Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan

Selasa, 02 September 2014

Cerpen ke-8 Pilar Aisyah di Dakwatuna (Kakak Sudah Membaca Proposalnya, Dia Cocok Untukmu

“Besok ada seminar Hakikat Cinta, Fa. Ikutan yuk!”
            “Sampai jam berapa, Al? Soalnya besok sore aku harus ngajar.”
          “Nggak lama kok, dari jam sembilan sampai ba’da dzuhur. Nanti kalau memang kelamaan, kamu balik duluan saja,”
            “Ok, sampai ketemu di ballroom besok ya. Assalamu’alaikum,”
            “Wa’alaikum salam,”
***
Kendaraanku melesat menuju jalan Bromo. Seperti biasanya setiap jum’at pukul dua siang aku ada agenda liqo’. Aku tiba di rumah sederhana Murobbiku pukul dua kurang seperempat. Di dalam, sudah ada Hafsah, Widya, dan Ana. Masih ada waktu lima belas menit lagi sambil menunggu Fitri dan Sofia datang, aku dan Hafsah keluar sebentar membeli makanan wajib kami saat liqo’ yaitu gorengan.
“Liqo’ hari ini akan ada berita mengejutkan, Fa!”
“Oh ya? memangnya ada berita apa?”
“Widya sudah menerima proposal dari temannya saat Aliyah dulu.”
“Alhamdulillah, sepertinya Widya akan menjadi orang pertama dari lingkaran cinta kita yang akan menikah.”
“Aduh, aku jadi galau..”
“Akan ada waktunya Hafsah. Harus bersabar.”
“Ini gorengannya, Nak.”
“Terimakasih, Bu.”
Saat kami kembali, Fitri dan Sofia sudah datang. Seperti biasa susunan liqo’ dimulai dengan membaca Al-Quran, setoran hafalan, materi, dan terakhir khobar. Materi pada pertemuan kali ini tentang kepribadian wanita soleha.
"Rasulluloh bersabda, dunia adalah perhiasan dan sebaik-baiknya perhiasan dunia adalah wanita sholeha (HR.Muslim). Bahwa ciri khas seorang wanita sholeha adalah ia mampu menjaga pandanganya. Ciri lainya adalah bahwa dia senantiasa taat kepada Allah dan RasulNya. Make-upnya adalah basuhan air wudhu, lipstiknya adalah memperbanyak dzikir kepada Allah dimanapun berada. Celak matanya adalah dengan memperbanyak bacaan Al-Qur'an. Jika seorang muslim menghiasi dirinya dengan perilaku taqwa, maka akan terpancar cahaya keshalihan dari dirinya.”
“Wanita dengan kecantikan yang ia miliki, lebih anggun daripada mentari. Wanita dengan akhlak yang ia miliki, lebih harum daripada kasturi. Wanita dengan kerendahan hati yang ia miliki, lebih tinggi daripada rembulan. Wanita dengan sifat keibuan yang ia miliki, lebih menyegarkan daripada hujan. Oleh kerana itu, peliharalah kecantikan itu dengan iman. Peliharalah keridhoan itu dengan sikap qana’ah, dan peliharalah kesucian diri itu dengan hijab.” Tutur Kak Sakinah.
Penjelasan materi selesai saat adzan ashar berkumandang. Setelah sholat ashar berjamaah, kami lanjutkan liqo’ dengan khobar. Aku sebagai Amiroh mempersilahkan Widya terlebih dahulu untuk mengabarkan keadaannya sepekan ini.
“Begini kak, tiga hari yang lalu Widya mendapatkan proposal dari teman Widya saat di Aliyah dulu melalui Anissa yang juga sahabat Widya semasa Aliyah. Lalu kemarin, lelaki itu juga datang langsung ke rumah menemui ayah dan menyampaikan maksudnya. Nah, ayah dan ibu sendiri menyerahkan semua keputusan dengan Widya.”
“Sudah istikharah?”
“Sudah kak, dan Alhamdulillah Widya merasa yakin untuk menuju pernikahan.”
“Alhamdulillah,”
“Tetapi, setelah pernikahan nanti Widya tidak bisa bersama lingkaran cinta ini lagi kak. Widya akan ikut suami ke Ponorogo. Ia salah satu pengajar di pesantren Gontor kak.”
