Tampilkan postingan dengan label PA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PA. Tampilkan semua postingan

Selasa, 02 September 2014

Cerpen ke-8 Pilar Aisyah di Dakwatuna (Kakak Sudah Membaca Proposalnya, Dia Cocok Untukmu

“Besok ada seminar Hakikat Cinta, Fa. Ikutan yuk!”
            “Sampai jam berapa, Al? Soalnya besok sore aku harus ngajar.”
          “Nggak lama kok, dari jam sembilan sampai ba’da dzuhur. Nanti kalau memang kelamaan, kamu balik duluan saja,”
            “Ok, sampai ketemu di ballroom besok ya. Assalamu’alaikum,”
            “Wa’alaikum salam,”
***
Kendaraanku melesat menuju jalan Bromo. Seperti biasanya setiap jum’at pukul dua siang aku ada agenda liqo’. Aku tiba di rumah sederhana Murobbiku pukul dua kurang seperempat. Di dalam, sudah ada Hafsah, Widya, dan Ana. Masih ada waktu lima belas menit lagi sambil menunggu Fitri dan Sofia datang, aku dan Hafsah keluar sebentar membeli makanan wajib kami saat liqo’ yaitu gorengan.
“Liqo’ hari ini akan ada berita mengejutkan, Fa!”
“Oh ya? memangnya ada berita apa?”
“Widya sudah menerima proposal dari temannya saat Aliyah dulu.”
“Alhamdulillah, sepertinya Widya akan menjadi orang pertama dari lingkaran cinta kita yang akan menikah.”
“Aduh, aku jadi galau..”
“Akan ada waktunya Hafsah. Harus bersabar.”
“Ini gorengannya, Nak.”
“Terimakasih, Bu.”
Saat kami kembali, Fitri dan Sofia sudah datang. Seperti biasa susunan liqo’ dimulai dengan membaca Al-Quran, setoran hafalan, materi, dan terakhir khobar. Materi pada pertemuan kali ini tentang kepribadian wanita soleha.
"Rasulluloh bersabda, dunia adalah perhiasan dan sebaik-baiknya perhiasan dunia adalah wanita sholeha (HR.Muslim). Bahwa ciri khas seorang wanita sholeha adalah ia mampu menjaga pandanganya. Ciri lainya adalah bahwa dia senantiasa taat kepada Allah dan RasulNya. Make-upnya adalah basuhan air wudhu, lipstiknya adalah memperbanyak dzikir kepada Allah dimanapun berada. Celak matanya adalah dengan memperbanyak bacaan Al-Qur'an. Jika seorang muslim menghiasi dirinya dengan perilaku taqwa, maka akan terpancar cahaya keshalihan dari dirinya.”
“Wanita dengan kecantikan yang ia miliki, lebih anggun daripada mentari. Wanita dengan akhlak yang ia miliki, lebih harum daripada kasturi. Wanita dengan kerendahan hati yang ia miliki, lebih tinggi daripada rembulan. Wanita dengan sifat keibuan yang ia miliki, lebih menyegarkan daripada hujan. Oleh kerana itu, peliharalah kecantikan itu dengan iman. Peliharalah keridhoan itu dengan sikap qana’ah, dan peliharalah kesucian diri itu dengan hijab.” Tutur Kak Sakinah.
Penjelasan materi selesai saat adzan ashar berkumandang. Setelah sholat ashar berjamaah, kami lanjutkan liqo’ dengan khobar. Aku sebagai Amiroh mempersilahkan Widya terlebih dahulu untuk mengabarkan keadaannya sepekan ini.
“Begini kak, tiga hari yang lalu Widya mendapatkan proposal dari teman Widya saat di Aliyah dulu melalui Anissa yang juga sahabat Widya semasa Aliyah. Lalu kemarin, lelaki itu juga datang langsung ke rumah menemui ayah dan menyampaikan maksudnya. Nah, ayah dan ibu sendiri menyerahkan semua keputusan dengan Widya.”
“Sudah istikharah?”
“Sudah kak, dan Alhamdulillah Widya merasa yakin untuk menuju pernikahan.”
“Alhamdulillah,”
“Tetapi, setelah pernikahan nanti Widya tidak bisa bersama lingkaran cinta ini lagi kak. Widya akan ikut suami ke Ponorogo. Ia salah satu pengajar di pesantren Gontor kak.”
“Tidak apa-apa, nanti kakak bantu untuk mencarikan Murobbi pengganti di sana. Yang penting tetap mengaji dan jangan lama-lama untuk proses nikahnya.”
“Ia kak, insya allah pertengahan bulan depan. Mohon do’a nya dari kakak dan teman-teman semua.”
***
Karena saya lelaki, jadi menurut saya lelaki yang berpredikat lelaki terbaik adalah seorang suami yang memuliakan istrinya. Suami yang selalu mengukirkan senyuman di wajah istrinya. Suami yang menjadi qawwam yakni pemimpin dan pelindung istrinya. Suami yang begitu tangguh mencarikan nafkah halal untuk keluarga. Suami yang tak lelah berlemah lembut mengingatkan kesalahan istrinya. Suami yang menjadi seorang nahkoda kapal keluarga, mengarungi samudera agar selamat menuju tepian hakiki Surga. Dia memegang teguh firman Allah, "Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka (QS. At-Tahrim: 6). Itulah hakikat cinta.” Urai Ust. Ilham pada seminar hakikat cinta yang aku dan Alya ikuti.
“Namun cinta di atas segala cinta adalah ketaatan terhadapNya. Hidup saat ini dan setelahnya adalah berkat cintaNya. Segala yang berlandaskan karenaNya adalah sebuah hakikat cinta yang sejati.” Lanjutnya.
“Subhanallah, bagus sekali penjelasan dari Ustadz Ilham ya, Fa.”
“Iya, Al. Cinta di atas segala cinta adalah ketaatan terhadapNya. Al, aku balik duluan ya. Sekarang sudah jam setengah tiga, nggak enak kalau anak-anak harus menunggu lama.”
“Ok. Hati-hati, Fa.”
