh berbanding lurus kan? Karena keyakinanku meski tak terjangkau pandanganku, kau terus dijalan kebaikan. Seperti janjimu untuk tetap menggali ilmu dan menjadi manusia yang bermanfaat bagi kebanyakan orang.

Belajar tentangmu, mengetahui tentangmu, seperti suatu kebaikan sendiri buatku. Karena itu adalah sebaik-baik perkara. Adalah suatu kebaikan bila cinta kita menggiatkan cinta kita pula padaNya. Bila esok saat waktu tak menjawab harap, aku hanya bisa mendo'akan kebaikan untukmu. Kebahagiaan dan kepantasaanmu mendapatkan yang terbaik dariNya. Namun bila Allah memiliki keridhoan akan kita, itu semua bukan karena aku, tapi karena kebersediaanmu menerimaku apa adanya. Kurayu Tuhan bukan semata karena cintaku padamu, namun karena keinginanku bertemu denganNya di jannah melaluimu.


Ada ia yang meskipun kini bayangnya menghilang, namun kuyakin Allah akan menuntunmu untuk pulang ke rumah yang telah kusucikan..

                                                                                                              *Sepertiga malam yang merindu


Senin, 28 April 2014

Cerpen Ke-6 di Dakwatuna


Kutemui dan Kunikahi Engkau di Masjid
(Masjid, ich bin verliebt)