“Tidak apa-apa, nanti kakak bantu untuk mencarikan Murobbi pengganti di sana. Yang penting tetap mengaji dan jangan lama-lama untuk proses nikahnya.”
“Ia kak, insya allah pertengahan bulan depan. Mohon do’a nya dari kakak dan teman-teman semua.”
***
Karena saya lelaki, jadi menurut saya lelaki yang berpredikat lelaki terbaik adalah seorang suami yang memuliakan istrinya. Suami yang selalu mengukirkan senyuman di wajah istrinya. Suami yang menjadi qawwam yakni pemimpin dan pelindung istrinya. Suami yang begitu tangguh mencarikan nafkah halal untuk keluarga. Suami yang tak lelah berlemah lembut mengingatkan kesalahan istrinya. Suami yang menjadi seorang nahkoda kapal keluarga, mengarungi samudera agar selamat menuju tepian hakiki Surga. Dia memegang teguh firman Allah, "Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka (QS. At-Tahrim: 6). Itulah hakikat cinta.” Urai Ust. Ilham pada seminar hakikat cinta yang aku dan Alya ikuti.
“Namun cinta di atas segala cinta adalah ketaatan terhadapNya. Hidup saat ini dan setelahnya adalah berkat cintaNya. Segala yang berlandaskan karenaNya adalah sebuah hakikat cinta yang sejati.” Lanjutnya.
“Subhanallah, bagus sekali penjelasan dari Ustadz Ilham ya, Fa.”
“Iya, Al. Cinta di atas segala cinta adalah ketaatan terhadapNya. Al, aku balik duluan ya. Sekarang sudah jam setengah tiga, nggak enak kalau anak-anak harus menunggu lama.”
“Ok. Hati-hati, Fa.”
Aku melajukan sepeda motorku dengan cepat meninggalkan areal ballroom. Karena kurang hati-hati di jalanan yang memang masih basah akibat hujan tadi pagi, aku terjatuh dari sepeda motorku. Sebelum kesadaranku hilang, aku melihat seseorang menolongku.
***
Saat sadar, aku sudah berada di rumah sakit. Kepalaku berdenyut dan kakiku terasa sakit. Ada perban yang kuraba di kening dan kakiku. Ya Allah, mengapa aku bisa kurang hati-hati?
“Alhamdulillah kamu sudah siuman. Bagaimana? masih sakit?”
“Iya dokter. Siapa yang membawa saya ke sini, Dok?”
“Tadi anak saya yang menolong kamu, tetapi karena ada urusan lain jadi dia buru-buru pergi.”
“Terimakasih banyak dok, dan tolong sampaikan juga terimakasih saya dengan anak dokter.”
“Nanti saya sampaikan. Saya juga sudah telepon taxi untuk mengantar kamu pulang karena sepeda motor kamu masuk bengkel.”
“Saya memang kurang hati-hati, Dok. Sekali lagi terimakasih banyak dokter. Saya permisi, Assalamu’alaikum.”
“Wa’alikum salam,”
***
Karena luka di kakiku cukup serius akibat jatuh dari sepeda motor kemarin, aku harus istirahat di rumah selama seminggu. Untungnya kampus sedang liburan semester, jadi aku tidak perlu khawatir ketinggalan pelajaran. Anak-anak didikku juga aku minta datang ke rumah agar mereka tetap bisa belajar. Alya sahabatku, cukup membantuku untuk mengantar jemput anak-anak ke rumahku dan pulang ke rumah mereka. Meskipun mereka sudah terbiasa hidup di jalanan, tetapi keselamatan mereka juga sudah menjadi tanggung jawabku.
“Nak, ayo kita ke rumah sakit. Hari ini kan kita sudah janji dengan Dokter Amar untuk buka perban kamu.”
“O iya, lupa. Keasyikan ngebloging, Ma. Asyifa siap-siap dulu ya,”
“Mama tunggu di mobil ya,”
***
“Alhamdulilah semuanya sudah membaik. Sudah tidak sakit lagi kan?”
“Nggak dok.”
“Tapi walaupun sudah baikan, kalau bisa sebulan ini jangan naik sepeda motor dulu ya.”