Aku melajukan sepeda motorku dengan cepat meninggalkan areal ballroom. Karena kurang hati-hati di jalanan yang memang masih basah akibat hujan tadi pagi, aku terjatuh dari sepeda motorku. Sebelum kesadaranku hilang, aku melihat seseorang menolongku.
***
Saat sadar, aku sudah berada di rumah sakit. Kepalaku berdenyut dan kakiku terasa sakit. Ada perban yang kuraba di kening dan kakiku. Ya Allah, mengapa aku bisa kurang hati-hati?
“Alhamdulillah kamu sudah siuman. Bagaimana? masih sakit?”
“Iya dokter. Siapa yang membawa saya ke sini, Dok?”
“Tadi anak saya yang menolong kamu, tetapi karena ada urusan lain jadi dia buru-buru pergi.”
“Terimakasih banyak dok, dan tolong sampaikan juga terimakasih saya dengan anak dokter.”
“Nanti saya sampaikan. Saya juga sudah telepon taxi untuk mengantar kamu pulang karena sepeda motor kamu masuk bengkel.”
“Saya memang kurang hati-hati, Dok. Sekali lagi terimakasih banyak dokter. Saya permisi, Assalamu’alaikum.”
“Wa’alikum salam,”
***
Karena luka di kakiku cukup serius akibat jatuh dari sepeda motor kemarin, aku harus istirahat di rumah selama seminggu. Untungnya kampus sedang liburan semester, jadi aku tidak perlu khawatir ketinggalan pelajaran. Anak-anak didikku juga aku minta datang ke rumah agar mereka tetap bisa belajar. Alya sahabatku, cukup membantuku untuk mengantar jemput anak-anak ke rumahku dan pulang ke rumah mereka. Meskipun mereka sudah terbiasa hidup di jalanan, tetapi keselamatan mereka juga sudah menjadi tanggung jawabku.
“Nak, ayo kita ke rumah sakit. Hari ini kan kita sudah janji dengan Dokter Amar untuk buka perban kamu.”
“O iya, lupa. Keasyikan ngebloging, Ma. Asyifa siap-siap dulu ya,”
“Mama tunggu di mobil ya,”
***
“Alhamdulilah semuanya sudah membaik. Sudah tidak sakit lagi kan?”
“Nggak dok.”
“Tapi walaupun sudah baikan, kalau bisa sebulan ini jangan naik sepeda motor dulu ya.”
“Iya dok. O iya dok, waktu itu sepeda motor saya kan masuk bengkel, terus dua hari kemudian sudah langsung diantar ke rumah. Kok mereka tahu alamat rumah saya ya dok?”
“Anak saya yang menyuruh orang bengkel untuk mengantar langsung ke rumah kamu. Tahunya dari KTP kamu. Maaf kemarin anak saya mengambil KTP kamu untuk melihat identitas. Ini saya balikkan, tadi pagi dia titip karena tahu kamu akan buka perban hari ini.”
“Kalau ada waktu silahkan datang ke rumah dok dengan keluarga. Dokter sudah baik sekali dengan Asyifa.”
“Sudah menjadi kewajiban saya, Bu. Insya allah,”
“Insya allahnya ditagih loh dokter.” Ucapku menegaskan. Dokter Amar hanya tersenyum.
***
“Besok kita ada aksi solidaritas dan penggalangan dana untuk saudara kita di Palestina. Titik kumpulnya di Masid Agung dan berakhir di bundaran SIB.” Info Kak Sakina saat kami liqo’.
“Ok kak, siap!”
***
Di tengah konvoi penggalangan dana, gerimis turun. Tidak ada yang berhenti meneduh. Semua tetap jalan tertib dalam barisan, begitupun dengan teman-teman yang naik sepeda motor dan mobil pick-up. Jilbab sudah basah. Sayangnya, aku dan teman-teman tidak prepare akan jaket dan payung.
“Pakai ini,” Ucapnya.
Entah siapa ia yang memberiku jaketnya kemudian berlalu dengan sepeda motornya menyusul teman-teman yang lain. Aku mempercepat gerakku agar masih bisa mengetahui siapa ia dan tentu saja untuk mengembalikan jaketnya. Namun kakiku yang baru pulih cidera tak mampu berbuat banyak. Aku kehilangan jejak di keramaian manusia yang terlibat dalam aksi.
            “Lihat ikhwan tadi nggak, Na?” Tanyaku paada Ana saat konvoi sudah selesai.
            “Nggak, Fa. Sudah kamu bawa pulang saja jaketnya. Sekarang kita makan yuk! Aku lapar.”
            ***
            “Assalamu’alaikum adik-adik,”
            “Kak Syifa, Wa’alaikum salam..”
            “Maaf ya, minggu lalu kakak nggak bisa ngajar karena ada kegiatan lain.”
            “Tenang kak, asisten kakak telah hadir untuk menggantikan.” Lapor Rasyid sambil menunjuk dirinya sendiri.
            “Terimakasih, Rasyid. Ini kakak lihat buku bacaannya banyak yang baru ya? dari siapa?”
            “Dari Mas Imam. Orangnya baik kak. Selain ngasih buku baru, juga suka bawa makanan untuk kami.”
            “Mas Imam siapa? Kok Kak Syifa baru dengar namanya?”
            “Jadi waktu kakak nggak masuk karena jatuh dari motor, Mas Imam dan beberapa temannya datang ke sini untuk riset. Terus tanya ini itu soal keadaan di sini kak.”
            “Besok-besoknya Mas Imam bawa buku-buku baru dan ngajarin kami mengaji.”
“Nanti Mas Imam juga mau datang kemari kak, mau ngajak makan di luar.”
“Itu mobil Mas Imam datang,” Teriak anak-anak dengan senang.
“Assalamu’alaikum,”
“Wa’alaikum salam,”
“Mas Imam, ini Kak Asyifa.”
“Imam. Maaf ya saya pikir kamu masih sakit, jadi saya mau bawa anak-anak makan di luar.”
“Iya nggak apa-apa. Silahkan kalau mau pergi sama anak-anak. Anak-anak sepertinya juga sudah tidak sabar untuk pergi.”
“Kak Syifa ikut ya! Boleh kan Mas Imam?”
“Tentu saja boleh.”