            Siang itu, cuaca tidak terlalu baik. Musim dingin di Berlin mencapai -0,5̊ C. Jalanan kota tampak lengang, bisa di tebak separuh penduduk kota ini sedang berada di depan perapian masing-masing, menghangatkan diri. Aku tiba di Masjid Umar Bin Khatabb jam dua belas. Masih ada waktu kosong dua jam sebelum jadwal mengajar Al-Quranku di Masjid ini. Untung saja masjid ini memiliki restoran ditingkat atas, sehingga aku tidak perlu keluar lagi untuk mencari makan siang.
            Masjid yang di resmikan pada 21 Mei 2010 ini terdiri dari tujuh lantai. Dua lantai untuk tempat sholat dengan daya tampung seribu jamaah. Di setiap lantainya, terdapat fasilitas umum seperti kantor jasa perjalanan, sekolah Alquran dan Bahasa Arab bagi anak-anak, toko buku, cafe, restoran, jasa pelayanan kematian bagi umat muslim, hingga toko daging halal pun ada.
Aku memesan Kohlsuppe (sup kol) dan Erbsensuppe (sup kacang polong) dan teh hangat.
            “Assalamu’alaikum, Mas Faris,”
            “Wa’alaikum salam. Hafiz? Lama tidak bertemu. Kamu di German juga? Habis dari mana?”
            “Habis dari toko buku, Mas. Senang sekali bisa bertemu dengan Mas Faris di sini. Bertemu dengan saudara setanah air itu ibarat bertemu telaga surga. Sejuk.” Ia sumringah sekali.
            “Sudah lama di German, Fiz? Study di sini?”
            “Lah, mas ini tinggal di German kok bahasanya Inggris? Ia mas, baru tahun kedua. Kedokteran. Do’a kan ya biar lancar.”
            “Udah tahun kedua kok ketemunya baru sekarang ya?”
            “Kalau itu, jawabannya bisa ada beberapa kemungkinan mas. Kalau ndak saya atau mas yang sibuk, berarti memang baru ini takdirnya untuk ketemu. Hehehe..”
            “Kamu kenapa nggak ngabarin mas? O ya, kamu sudah pesan makanan? ayo pesan, biar mas yang traktir. Biasanya kan kantong anak kuliahan terbatas bulanan.” Candaku.
            “Ah, sampean ini mas. Pengertiannya menusuk hati sekali. Hehe..”
            Benar yang Hafiz katakan, bertemu saudara sendiri seperti menemui telaga surga. Sejuk. Dinginnya cuaca pun berganti hangat tawa. Hafiz, adik sepupuku dari Malang Surabaya ini bercerita banyak tentang pengalaman tahun pertamanya di kampus dan tinggal di German. Setelah sholat zuhur, aku pun mengajak Hafiz turut serta bersamaku mengajar anak-anak mengaji Al-Qur’an. Dua jam berlalu. Setelah sholat ashar berjamaah, murid-muridku pun pamit pulang. Aku senang dengan semangat mereka belajar mengaji. Meskipun cuaca dingin, mereka tetap hadir untuk mempelajari kalam Qur’an. Aku pun berjanji mengajak mereka liburan setelah musim dingin berlalu, sebagai reward atas semangat mereka.
            “Kalau begitu, saya pamit pulang ke asrama ya, Mas.”
            “Kalau kamu mau, kamu bisa tinggal sama mas. Mas kan tinggal sendiri di sini.”
            “Makanya Mas Faris harus menikah biar tidak tinggal sendiri lagi. Sudah 25 tahun kan? Ganteng, soleh, mapan pula. Tunggu apa lagi?”
            “Tunggu jodohnya, hehe..”
***
Turun ke lantai satu ruang sholat, aku dan Hafiz berpapasan dengan Sarah yang tengah memeluk seorang wanita. Wanita itu menangis sesengkuan di bahunya.
“Ru..qaya?” Panggil Hafiz sedikit ragu. Wanita yang berada dalam pelukan Sarah berpaling melihat ke arah Hafiz.
“Kamu kenapa menangis?”
Wanita yang bernama Ruqaya itu menghapus air mata dengan jemarinya. Ia tersenyum ke arah Hafiz dan aku, “Insya Allah, Alles Gute.”
“Katakanlah, bukankah kita teman?”
Sarah mengajak kami untuk berbincang di kafe. Di sana Ruqaya menceritakan sebab tangisannya kepadaku dan Hafiz. Ruqaya yang bernama asli Natalia Anne Muller, berasal dari keluarga nasrani yang taat. Setengah tahun yang lalu ia menjadi mualaf di Masjid Umar Bin Khatabb karena tersentuh oleh bacaan Al-Qur’an seorang pemuda yang ia dengar. Padahal saat itu, ia datang ke Masjid Umar hanya untuk melihat interior dan kemegahan masjid baru ini.
Setelah itu, ia pun kerap datang ke masjid ini, dan disitulah ia berjumpa dengan Sarah. Karena sering mengobrol dan bertanya ini itu tentang islam, mereka pun akhirnya menjadi teman akrab. Sarah yang tiga tahun lebih tua dari Ruqaya, sudah menganggap Ruqaya seperti adiknya sendiri. Lima bulan perjalanannya sebagai mualaf, Ruqaya sudah hafal juz amma. Ia dibantu Ustadzah Yasmin, salah satu staf konsultasi masjid Umar. Namun di tengah proses  belajarnya sebagai muslim, sebulan yang lalu rahasia kemuslimannya pun diketahui oleh keluarganya.
Ketika itu, Ruqaya sedang sholat maghrib di kamarnya. Di tengah sholat, ayahnya memanggil dan mengetuk pintu kamar. Karena Ruqaya tidak menjawab, ayahnya pun membuka pintu kamarnya.
“Natalia!” Teriak ayahnya, murka. Namun Ruqaya tak menjawab, ia tetap tenang dalam tasyahud akhirnya. Ia tak merespon teriakan ayahnya sampai sholatnya selesai.