“Iya dok. O iya dok, waktu itu sepeda motor saya kan masuk bengkel, terus dua hari kemudian sudah langsung diantar ke rumah. Kok mereka tahu alamat rumah saya ya dok?”
“Anak saya yang menyuruh orang bengkel untuk mengantar langsung ke rumah kamu. Tahunya dari KTP kamu. Maaf kemarin anak saya mengambil KTP kamu untuk melihat identitas. Ini saya balikkan, tadi pagi dia titip karena tahu kamu akan buka perban hari ini.”
“Kalau ada waktu silahkan datang ke rumah dok dengan keluarga. Dokter sudah baik sekali dengan Asyifa.”
“Sudah menjadi kewajiban saya, Bu. Insya allah,”
“Insya allahnya ditagih loh dokter.” Ucapku menegaskan. Dokter Amar hanya tersenyum.
***
“Besok kita ada aksi solidaritas dan penggalangan dana untuk saudara kita di Palestina. Titik kumpulnya di Masid Agung dan berakhir di bundaran SIB.” Info Kak Sakina saat kami liqo’.
“Ok kak, siap!”
***
Di tengah konvoi penggalangan dana, gerimis turun. Tidak ada yang berhenti meneduh. Semua tetap jalan tertib dalam barisan, begitupun dengan teman-teman yang naik sepeda motor dan mobil pick-up. Jilbab sudah basah. Sayangnya, aku dan teman-teman tidak prepare akan jaket dan payung.
“Pakai ini,” Ucapnya.
Entah siapa ia yang memberiku jaketnya kemudian berlalu dengan sepeda motornya menyusul teman-teman yang lain. Aku mempercepat gerakku agar masih bisa mengetahui siapa ia dan tentu saja untuk mengembalikan jaketnya. Namun kakiku yang baru pulih cidera tak mampu berbuat banyak. Aku kehilangan jejak di keramaian manusia yang terlibat dalam aksi.
            “Lihat ikhwan tadi nggak, Na?” Tanyaku paada Ana saat konvoi sudah selesai.
            “Nggak, Fa. Sudah kamu bawa pulang saja jaketnya. Sekarang kita makan yuk! Aku lapar.”
            ***
            “Assalamu’alaikum adik-adik,”
            “Kak Syifa, Wa’alaikum salam..”
            “Maaf ya, minggu lalu kakak nggak bisa ngajar karena ada kegiatan lain.”
            “Tenang kak, asisten kakak telah hadir untuk menggantikan.” Lapor Rasyid sambil menunjuk dirinya sendiri.
            “Terimakasih, Rasyid. Ini kakak lihat buku bacaannya banyak yang baru ya? dari siapa?”
            “Dari Mas Imam. Orangnya baik kak. Selain ngasih buku baru, juga suka bawa makanan untuk kami.”
            “Mas Imam siapa? Kok Kak Syifa baru dengar namanya?”
            “Jadi waktu kakak nggak masuk karena jatuh dari motor, Mas Imam dan beberapa temannya datang ke sini untuk riset. Terus tanya ini itu soal keadaan di sini kak.”
            “Besok-besoknya Mas Imam bawa buku-buku baru dan ngajarin kami mengaji.”
“Nanti Mas Imam juga mau datang kemari kak, mau ngajak makan di luar.”
“Itu mobil Mas Imam datang,” Teriak anak-anak dengan senang.
“Assalamu’alaikum,”
“Wa’alaikum salam,”
“Mas Imam, ini Kak Asyifa.”
“Imam. Maaf ya saya pikir kamu masih sakit, jadi saya mau bawa anak-anak makan di luar.”
“Iya nggak apa-apa. Silahkan kalau mau pergi sama anak-anak. Anak-anak sepertinya juga sudah tidak sabar untuk pergi.”
“Kak Syifa ikut ya! Boleh kan Mas Imam?”
“Tentu saja boleh.”
Sebagian anak-anak naik mobilku dan sebagian lagi naik mobil Imam. Ia mengajak anak-anak ke Mall dan makan di restoran steak. Anak-anak bebas mau pesan makanan apa pun, asal tidak berlebih-lebihan. Selesai makan, anak-anak minta main Tamzone dan ke toko buku.