Sebagian anak-anak naik mobilku dan sebagian lagi naik mobil Imam. Ia mengajak anak-anak ke Mall dan makan di restoran steak. Anak-anak bebas mau pesan makanan apa pun, asal tidak berlebih-lebihan. Selesai makan, anak-anak minta main Tamzone dan ke toko buku.
“Terimakasih ya, kamu sudah baik sekali dengan anak-anak. Mereka kelihatan senang sekali.”
“Memang sudah menjadi hak mereka. Kamu tidak perlu berterimakasih pada saya.” Lelaki ini, seperti tidak asing bagiku.
***
“Syifa, kamu sudah siap untuk menikah?” Kak Sakina bertanya padaku setelah kami selesai liqo’.
“Kenapa kakak menanyakan hal itu?”
“Mutarabbi suami kakak sedang mencari istri. Ia menitipkan proposalnya pada suami kakak. Setelah suami kakak pertimbangkan, ia meminta kakak untuk ikut membantu mencarikan dari salah satu mutarabbi kakak. Kakak sudah membaca proposalnya, dan menurut kakak kamu yang cocok dengannya.”
Aku bingung harus menjawab apa. Selama ini, aku memang tidak pernah bercerita tentang ikhwan manapun dengan Murabbiku. Termasuk tentang ikhwan yang menolongku saat jatuh dari motor. Entah mengapa, aku ingin mengenalnya. Namun, tidak ada yang kuketahui tentang dirinya. Aku juga malu kalau harus bertanya langsung dengan Dokter Amar.
“Kalau menurut kakak ia baik untuk Syifa dalam urusan dunia maupun akhirat, insya allah Syifa bersedia tanpa harus membaca proposalnya.”
“Alhamdulillah, kalau begitu jum’at depan sebelum kita mulai liqo’, kamu bisa berta’aruf dengannya.”
“Baik kak,” Insya Allah ini akan menjadi keputusan yang terbaik. Tidak ada alasan bagiku untuk menolak bernazhar dengan seseorang yang diajukan Murobbiku. Hari itu juga, sesampainya di rumah, aku memberitahu mama dan abi tentang nazhar dan proses ta’aruf yang ditawarkan Kak Sakina.
“Abi dan mama kamu setuju-setuju saja, asalkan ia baik secara agama.”
“Yang penting kamu bahagia, Nak.” Ungkap mama sambil memelukku.
“Maaf bu, tamunya sudah datang,”
“Suruh masuk saja mbok,”
“Siapa yang datang ma?”
“Dokter Amar dan keluarganya. Tadi siang Dokter Amar telepon mama, dia bilang mau memenuhi janji untuk silaturahmi waktu itu. Jadi mama dan abi mengundang Dokter Amar dan keluarganya untuk makan malam di sini.”
“Assalamu’alaikum,”
“Wa’alaikum salam, masuk dokter.”
“Maaf baru bisa berkunjung sekarang. O iya ini istri saya Lia dan kedua anak saya Imam dan Aira.”
Tidak tahu sekenario apa yang sedang berjalan saat ini, yang jelas aku merasa terkejut. Saat ini orang yang membuatku ingin mengenalnya hadir di hadapanku di saat aku sudah menyepakati untuk bernazhar dan melakukan proses ta’aruf dengan ikhwan pilihan Murobbiku. Tidak hanya itu, lelaki itu ternyata Imam. Imam yang disenangi anak-anak jalanan didikanku. Aku mencoba menahan beberapa pertanyaan di kepalaku. Aku tidak ingin mengganggu keakraban abi dengan Dokter Amar dan Imam, begitu pula mama dan Tante Lia. Aku hanya mengobrol dengan Aira.
“Apa kegiatan sekarang, Mam?”
“Hanya pengusaha kecil-kecilan, Om.”
“Dia ini orangnya merendah sekali. Setelah lulus S2 bisnis di Jerman, dia buka restoran steak di sini join sama teman-temannya. Alhamdulillah mereka sudah memiliki delapan cabang. Ada di Medan, Jakarta, Jogja, Bali, Bandung, Semarang, Surabaya, dan Lombok.”
“Wah, bagus itu anak muda berjiwa enterprenuer.”
“Mohon do’anya, Om.”
***
Besoknya aku bertemu dengan Imam saat mengajar anak-anak mengaji. Sikapnya tetap tenang seperti tadi malam.
“Kenapa kamu nggak bilang kalau kamu yang sudah menolong saya waktu itu?”
“Apa perlu saya mengatakan hal tersebut? Apa pantas kita menguraikan pertolongan terhadap seseorang?”
“Jaket ini, apa ini juga punya kamu? Saya baru sadar, bahwa di saku jaket ada kartu nama seseorang yang bernama Imam Abdullah.”
“Maaf waktu itu kurang sopan memberikannya karena juga harus buru-buru menghindari hujan dan menyusul teman-teman yang lain.”
“Pantas waktu pertama kali bertemu di sini, kamu seperti tidak asing bagi saya.”
“Kehidupan ini memang penuh dengan kejutan-kejutan. Baik kejutan yang menyenangkan, maupun kejutan yang mengecewakan. Maka dari itu rukun iman yang terakhir kita diwajibkan mengimani qadha dan qadhar.”
***
“Insya Allah ia calon yang baik,” Hibur Kak Sakina mengetahui kegelisahanku.
Ya, hari ini seperti yang telah dijadwalkan, aku akan bertemu dengan ikhwan yang diajukan Murobbiku. Abi dan mama juga menemaniku di sini.
“Assalamu’alaikum,”
“Wa’alaikum salam,”
“Dokter Amar?”
“Asyifa?”
Kami sama-sama terkejut. Di belakang Dokter Amar ada Tante Lia dan Imam.
“Ya Allah, kalau ini calonnya tidak usah mikir dua kali.” Ungkap mama. Abi dan Dokter Amar tertawa. Tante Lia, Kak Sakina, Ustadz Affan tersenyum memandangku.
“Selalu ada kejutan dalam hidup,”
“Baik yang menyenangkan, maupun yang mengecewakan.” Aku menyambung kalimatnya. Ia tersenyum, aku tertunduk malu.
Allah memiliki rencana yang indah untuk setiap laki-laki dan wanita yang bedo’a dan percaya padaNya.