“Sudah kuduga ada yang lain dari dirimu. Mengapa tadi kau tak ikut makanan siang bersama. Beberapa minggu yang lalu temanku juga menelepon mengatakan bahwa ia melihatmu memasuki Masjid. Aku pikir ia hanya salah orang, tetapi sekarang aku melihat dengan mata kepalaku sendiri! Kamu akan mendapatkan hukuman atas ini, Nat! Ayo ikut Ayah!”
“Ayah, setiap orang bebas memeluk agama yang ia yakini kebenarannya.”
“Mungkin untuk orang lain bisa, tapi kau anakku! aku yang mengatur hidupmu!”
Saat itu juga, ayahnya memukuli, menarik paksa dan menyeret Ruqaya ke gudang. Ia dibiarkan tinggal di sana. Bahkan, tak ada yang memberinya makan malam. Keadaannya cukup lemas karena saat berbuka puasa sunah tadi, ia hanya meminum seteguk teh. Di hari ketiga, ibunya diam-diam memberinya selimut, beberapa potong roti dan segelas susu. Ia tidak tega melihat Ruqaya tidur di lantai tanpa beralas apapun di musim dingin ini. Ruqaya merasa lega, karena ibunya tidak membenci dirinya atas pilihan hidup yang ia ambil.
“Bila menurutmu ini yang terbaik untuk kau jalani, maka laluilah dengan keimananmu, Nak. Semoga Tuhan menjagamu.”
Hari berikutnya, ayahnya memperlakukan Ruqaya seperti budak. Ia disuruh kerja ini itu, tanpa memberinya waktu istirahat dan makan yang cukup. Melihat keadaan Ruqaya yang semakin mengenaskan, tadi malam ibunya menyuruh Ruqaya untuk pergi dari rumah. Ia tidak ingin Ruqaya diperlakukan terus-terusan seperti itu. Kalau Ayahnya nekat, bisa saja sewaktu – waktu ia menjual Ruqaya. Aku dan Hafiz terdiam mendengar penuturannya. Aku pandang Ruqaya sekilas, ada memar di pelipisnya. Hafiz, tiba-tiba menarikku sedikit menjauh dari Sarah dan Ruqaya.
“Ada apa, Fiz?”
“Mas, saya pikir kamu sudah menemukan jodohmu,”
“Maksudmu Ruqaya?”
“Mas, saya berani menjamin bahwa ia wanita yang baik, bahkan jauh sebelum ia menjadi mualaf. Apalagi setelah sedemikiannya cobaan yang dia hadapi demi hijrahnya.”
Aku tersenyum, “Tidak usah khawatir, sebelum kamu minta, tadi juga sudah terlintas dipikiran mas. Bagaimanapun juga, menyelamatkan jiwa seorang muslim itu wajib.”
“Alhamdulillah, saya memang tidak salah mengagumi orang.”
Aku dan Hafiz kembali ke meja kami. Dengan Bismillah kuutarakan niatku, “Saya tidak tahu, apa hal yang saya sampaikan ini cukup membantu atau tidak, tetapi bila diizinkan, saya bermaksud menawarkan diri saya untuk menikahimu, Ruqaya.”
Sarah tampak kaget, namun sedetik kemudian tersenyum, Hafiz tampak bersemangat sekali, dan Ruqaya malah menangis memeluk Sarah. Apa ia tidak suka?
“Kalau kamu tidak setuju juga tidak apa, tapi kumohon jangan menangis,” Ucapku merasa bersalah.
“Ia terharu. Ini tangis bahagia, bukan bersedih Faris.” Jelas Sarah. Aku hanya ber ‘O’ saja sementara Hafiz menertawaiku. Alhamdulillah.
Saat itu juga aku mengabari staf Masjid Umar bin Khatabb untuk proses akad besok. Ruqaya ingin menikah di masjid ini. Karena aku juga mengajar di masjid ini, jadi banyak pihak yang turut membantu dengan suka rela pernikahan kami.
***
“Wah, cakep sekali sampean, Mas. Makin keluar nih aura kebahagiaan calon pengantin.” Goda Hafiz saat melihatku keluar kamar dengan pakaian pengantin.
“Dari dulu mas memang sudah cakep. Hehehe..” Karena kejadian semalam, Hafiz tidak jadi pulang ke asrama. Ia menginap di rumahku untuk membantu proses acara hari ini. Ruqaya sendiri menginap di apartemen Sarah. Jam sembilan kami tiba di masjid dan langsung proses akad dilaksanakan.
“Saya terima nikah dan kawinnya Ruqaya binti Jhon Muller dengan mas kawin seperangkat alat sholat, sebuah Al-Quran, dan uang sebesar 15.000 Euro dibayar tunai.”
“Sah? Barakallahulaka..,”
***
“Mas, kita ngaji bareng yuk?” Ajakmu setelah kita sholat subuh bersama. Aku tersenyum mendengarnya. Istriku tercinta langsung mengambil dua Al-Quran yang terletak di atas meja kerjaku.
“Mas yang baca terlebih dahulu, setelah itu baru saya.”
Aku memulai dengan ta'awudz dan basmalah. Kubaca surah Ar-Rahman. Hingga pada kalimat, “Maka nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang kau dustakan” Ruqaya menangis. Terus menangis sesengkuan.
Aku memberhentikan bacaanku, “Kamu tidak apa-apa Dinda?”
“Saya merasa bersyukur sekali dengan nikmat yang Allah berikan. Kamu tahu mas, kamu adalah jembatan cahaya dari cahaya yang kudapatkan.”
“Maksud Dinda?
“Kamu tahu kan saya mendapat hidayah untuk memeluk islam karena mendengar bacaan Al-Quran di masjid Umar? dan orang yang membaca Al-Quran itu adalah kamu mas. Dan saya tidak menyangka karena pada akhirnya kamu juga yang menyelamatkan hidup saya dari keterasingan keluarga sendiri. Kamu memuliakan saya dengan menjadikan saya pendamping hidupmu. Maka nikmat Allah yang mana lagi yang saya dustakan? Allah sangat menyayangi saya.” Ucapnya masih dengan tangis sesengkuan.