“Terimakasih ya, kamu sudah baik sekali dengan anak-anak. Mereka kelihatan senang sekali.”
“Memang sudah menjadi hak mereka. Kamu tidak perlu berterimakasih pada saya.” Lelaki ini, seperti tidak asing bagiku.
***
“Syifa, kamu sudah siap untuk menikah?” Kak Sakina bertanya padaku setelah kami selesai liqo’.
“Kenapa kakak menanyakan hal itu?”
“Mutarabbi suami kakak sedang mencari istri. Ia menitipkan proposalnya pada suami kakak. Setelah suami kakak pertimbangkan, ia meminta kakak untuk ikut membantu mencarikan dari salah satu mutarabbi kakak. Kakak sudah membaca proposalnya, dan menurut kakak kamu yang cocok dengannya.”
Aku bingung harus menjawab apa. Selama ini, aku memang tidak pernah bercerita tentang ikhwan manapun dengan Murabbiku. Termasuk tentang ikhwan yang menolongku saat jatuh dari motor. Entah mengapa, aku ingin mengenalnya. Namun, tidak ada yang kuketahui tentang dirinya. Aku juga malu kalau harus bertanya langsung dengan Dokter Amar.
“Kalau menurut kakak ia baik untuk Syifa dalam urusan dunia maupun akhirat, insya allah Syifa bersedia tanpa harus membaca proposalnya.”
“Alhamdulillah, kalau begitu jum’at depan sebelum kita mulai liqo’, kamu bisa berta’aruf dengannya.”
“Baik kak,” Insya Allah ini akan menjadi keputusan yang terbaik. Tidak ada alasan bagiku untuk menolak bernazhar dengan seseorang yang diajukan Murobbiku. Hari itu juga, sesampainya di rumah, aku memberitahu mama dan abi tentang nazhar dan proses ta’aruf yang ditawarkan Kak Sakina.
“Abi dan mama kamu setuju-setuju saja, asalkan ia baik secara agama.”
“Yang penting kamu bahagia, Nak.” Ungkap mama sambil memelukku.
“Maaf bu, tamunya sudah datang,”
“Suruh masuk saja mbok,”
“Siapa yang datang ma?”
“Dokter Amar dan keluarganya. Tadi siang Dokter Amar telepon mama, dia bilang mau memenuhi janji untuk silaturahmi waktu itu. Jadi mama dan abi mengundang Dokter Amar dan keluarganya untuk makan malam di sini.”
“Assalamu’alaikum,”
“Wa’alaikum salam, masuk dokter.”
“Maaf baru bisa berkunjung sekarang. O iya ini istri saya Lia dan kedua anak saya Imam dan Aira.”
Tidak tahu sekenario apa yang sedang berjalan saat ini, yang jelas aku merasa terkejut. Saat ini orang yang membuatku ingin mengenalnya hadir di hadapanku di saat aku sudah menyepakati untuk bernazhar dan melakukan proses ta’aruf dengan ikhwan pilihan Murobbiku. Tidak hanya itu, lelaki itu ternyata Imam. Imam yang disenangi anak-anak jalanan didikanku. Aku mencoba menahan beberapa pertanyaan di kepalaku. Aku tidak ingin mengganggu keakraban abi dengan Dokter Amar dan Imam, begitu pula mama dan Tante Lia. Aku hanya mengobrol dengan Aira.
“Apa kegiatan sekarang, Mam?”
“Hanya pengusaha kecil-kecilan, Om.”
“Dia ini orangnya merendah sekali. Setelah lulus S2 bisnis di Jerman, dia buka restoran steak di sini join sama teman-temannya. Alhamdulillah mereka sudah memiliki delapan cabang. Ada di Medan, Jakarta, Jogja, Bali, Bandung, Semarang, Surabaya, dan Lombok.”
“Wah, bagus itu anak muda berjiwa enterprenuer.”
“Mohon do’anya, Om.”
***
Besoknya aku bertemu dengan Imam saat mengajar anak-anak mengaji. Sikapnya tetap tenang seperti tadi malam.
“Kenapa kamu nggak bilang kalau kamu yang sudah menolong saya waktu itu?”