                                                                                                                 Juni, 2014

Senin, 17 Juni 2013

Cerpen ke-2 Pilar Aisyah di Dakwatuna "Surat Cinta Dari Tuhan Yang Kau Ikatkan"


Surat Cinta Dari Tuhan Yang Kau Ikatkan
Aku duduk di sofa ruang tamu rumahku. Sedikit-sedikit aku mencoba membenarkan letak jilbabku, merapikan gamis yang kukenakan dan beberapa menit berikutnya pergi ke arah dapur untuk menemui Bunda yang tengah mempersiapkan jamuan makan malam bersama adik dan kakak iparku.
“Tenanglah, apa yang Ananda risaukan, Nak?” Aku tak bisa menjawab pertanyaan Bunda, karena aku sendiri sebenarnya tak tahu apa yang aku cemaskan. “Kembalilah ke ruang tengah. Temani Ayah dan Mas mu. Sebentar lagi, mungkin mereka akan datang.” Aku menuruti perkataan Bunda. Ayah tampak tenang dengan buku bacaannya, dan Mas Adit menyibukkan diri di depan laptop, untuk menyelesaikan pekerjaan kantornya. Aku duduk di samping Ayah. Bersandar di bahunya.
“Tak ada sesuatu yang perlu dicemaskan.” Ayah mengalihkan perhatiannya padaku. Ia mengelus-elus kepalaku dengan lembut.
“Ayah, apakah Ananda sudah pantas menjalani ini semua? Jujur, Ananda sedikit merasa tak pantas.”
“Kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi pada diri kita setiap harinya. Semenit ke depan, kita pun tak kan mampu menebak apa yang akan terjadi. Kita hanya mencoba untuk berbuat sebaik mungkin setiap harinya dalam hidup, dan atas kebaikan-kebaikan itu, kita harus percaya bahwa Allah akan menyelipkan kejutan-kejutan kebahagiaan untuk kita, bahkan untuk hal yang kita anggap mustahil sekalipun, Nak.” Kini Ayah menutup bukunya, ia memandang wajahku dengan lekat, membetulkan sedikit letak kacamatanya, dan kembali melanjutkan kata-katanya.
“Jadi, tak ada yang tak pantas jika Allah telah menghendakinya Anakku. Jika keraguan masih menyelimutimu, tanyakanlah padanya. Bukankah ia yang mengajukan diri?” Ayah benar. Aku masih bisa menanyakan banyak hal sebelum membuat suatu keputusan besar dalam hidupku.
***
Pukul 20.05 WIB, deru suara mobil terdengar memasuki pekarangan rumah. Ayah, Bunda, dan Masku berjalan keluar untuk menyambut tamu yang datang. Aku masuk ke kamar ditemani adik dan kakak iparku. Beberapa menit berselang, samar-samar kudengar percakapan mereka yang kini telah berkumpul di ruang tamu.
“Kedatangan kami ke sini, tentu sudah Anda ketahui maksud dan tujuannya. Saya mewakili anak saya, ingin menyampaikan maksud hatinya yang ingin menyempurnakan separuh agama dengan mempersunting anak Anda.”
“Ini semua memang berkah untuk keluarga kami, keluarga biasa yang mungkin sebelumnya tak pernah membayangkan akan menjamu tamu dari keraton. Namun apa pun itu namanya, saya tetap yakin hanya taqwa yang menjadi pembeda kita di hadapan Tuhan. Untuk urusan hati ini pun, saya tak ingin mengambil keputusan secara sepihak. Saya bebaskan putriku untuk menentukan apa yang terbaik bagi hidupnya.”
“Tentu saja. Saya sangat setuju dengan pemikiran Anda. Langsung saja kita pertemukan keduanya, dan memutuskan yang terbaik diantara keduanya.”
Bunda masuk ke kamarku. Menuntunku keluar menuju ruang tamu yang telah berubah menjadi ruang musyawarah. Adik dan kakak iparku tetap mengiringiku.
“Nah, kini orang yang ingin mempersuntingmu dan keluarganya telah hadir di rumah kita, Nak. Sampaikanlah apa yang ingin Ananda sampaikan. Kami tak akan memperdebatkan.”
“Saya hanyalah orang yang biasa, saya mengenalmu sebagai orang yang dihormati dikalangan masyarakat. Saya mungkin tahu tentangmu, namun apakah kamu benar-benar telah mengenal baik saya?” Aku mulai bertanya. Wajahku tertunduk tak mampu mengangkatnya untuk melihat orang-orang di sekelilingku.