“Allah menyayangi kita, Dinda. Mas juga sangat bersyukur memiliki istri soleha seperti Dinda yang terus giat mempelajari islam. Menyukai semua hal tentang islam. Begitu sami’na wa atho’na terhadap seruan Allah. Kamu yang mas pinta untuk menjadi bidadari surga mas kelak.” Aku mencium dahinya. Ia tenang, diam dalam pelukku.

Jumat, 28 Desember 2012

Belajar Cinta Dari Sumber Cinta






Di dunia ini, banyak kisah cinta yang bisa kita tauladani. Yang bisa kita ambil hikmah dan pelajaran bagaimana mereka memaknai cinta, menghidupkan cinta, dan saling salih menshalihkan cinta sesuai dengan titah cinta itu sendiri.

Sebut saja kisah cinta Nabi kita Muhammad SAW dan Ibunda Khadijah r.a. Pelajaran cinta pertama bahwa perbedaan usia bukan halangan dalam cinta. Perbedaan kepemilikan harta bukan keterbatasan cinta. Ia berbicara tentang jiwa yang putih, suci, dan syahdu. Tentang jiwa-jiwa yang saling memanggil dalam keimanan. Betapa anggun dan dewasanya Ibunda khadijah. Sosoknya hadir menguatkan sang nabi dalam masa-masa perjuangan Islam yang berat kala wahyu telah diturunkan.
Cintanya mewangi, suci, dan abadi hingga hayatnya.

Hadir pula romansa baru kisah dari Nabi Muhammad dan Ibunda Aisyah r.a. Masa-masa kesedihan Rasul, dihadiahkan Allah dengan hadirnya sosok periang, manja dan cerdas. Menghibur jiwa yang basah. membuat hari-hari menyenangkan dan berlimpah ilmu pengetahuan pembawa keberkahan. Dari Ibunda Aisyah kita juga belajar pentingnya menyenangkan hati suami, dan cemburu yang natural dalam cinta. Sekali lagi, perbedaan usia bukan halangan dalam cinta. Ia tentang jiwa-jiwa yang saling memanggil dalam keimanan. Ibunda Aisyah yang cerdas, membakar semangat diri bahwa perempuan juga penting mengenyam pendidikan dan sejajar dengan ikhwan dalam ilmu pengetahuan.