“Apa perlu saya mengatakan hal tersebut? Apa pantas kita menguraikan pertolongan terhadap seseorang?”
“Jaket ini, apa ini juga punya kamu? Saya baru sadar, bahwa di saku jaket ada kartu nama seseorang yang bernama Imam Abdullah.”
“Maaf waktu itu kurang sopan memberikannya karena juga harus buru-buru menghindari hujan dan menyusul teman-teman yang lain.”
“Pantas waktu pertama kali bertemu di sini, kamu seperti tidak asing bagi saya.”
“Kehidupan ini memang penuh dengan kejutan-kejutan. Baik kejutan yang menyenangkan, maupun kejutan yang mengecewakan. Maka dari itu rukun iman yang terakhir kita diwajibkan mengimani qadha dan qadhar.”
***
“Insya Allah ia calon yang baik,” Hibur Kak Sakina mengetahui kegelisahanku.
Ya, hari ini seperti yang telah dijadwalkan, aku akan bertemu dengan ikhwan yang diajukan Murobbiku. Abi dan mama juga menemaniku di sini.
“Assalamu’alaikum,”
“Wa’alaikum salam,”
“Dokter Amar?”
“Asyifa?”
Kami sama-sama terkejut. Di belakang Dokter Amar ada Tante Lia dan Imam.
“Ya Allah, kalau ini calonnya tidak usah mikir dua kali.” Ungkap mama. Abi dan Dokter Amar tertawa. Tante Lia, Kak Sakina, Ustadz Affan tersenyum memandangku.
“Selalu ada kejutan dalam hidup,”
“Baik yang menyenangkan, maupun yang mengecewakan.” Aku menyambung kalimatnya. Ia tersenyum, aku tertunduk malu.
Allah memiliki rencana yang indah untuk setiap laki-laki dan wanita yang bedo’a dan percaya padaNya.


                                                                                                                 Juni, 2014

Selasa, 20 Mei 2014

Sampaikan Walaupun Satu Ayat



[BACA PELAN-PELAN DENGAN SEKSAMA]
💥Jangan baring ketika adzan, nanti jenazah kita berat."
Rasulullah S.A.W bersabda "Sebarkan Walaupun
Daripada Sepotong Ayatku..
💥 Jangan berkata-kata semasa adzan, agar lidah tidak kelu menyebut syahadat ketika sakaratul maut..
💥 5 perkara orang Islam patut tahu berkenaan dengan kesehatan.
Al-Quran ada mengajar kita menjaga kesehatan dengan membuat amalan seperti berikut :
🌠 1. Mandi pagi sebelum subuh atau sekurang-kurangnya sejam sebelum matahari naik.
Air sejuk yang meresap ke dalam badan bisa mengurangkan lemak yg terkumpul. Kita bisa lihat orang yg mengamal mandi pagi kebanyakan badan nya tidak gemuk.
 2. Rasulullah SAW mengamalkan minum segelas air sejuk(bukan air es) setiap pagi.
Mujarabnya, Insya Allah jauh dari penyakit (susah kena penyakit).
🌠 3. Waktu sholat Subuh disunatkan kita bertafakur (yaitu sujud sekurang kurangnya semenit selepas membaca doa).
Ia bisa mengelak dari sakit pening atau migrain.
Ini terbukti oleh para saintis yg membuat kajian kenapa dalam sehari perlu kita sujud.
Ahli-ahli sains telah menemui beberapa milimeter ruang udara dalam saluran darah di kepala yang tidak dipenuhi darah. Dengan bersujud maka darah akan mengalir ke ruang tersebut.
🐓 4. Dalam kitab juga ada melarang kita makan makanan darat bercampur dengan makanan laut.
Nabi pernah mencegah kita makan ikan bersama ayam. Dikhawatirkan akan cepat mendapat penyakit.
Ini terbukti oleh saintis yang menemukan dimana dalam badan ayam mengandungi ion + ve, manakala dalam ikan mengandung ion-ve, jika dalam suapan ayam bercampur dengan ikan maka terjadi tindak balas biokimia yang terhasil yg bisa merusak USUS kita.