“Saya memang tak mengenalmu dengan waktu yang lama. Bahkan, saya bisa menyatakan bahwa saya tak lebih dari lima kali bertemu denganmu. Namun, pada setiap kesempatan di mana saya bertemu denganmu, saya mencoba mengenalmu dengan baik. Dalam waktu yang singakat itu pula, saya kenali dirimu sebagai seorang perempuan yang sederhana, penyuka kegiatan sosial, periang, kecerdasanmu mampu membawamu meraih beasiswa keluar negeri, namun yang terpenting dari semua itu, saya menilai dirimu sebagai seseorang yang menjalankan agamamu dengan baik,”
“Dan apa yang tak terlihat langsung oleh saya tentangmu, sudah saya ketahui dari orang-orang terdekatmu. Termasuk sifat manjamu terhadap Ayah Bundamu.”
“Lalu apa yang kamu harapkan dengan menikahi saya? Apa yang membuatmu mengajukan diri untuk menjadi imam di kehidupan saya? Dan saya ingin memberitahukan bahwa didiri saya, terbesit rasa ketidakpantasan untuk mendampingimu.” Tanyaku lagi dalam keadaan wajah yang masih tertunduk.
“Saya tak memandangmu sebagai orang yang tak sebanding dengan saya. Apa yang tak pantas di pandangan manusia, belum tentu tak pantas di hadapan Illahi. Apa yang saya nilai darimu adalah sesuatu yang saya lihat dengan hati, bukan dari apa yang ada di luarnya. Yang saya harapkan dengan menikahimu adalah meraih ridhonya Allah,”
“Saya memilihmu atas agamamu. Atas kecintaanmu pada Rabbmu dan kekasihNya, dan saya ingin mendapat perhiasan dunia akhirat dengan menikahi wanita solihah. Lalu di mana letak ketidakpantasanmu jika yang saya lihat adalah seorang wanita dari segi agamanya?” Aku tak tahu bagaimana mimik wajahmu ketika menguraikan semua kata-kata itu. Namun yang harus kuakui, ada getaran kecil yang terjadi di sukmaku.
“Sekiranya saya menerima lamaranmu, apa yang dapat kamu berikan kepada saya sebagai mahar dipernikahan nanti?”
“Sebenarnya, saya adalah orang yang tak punya apa-apa. Kebanyakan apa yang saya miliki adalah warisan turun temurun dari keluarga keraton. Saya tidak ingin memberikanmu mahar dari sesuatu yang tidak saya perjuangkan untuk mendapatkannya. Maka jika kamu ikhlas, saya hanya mampu memberimu surat cinta dari Tuhan. Saya ingin mengikatmu dengan surah Ar-Rahman dan Al-Kahf yang saya cintai.”
Tanpa kupinta, ia melantunkannya untukku. Ada sesuatu yang kurasakan mengalir dingin di pipi. Cairan cinta atas rasa haru yang kudapatkan melalui perkataan seorang laki-laki. Satu-satu kini cairan cinta itu jatuh membasahi telapak tanganku yang kuletakkan di atas pangkuanku. Aku mulai sedikit memberanikan diri mengangkat wajahku, untuk melihat calon suamiku. Melalui setiap kata yang ia ucapkan, aku mulai memahami perangai dari calon suamiku ini.
Subhanallah, aku pun melihatnya tertunduk dengan parit di pipi yang membekas dari tangisnya. Perlahan, kulihat ia mulai mengangkat wajahnya juga, memandang ke arahku dengan sekali pandang. Namun sepersekian detik, mata kami bertemu. Deg! Hatiku kurasakan bergetar. Ada hawa sejuk yang masuk melalui celah-celah dinding hatiku, begitu lembut dan menenangkan. Aku menundukkan kembali pandanganku.
“Apa yang bisa saya sanggah lagi, ketika seorang lelaki yang solih mendatangi saya untuk menunaikan sunah Nabi? Apa yang saya pandang kini, tak lagi melihat statusmu, tapi apa yang saya lihat dari agamamu. Dengan mengucap basmalah, bismillah hirrahman nirrahim, saya bersedia menyempurnakan separuh dien bersamamu.” Kataku dengan mantap!
Bunda menciumiku, begitu pula kulihat yang Ibumu lakukan terhadapmu. Ayah kita saling berpelukan, senyum bahagia menghiasi wajah keduanya. Beberapa kerabatmu dan saudaraku turut mengembangkan senyum bahagia pula. Kamu tersenyum padaku, seraya mengucapkan rasa terimakasihmu padaku. Pernikahan kita pun ditetapkan seminggu setelah hari ini. Pada setiap kehidupan hambanya yang beriman, selalu ada campur tangan Tuhan yang menjadikan skenarionya lebih indah.
Sayup Rindu, 2013