Tauladan cintanya turun kepada anak tercinta, Fatimah Az-Zahra r.a dan Ali bin Abi Thalib r.a. "Tidak ada lelaki sejantan Ali!" pepatah Arab yang bersumber dari betapa agungnya cinta yang khalifah Ali miliki untuk Ibunda Fatimah. Ikhlas dalam mencinta dan hanya memupuk cinta untuk di bawa ke altar suci pernikahan. Menutup rapat rasa yang fitrah sanking takutnya dosa dan terjerumus dalam nafsu goda syaitan. Cinta yang dibungkus dengan rasa malu dan kepatuhan pada Tuhan. Tak ada keluhan yang keluar meski hari-hari hidup menyederhana. Saling memahami dalam menjaga luhurnya cinta. Hingga akhir hayat, tak ada yang mendua. Kisah cinta mereka mewangi, suci, dan abadi. Ibunda Fatimah, wanita penghulu di surga.

Yang masanya lebih dekat denganku, kutemui cinta serupa dalam kisah Pak Habibie (Presiden ke 3 RI) dan Ibu Ainun. Seperti takdir Tuhan yang memanggil jiwa-jiwa dalam keimanan untuk menyatu, Pak Habibie melabuhkan cintanya  pada teman SMP gula jawanya yang berubah menjadi gula pasir, Ibu Ainun. Hari-hari berjalan, meretaskan tali ketidakmampuan dan keterbatasan untuk meraih tambatan hati. Cinta yang lugu, putih dan suci. Seperti Ibunda Fatimah, tak ada keluhan yang keluar dari Ibu Ainun meski hari-hari hidup menyederhana di negeri orang. Mampu merengkuh sisi 'keras kepalanya' Pak Habibie dengan sikap tegasnya dalam wujud cinta. Tak ingin membebani suami, bahkan tetap menciptakan zona save buat orang yang ia cintai meskipun ia sendiri tengah terengah dengan sakitnya. Hingga hayat kisah mereka melukiskan sejarah. Mereka menunggal dalam do'a yang dipanjatkan Pak Habibie pada Sang Maha Cinta, "Terimakasih ya Rabb, Engkau telah ciptakan Ainun untuk saya, dan saya untuk Ainun." Cintanya mewangi, suci, dan abadi hingga hayat.

Masih banyak kisah cinta yang menggetarkan keimanan hati lainnya. Semisal kisah Salman Al-farizi, khalifah Utsman bin Affan dengan Ummu Kultsum, dan juga sahabat-sahabat Nabi lainnya. Semuanya membuka mataku untuk berkenalan dengan cinta. KIsah-kisah di atas adalah kitab cinta yang kupilih menjadi refrensi dalam membangun dan menjalani cinta dengan pasangan jiwa kelak. Mempersiapkan diri mengenali jiwa-jiwa yang saling memanggil dalam keimanan. Hingga akhir cinta itu suci, abadi dan mewangi. Mensejarah, biar tak di bumi, tapi terkenal di langit. Aamiin..

Senin, 26 November 2012

Qalb

Apa yang bisa kujelaskan mengenai kamu?
Mengenai pribadimu yang mungkin sama saja dengan ikhwan pada khususnya, dan lelaki pada umumnya.

Setiap kita, aku rasa perlu untuk mengenal cinta sebelum menjadi pelaku cinta. Mengenal wajah cinta yang akan kita pilih dengan hati yang tenang untuk menemani detik-detik yang bergulir dengan bahagia.

Jujur saja, aku tak tahu apakah setiap perempuan yang telah memasuki usia 20 tahun-an akan segera memasukkan kata "menikah" pada pemetaan brain-nya. Namun yang secara pasti dapatku katakan, setiap orang tentu ingin menikah, mengingat hal tersebut merupakan sunatullah. Sebuah cinta juga akan menjadi cinta jika telah menghalalkan cinta melalui ikatan suci pernikahan.