Orang yahudi suka memakan ikan tanpa bercampur dengan makanan bercampur ayam.
 5. Nabi juga mengajar kita makan dengan tangan kanan dan bila habis hendaklah menjilat jari.
Begitu juga ahli sains telah menemukan bahwa ENZYME banyak terkandung di celah jari, yaitu 10 kali lipat terdapat dalam air liur. (Enzyme sejenis alat percerna makanan, tanpanya makanan tidak terurai).
 Sabda Nabi SAW, Ilmu itu milik Allah, barangsiapa menyebarkan ilmu demi kebaikkan Insya Allah, Allah akan menggandakan 10 kali lipat kepadanya.
Cara senang utk dapatkan pahala
walaupun sesudah mati,,,:
😇 Pasang kipas di surau/masjid
walaupun 1, setiap kali orang pakai,
anda dpt pahala walau sesudah mati.
 Derma kursi roda di RS, setiap kali pasien gunakan,
anda akan dpt pahala.
 Beri baju kpd orang , setiap kali
org pakai , anda dpt pahala.
 Beri makanan kpd org , anda
dpt pahala selagi makanan itu
mnjadi darah daging nya.
📚 Menyampaikan ilmu yg bermanfaat, selagi mereka mengamalkan pahala anda tetap ada.
😎 Berbagi pesan ini kpd orang banyak 👪. Walaupun 1 tolong
bagikan kpd org, anda akn dpt pahala sbb anda telah berdakwah
utk sampaikan ilmu.
InsyaAllah yg penting keikhlasan karena Allah semata 😊...
✋✌☺7 kalimat yg harus di biasakan..
🌀1.BismIllahirrahmannirrahim-Setiap hendak melakukan sesuatu.
🌀 2.AlhamdulIllah-Setiap habis melakukan sesuatu.
🌀 3.AstagafirUllah-Jika melakukan sesuatu yg buruk.
🌀 4.InsyaAllah-Jika ingin melakukan sesuatu pada masa yg akan dtg.
🌀 5.Laa hawla walaaquwwata illaa billaah-Bila tidak dpt melakukan sesuatu yg agak berat/melihat hal yg buruk.
🌀 6.Innalillahi wainna ilaihi rojiun-Jika melihat/menghadapi musibah atau menerima kabar kematian.
🌀 7.Lailaha illAllah-Bacalah siang dan malam sebanyak-banyaknya.
💥Ada 2 ✌pilihan utk anda :
🙇 1. Biarkan saja tulisan ini tanpa bermanfaat utk org lain.
atau
👍 2. Anda sebarkan kepada semua kenalan anda.👍
📖✨Rasulullah SAW bersabda,
"Barangsiapa yg menyampaikan ilmu saja dan ada org yg mengamalkannya, maka walaupun yg menyampaikan sudah tiada (meninggal dunia), dia akan tetap memperoleh pahala..
🍃
Amiiin yaa Robbal alamin... 😊
👍Semoga bermanfaat

Senin, 28 April 2014

Cerpen Ke-6 di Dakwatuna


Kutemui dan Kunikahi Engkau di Masjid
(Masjid, ich bin verliebt)

            Siang itu, cuaca tidak terlalu baik. Musim dingin di Berlin mencapai -0,5̊ C. Jalanan kota tampak lengang, bisa di tebak separuh penduduk kota ini sedang berada di depan perapian masing-masing, menghangatkan diri. Aku tiba di Masjid Umar Bin Khatabb jam dua belas. Masih ada waktu kosong dua jam sebelum jadwal mengajar Al-Quranku di Masjid ini. Untung saja masjid ini memiliki restoran ditingkat atas, sehingga aku tidak perlu keluar lagi untuk mencari makan siang.
            Masjid yang di resmikan pada 21 Mei 2010 ini terdiri dari tujuh lantai. Dua lantai untuk tempat sholat dengan daya tampung seribu jamaah. Di setiap lantainya, terdapat fasilitas umum seperti kantor jasa perjalanan, sekolah Alquran dan Bahasa Arab bagi anak-anak, toko buku, cafe, restoran, jasa pelayanan kematian bagi umat muslim, hingga toko daging halal pun ada.