Cerpen Media Pilar Aisyah di Dakwatuna "Sejak Kuyakini Ketaqwaanmu"


Sejak Kuyakini Ketakwaanmu

“Assalamu’alaikum,?”
“Wa’alaikumsalam warohmatullah…”
“Kenapa kelihatan tak bersemangat, Kan? Sedang ada masalah ya?”
Pemuda itu terdiam. Ia menundukkan pandangannya. “Aku ingin menikah.” Ucapnya.
“Alhamdulillah… memang sudah saatnya kamu menikah. Sudah punya calonnya?” Tanya sahabatnya itu dengan penuh kebahagiaan.
Mendengar pertanyaan sahabatnya, pemuda itu terdiam. Wajahnya yang tadi tertunduk, kini semakin dalam tertunduk. Lebih dari itu, tubuhnya berguncang. Senarai isak tangis mulai terdengar, disambut derai air mata yang tercurah.
“Mengapa antum menangis?” Tanya sahabatnya yang terlihat bingung. Pemuda itu tak menjawab.
“Jika pertanyaan ku membuatmu sedih, maafkanlah,”
“Bukan pertanyaan antum yang membuat kumenangis, tapi aku sendiri yang membuat keadaan ku seperti ini. Aku telah menghadirkan dua orang muslimah dalam hati ini. Tak ada maksud untuk membuat hati ini hitam. Hanya apa yang kurasakan ini, terjadi tanpa kupinta. Kesalahannya, mungkin karena aku telah membuka celah dimana terjadi interaksi yang membuatku menjadi terperdaya pada pesona keduanya.”
“Kalau begitu, kamu ambillah keduanya untuk menjadi istri…”
“Aku tak sanggup jika harus mempoligami bidadariku. Sekalipun aku tahu kebolehan berpoligami.”
“Jika tak sanggup, pilihlah yang terbaik dari keduanya.”
“Aku tak mampu memilih satu dari keduanya, Fiz.”
“Kalau begitu, aku pun berlepas dari kataku. Tunggulah takdir Allah untukmu. Semoga yang terbaik dari yang terbaik menjadi bidadarimu.”
***
Assalamu’alaikum, Akh… saya ingin menyampaikan bahwa teman-teman merasa senang dengan ceramah yang akhi sampaikan mengenai pernikahan. Alhamdulillah, banyak dari mereka yang kini sedang berproses untuk menyegerakannya. Bahkan saya sudah mendapat dua undangan. Semoga akhi juga segera mendapat yang terbaik…
-Nayla-
***
“Abang, tidak datang seminar di Aula kampus? Yang Ilham dengar, salah satu pembicaranya adalah Aulia.”
“Haruskah abang datang?”
“Ya tak adalah hak Ilham untuk mengharuskan. Ilham hanya membaca hati yang terlihat, Bang.”
“Membaca atau menerka?”
“Mana abang suka lah!” Ucap adiknya agak kesal seraya berlalu.
Hari ini, ia sebenarnya mendapat undangan khusus untuk datang ke acara seminar itu dari panitia penyelenggara. Hanya saja, ia ingin mencoba menenangkan hatinya dengan menjauhi kesempatan yang mungkin akan membuat hatinya semakin berat untuk mampu memilih.
***
“Arkan, aku datang kepadamu pagi ini dalam urusan yang mulia.”
“Apa gerangan urusan itu, Fiz?”
“Mungkin, ini jawaban dari takdirmu yang beberapa minggu lalu kita perbincangkan. Aku datang mewakili orang tua dari seorang wanita yang soliha untuk memintamu berta’aruf. Bacalah proposalnya. Lalu berilah keputusanmu besok.”
Sepulang dari kedatangan sahabatnya itu, ia hanya mampu meletakkan proposal itu di meja kamarnya. Pagi ini, ia ingin menjalankan aktivitas tanpa memikirkan urusan yang belakangan ini mengusiknya.
Sesampainya di masjid kampus, ia tak sengaja bertemu dengan Aulia kala menunaikan shalat Dhuha. Ia melihat Aulia tersenyum ke arahnya. Lalu berlalu bersama teman-temannya.
“Mungkinkah ia? Astaghfirullah…”
***
Selepas tahajud, Arkan teringat dengan proposal yang diberikan sahabatnya tadi pagi. Tangannya bergetar memegang lembaran-lembaran itu. Sekuat tenaga, ia mencoba membuka lembaran pertama. Namun sedetik kemudian, ia mengurungkan niatnya. Ia letakkan kembali proposal itu di atas meja. Namun ada selembar foto yang terjatuh di lantai. Ia memungut foto itu, dan yang terlihat di matanya adalah seorang wanita berbalut jilbab putih yang begitu anggun dengan senyum khas yang ia kenali. Senyum itu, kepunyaan Aulia…
“Allah, apakah ini takdirku?...” Arkan menyungkurkan diri dalam sujud malam yang tengah.
***
Arkan datang menemui sahabatnya Hafiz, untuk memenuhi janji keputusan atas kedatangan sahabatnya itu kemarin.
“Baiknya sekarang kita langsung ke rumahnya untuk menyegerakan ta’arufmu.”
Mereka pun menuju rumah Aulia. Ketika sampai di sana, mereka disambut dengan hangat oleh orang tua Aulia.
“Mengapa Nak Arkan tidak datang beserta orang tua?”
“Sebelumnya saya minta maaf, Pak. Bagi saya sendiri, ta’aruf pertama ini ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan sebelum saya memutuskan untuk melanjutkan ke taraf pernikahan. Jika saya merasakan kemantapan hati, baru saya akan datang kembali beserta keluarga untuk segera melamar.”
“Baiklah jika begitu pertimbangan, Nak Arkan.”
Aulia pun dihadirkan. Wanita itu hadir bagaikan cermin dari foto diri yang tengah malam tadi Arkan lihat.
“Silahkan bertanyalah, Nak…”
“Assalamu’alaikum Aulia… bolehkah kuketahui sebab hingga sampainya proposalmu padaku?”
“Wa’alaikumsalam mas…, jika hal itu yang kamu tanyakan, maka aku akan menyanjung seorang wanita soliha yang kudapati kebijaksanaannya. Aku mengadu mengenai hatiku. Lalu ia berkata, menikahlah! Lalu aku bertanya pada siapa? Pada seorang pemuda yang kau yakini dirinya mampu menjadi pendampingmu dunia akhirat, dan yang saling solih mensolihkan, ujarnya. Aku tak tahu siapa! Tapi aku teringat sosokmu saat menyampaikan ceramah mengenai pernikahan. Lalu aku memutuskan untuk memilih berta’aruf denganmu.”
“Boleh aku tahu wanita itu?”