Mungkin, aku telah mengenal cinta ketika kulihat kamu yang menarik hati diantara milyaran manusia berjenis lelaki. Hanya sayangnya, aku tak bisa menetapkan apakah cintaku juga menjadi cinta yang diridhokan Allah? Sebab ini baru sebatas kekaguman tanpa ikatan. Sebatas cinta yang belum bermuara dengan sempurna. Sebatas harap untuk menghimpun hati yang berserakan. Yang pasti, ini tidak lagi menjadi sebatas kala kau  telah memutuskan datang untuk menadzhar padaku.

Aku, mungkin menginginkan kamu yang kulihat sederhana, santun, aktivis yang memiliki jiwa sosial yang tinggi, yang mencintai Allah dan kekasihNya, yang patuh pada ibu dan ayahmu, yang merindukan syahid di jalanNya, yang berjuang untuk kejayaan islam, yang selalu meleburkan diri pada tahajud dan dhuha,  juga selalu menyempatkan tilawah meski aktivitas yang kau lalui padat untuk memikirkan kebaikan islam. Sekali lagi, aku mungkin menginginkanmu, tapi mengangan-angankanmu bukan hal yang diajarkan agama kita. Dan mauku belum tentu menjadi maunya Allah sang pengatur jodoh..

Maka yang bisa kupinta, datanglah...
Kenalkan aku pada jiwa yang patuh pada Tuhannya..
Bawa aku mengiringi hari-harimu yang penuh cinta dan kebaikan...
Aku di sini masih berjuang sendiri untuk tetap istiqomah, tawaduq dan zuhud.
Fluktuasi ketiganya terus menghantam hebat, hingga kurasa, aku butuh penyegar jiwa.
Bersama pasangan suci, kuharap bisa mengokohkan segalanya.
Agar semua tak lagi menjadi sebatas...
 

Cinta itu tidak mengenal musim, tidak mengenal perbedaan, dan akan sangat mengenal pelakunya.

#Karena aku sedang mencintai

Sabtu, 07 Januari 2012

Pembelajaran Untuk Memaknai Secara Benar


Cinta, mengapa pesonanya tak mampu terhapus oleh apapun jua? Ia tak mengenal sasaran. Siapapun pernah dan berhak mengalaminya. Bahkan seorang Akhwat dan Ikhwan sekalipun. Hanya saja, tentu berbeda cara merespon cinta antara ia yang telah mengenyam tarbiyah dengan ia yang tidak.
“Bukan karena mencintai seseorang kita akan menderita. Namun, ketika kita mengartikan cinta itu pada sisi kehadiran dan kebersamaan, maka itu lah penderitaan yang tercipta. Aku telah memutuskan untuk mencintainya. Aku pun telah memutuskan untuk mengagumi sosoknya. Perlu waktu yang cukup lama untukku belajar, bahwa cintaku juga harus bahagia. Maka aku akan menciptakan atmosfir kebahagiaan itu seorang diri, tanpa membutuhkan kehadiran orang yang kucintai, juga tanpa membutuhkan  balasan perasaan yang sama darinya. Karena aku pun telah memutuskan untuk mencintainya dalam diam. Dan dalam diam itu akan kusampaikan secara perlahan tiap-tiap gejolak yang kurasakan melalui hempasan angin, kicauan beburung, canda ilalang, deburan ombak, butiran debu, laju awan, butiran hujan, sapaan senja, kerlingan ufuk, dan sentuhan embun [semua akan kukisahkan padanya lewat semesta dengan segala kepasrahan…].”
Ini kutipan yang saya ambil dari tulisan seseorang. Tulisan itu mungkin benar, menyentuh, dan romantis. Namun bisa juga menjadi sesuatu yang menyedihkan. Setiap kita punya cara dalam menanggapinya, dan diam juga tak selamanya adalah sesuatu hal yang baik.
Dalam sudut psikologis, setiap yang ditekan (direpress) tidak akan menghasilkan hasil yang positif. Ia akan tertimbun dalam alam bawah sadar, dan sering muncul dalam angan dan mimpi kala kita terlelap. Awal cinta kerap melanda dalam fase pubertas, dimana lawan jenis sudah menjadi sesuatu yang menjadi daya tarik dan dituntut perhatian. Ini merupakan bagian dari tugas perkembangan yang kata kebanyakan orang-orang, ‘normal’ untuk dijalani.
Sebagai umat muslim, kita tentu harus merujuk kembali pada agama yang kita anut. Kebanyakan teori psikologi yang berkembang adalah dari para ahli yang Atheis maupun Yahudi. Mengambil istilah kaizennya jepang (ambil yang baik, buang yang buruk, ciptakan sesuatu), atau teman-temn saya lebih bijak lagi mengubah kaizen itu dengan (ambil yang baik, perbaiki yang buruk, ciptakan sesuatu). Kita memang harus pandai memilah mana yang baik, sesuai syari’at, dan mana yang tidak.
Dalam islam muara yang indah untuk pasangan yang saling mencintai adalah pernikahan. Jika tak mampu, maka bersabarlah dengan berpuasa. Memang, islam tak secara nyata menuliskan pelarangan kata pacaran. Yang ada hanya, “janganlah berdua-duaan dengan orang yang bukan mahram dan janganlah mendekati zina.” Karena sesungguhnya dalam keadaan itu, ada lingkaran syaitan yang tengah tertawa. Dan kita tahu bahwa syaitan adalah musuh yang nyata bagi anak keturunan Adam.
Maka jika kau seorang muslim dan belum mampu untuk merangkai cintamu dalam pernikahan yang barakah, cobalah kau kikis cintamu pada ia yang belum tentu menjadi pasangan dunia akhiratmu. Janganlah kau ambil rasa yang belum tentu menjadi hakmu. Jangan kau coba untuk mencari pembenaran pada setiap peluang yang tercipta untuk kau dan dia tanpa berlandaskan syari’at. Karena jika kau percaya akan syurga, tentu kau juga akan percaya bahwa Allah tak akan menukar jodohmu dengan sesuatu yang buruk. Lauh mahfudznya telah tertulis. Yang kau lakukan adalah mempersiapkan diri dengan sebaik-baik persiapan agar jodohmu juga baik. Karena sepengetahuanku, dan yang pernah kubaca, jodoh itu berbanding lurus dengan diri.
Jika kau jatuh cinta pun, kau bias cerita pada Murabbimu, ia akan membantumu mencari solusi. Dan kau tak perlu takut untuk mengungkapnya. Karena sebenarnya, jatuh cinta bukanlah suatu dosa. Ia menjadi dosa jika kau salah memaknainya dan jatuh kelubang kemaksiatan.  Bukankah kesabaran itu buahnya manis? Jika kau tak memiliki Murabbi, cobalah bertanya pada guru agama, atau orang-orang yang mengerti akan agama.
Untuk yang telah mampu menikah, maka bersegeralah. Bukankah dalam pernikahan itu segala halnya menjadi ibadah? Berpegangan tangan saja sudah menjadi pahala. Jadi untuk apa kau berstatus pacaran penuh dosa, dan mengabaikan pernikahan yang penuh pahala?
Aku menulis ini juga sebagai pembelajaran bagiku. Bahwa aku harus tetap istiqomah dalam koridor yang kuyakini sejak aku hadir ke dunia. Aku masih jauh tertinggal. Tapi aku tak mau tertinggal di belakang maupun stuck di tempat. Aku ingin terus berlari dan meninggalkan setiap titik-titik kebodohan dan ketidaktahuanku. Semua ini pembelajaran untukku, untukmu dan untuk kita yang merasa memang harus masih banyak belajar dan memahami.

*Menata Hati 06012012