“Ia orang yang mengundangku untuk menghadiri ceramahmu untuk pertama kalinya saat kita belum berkenalan. Ia orang yang kau kenal. Wanita itu adalah Nayla.”
Arkan tertunduk mendengar nama Nayla yang tersebut oleh Aulia. Lalu ia mencoba untuk bertanya kembali, “Apa Nayla tahu akan ta’aruf ini?”
“Ya, bahkan air matanya sesaat berlinang ketika aku mengatakan bahwa aku ingin berta’aruf denganmu. Ia katakan ia bahagia atas pilihanku. Ia juga yang membantu mengantarkan proposalku kepada Hafiz, untuk disampaikan kepadamu.”
“Terimakasih atas keteranganmu. Aku senang mendengarnya. Aku juga mendapatimu sebagai wanita yang baik. Namun bolehkah aku meminta sesuatu hal kepadamu?”
“Silahkan…”
“Aku tak dapat memberikan keputusan saat ini, besok pukul 10.00 datanglah ke masjid kampus beserta orang tuamu, undanglah juga Nayla untuk datang. Insya allah besok akan kuputuskan apakah ta’aruf ini dilanjutkan atau tidak.”
“Baiklah…”
“Apakah Bapak dan Ibu mengizinkan permintaan saya?”
“Kami tak keberatan jika Nak Arkan maunya begitu.”
***
Malamnya Arkan memulai istikharah. Rasa bingung coba ia tepis dengan menguatkan azamnya. Setelah istikharah, ia terus melanjutkan tahajud dan melebur diri dalam do’a-do’a yang panjang dan khusyuk.
“…. Ya Allah, diantara tanda-tanda kekuasaanMu, telah Engkau ciptakan bagi kami isteri-isteri dari jenis kami sendiri, supaya kami cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Engkau jadikan di antara kami rasa kasih dan sayang. Aku percayakan urusanku ini kepadaMu Rabb, karena Engkaulah hakikatnya yang paling mengetahui mana yang terbaik bagiku. Aku tak ingin melukai hati siapapun, jikalau memang diriku tak pantas untuk bersanding dengan salah satu hambaMu yang soliha itu, aku ikhlas Rabb. Karena mereka adalah sebaik-baik perhiasan dunia. Berikanlah petunjukMu Rabb….”
***
Masjid kampus pagi ini masih tampak lengang. Hanya ada beberapa orang yang tengah shalat Dhuha. Arkan duduk bersama Hafiz. Lima menit berselang, datanglah Aulia beserta orang tuanya. Kini mereka hanya tinggal menunggu Nayla.
“Nayla minta maaf, ia tidak bias datang. Ia ada rapat di kantornya pagi ini.” Terang Aulia setelah menelpon sahabatnya yang tak kunjung datang itu.
“Bagaimana Nak Arkan?”
“Baiklah, dengan mengucap Basmalah saya putuskan ..….”
***
“Kenapa kamu nggak datang, Nay? Kamu merasa ndak siap?”
“Sesungguhnya ada satu hal yang membuat para nabi dapat bergembira ketika menerima penderitaan, Mbak. Yaitu, mereka telah memutuskan berlari menuju Allah. Mereka terus-menerus percaya dan meyakini bahwa Allah sangat-sangat adil dan penyayang. Jika ada satu dua penderitaan, itu hanya jalan menuju kebahagiaan. Lalu kenapa saya harus merasa ndak siap jika saya akan menuju kebahagiaan, Mbak? Dan saya tak berhak untuk menghalau kebahagiaan orang lain, apalagi sahabat saya. Lagian, rapat ini kan juga penting untuk saya hadiri.”
“Kamu memang layak bahagia, Nay...”
“Setiap orang berhak bahagia, Mbak…”
***
“Nay, jangan lupa ya datang ke pernikahanku besok. Untuk walimahannya akan diadakan pekan depan, Nay.”
“Alhamdulillah, ana turut senang. Insya Allah ana akan datang.”
***
Hari ini kediaman Aulia penuh berkah dengan hari istimewanya. Wajahnya bersinar penuh kebahagiaan.
“Nay, kamu dampingi aku ya?” Pinta Aulia pada Nayla.
Pihak pengantin wanita berada di lantai atas. Ijab Kabul dilakukan di lantai bawah. Suara ijab kabul itu begitu terdengar tegas dan khidmat. Namun Nayla merasa bahwa suara itu bukan suara Arkan. Ia mencoba melihat ke arah pengantin pria, dan yang ada di sana adalah Hafiz. Apa yang terjadi? Tanya benaknya.
“Iya, Nay. Aku menikah dengan Hafiz, bukan Arkan! Aku sudah menikah. Aku ingin, kau juga menikah.” Nayla memeluk sahabatnya itu. Dari sudut-sudut mata bening mereka menetes tangis bahagia.
***
Sebulan berlalu. Pada suatu pagi yang cerah, Nayla kedatangan tamu istimewa.
“Kedatangan saya ke sini, tak lain adalah untuk melamar anak bapak menjadi bidadari saya.”
“Subhanallah, sebuah niat yang baik. Namun sesenang apapun kami orang tuanya, keputusan tetap ada pada Nayla.”
“Tak ada alasan bagiku untuk menolak lamaran dari seorang lelaki yang solih. Maka dengan mengucap Bismillahirrahmannirrahim aku menerima lamaranmu.” Ucapnya dengan wajah yang tertunduk.
“Alhamdulillah…” Senyum tertebar pada setiap yang hadir dalam lamaran itu.
***
Lusanya, walimatul ursy diadakan. Setelah walimahan usai, Nayla bertanya suatu hal pada suaminya, “Suamiku, sebenarnya ada yang ingin kutanyakan kepadamu. Bukan aku ingin mengungkit masa lalu, namun aku hanya ingin mengobati rasa penasaranku. Sebenarnya, apa yang terjadi di masjid kampus dalam ta’aruf kedua itu?”
Dengan menatap istrinya lembut, Arkan berkata, “Yang terjadi adalah takdir Allah. Dengan mengucap basmalah kala itu, kuputuskan untuk menolak melanjutkan ta’aruf ke arah pernikahan. Ketidak hadiranmu yang membuatku harus memutuskan hal demikian. Karena sebenarnya, kamulah wanita pertama yang membuatku merasakan cinta. Hafiz lalu maju setelah penolakanku. Ia melamar Aulia menjadi bidadarinya. Dan apa yang terjadi selanjutnya, tentu telah kamu ketahui istriku…”
“Maha suci Allah yang mengikat hati kedua insan yang mencinta karenaNya. Aku pun mencintaimu sejak kuyakini ketakwaanmu…” Ucap Nayla sembari mencium tangan suaminya.
***

Seleret, 2013

Selasa, 25 September 2012

Ada nama saya di sini :D


Jadi, setelah melakukan penggodokan, dan sedikit penggondokan saat menentukan pilihan peserta mana yang akan melanjutkan ke tahap seleksi berikutnya; yakni Magang, didapatkanlah 45 nama dari 65 nama yang telah mengikuti tes tertulis dan wawancara Rekrutmen Angkatan V FLP Sumatera Utara. Segala pertimbangan telah disampaikan dalam proses pengambilan keputusan nama-nama di bawah ini. Apabila nama kamu tidak tertera, jangan berkecil hati.  Dan, yang tertera dibawah juga jangan cepat tinggi hati, karena proses menjadi FLPers belum usai. Masih ada setapak tangga lagi.
1.      Rusmini
2.      Ardiansyah Putra Nasution
3.      Teguh Bagus Surya
4.      Imam Damara
5.      Fadul Fikri
6.      Nesya Ardella
7.      Muftirom Fauzi Aruan
8.      Bunaya Irandi
9.      Maulana M. Hasan
10.  Wahyuddin
11.  Samsiah Nur
12.  Rizka Hayuti 
13.  Poppy Citra Dini Samosir
14.  Dewi Pertiwi
15.  Nina
16.  Dwi Suci Mawarni
17.  Vivi Suryani
18.  Ahmad Rafiq
19.  Isdah Ningrum
20.  Zulfahmi Hamam 
21.  Putri Rizki
22.  Tiamawarni
23.  Khalida Ulfa 
24.  Fuji Astuti 
25.  Abdul Aziz
26.  Zakiyah Rizki Sihombing
27.  Leli Aprianun
28.  Silvia Ananda
29.  Yusra Nova Lyanda
30.  Rama Salwa
31.  Sarifa Mawaddah Ramadhani Hutagaol
32.  Indah Mahdani
33.  Atiqah Ash Ashadiqah
34.  Dewi Trisna
35.  Siti Fatimah Sitepu
36.  Mustika Roseka
37.  Elly Musniar Tuti
38.  Sabda Marbun
39.  Nurul Habibah
40.  Tika Mindari
41.  Kartika Dwi Lastrika
42.  Nurwahidah Ramadhani
43.  Fitriyani Sri Udayati
44.  Sawaluddin
45.  Nurlaili br Sembiring

Sekian dan terima kasih. 
wassalam.

Semangat berkarya, semangat berdakwah...

#Sumber FLPSU