Aku memesan Kohlsuppe (sup kol) dan Erbsensuppe (sup kacang polong) dan teh hangat.
            “Assalamu’alaikum, Mas Faris,”
            “Wa’alaikum salam. Hafiz? Lama tidak bertemu. Kamu di German juga? Habis dari mana?”
            “Habis dari toko buku, Mas. Senang sekali bisa bertemu dengan Mas Faris di sini. Bertemu dengan saudara setanah air itu ibarat bertemu telaga surga. Sejuk.” Ia sumringah sekali.
            “Sudah lama di German, Fiz? Study di sini?”
            “Lah, mas ini tinggal di German kok bahasanya Inggris? Ia mas, baru tahun kedua. Kedokteran. Do’a kan ya biar lancar.”
            “Udah tahun kedua kok ketemunya baru sekarang ya?”
            “Kalau itu, jawabannya bisa ada beberapa kemungkinan mas. Kalau ndak saya atau mas yang sibuk, berarti memang baru ini takdirnya untuk ketemu. Hehehe..”
            “Kamu kenapa nggak ngabarin mas? O ya, kamu sudah pesan makanan? ayo pesan, biar mas yang traktir. Biasanya kan kantong anak kuliahan terbatas bulanan.” Candaku.
            “Ah, sampean ini mas. Pengertiannya menusuk hati sekali. Hehe..”
            Benar yang Hafiz katakan, bertemu saudara sendiri seperti menemui telaga surga. Sejuk. Dinginnya cuaca pun berganti hangat tawa. Hafiz, adik sepupuku dari Malang Surabaya ini bercerita banyak tentang pengalaman tahun pertamanya di kampus dan tinggal di German. Setelah sholat zuhur, aku pun mengajak Hafiz turut serta bersamaku mengajar anak-anak mengaji Al-Qur’an. Dua jam berlalu. Setelah sholat ashar berjamaah, murid-muridku pun pamit pulang. Aku senang dengan semangat mereka belajar mengaji. Meskipun cuaca dingin, mereka tetap hadir untuk mempelajari kalam Qur’an. Aku pun berjanji mengajak mereka liburan setelah musim dingin berlalu, sebagai reward atas semangat mereka.
            “Kalau begitu, saya pamit pulang ke asrama ya, Mas.”
            “Kalau kamu mau, kamu bisa tinggal sama mas. Mas kan tinggal sendiri di sini.”
            “Makanya Mas Faris harus menikah biar tidak tinggal sendiri lagi. Sudah 25 tahun kan? Ganteng, soleh, mapan pula. Tunggu apa lagi?”
            “Tunggu jodohnya, hehe..”
***
Turun ke lantai satu ruang sholat, aku dan Hafiz berpapasan dengan Sarah yang tengah memeluk seorang wanita. Wanita itu menangis sesengkuan di bahunya.
“Ru..qaya?” Panggil Hafiz sedikit ragu. Wanita yang berada dalam pelukan Sarah berpaling melihat ke arah Hafiz.
“Kamu kenapa menangis?”
Wanita yang bernama Ruqaya itu menghapus air mata dengan jemarinya. Ia tersenyum ke arah Hafiz dan aku, “Insya Allah, Alles Gute.”
“Katakanlah, bukankah kita teman?”
Sarah mengajak kami untuk berbincang di kafe. Di sana Ruqaya menceritakan sebab tangisannya kepadaku dan Hafiz. Ruqaya yang bernama asli Natalia Anne Muller, berasal dari keluarga nasrani yang taat. Setengah tahun yang lalu ia menjadi mualaf di Masjid Umar Bin Khatabb karena tersentuh oleh bacaan Al-Qur’an seorang pemuda yang ia dengar. Padahal saat itu, ia datang ke Masjid Umar hanya untuk melihat interior dan kemegahan masjid baru ini.
Setelah itu, ia pun kerap datang ke masjid ini, dan disitulah ia berjumpa dengan Sarah. Karena sering mengobrol dan bertanya ini itu tentang islam, mereka pun akhirnya menjadi teman akrab. Sarah yang tiga tahun lebih tua dari Ruqaya, sudah menganggap Ruqaya seperti adiknya sendiri. Lima bulan perjalanannya sebagai mualaf, Ruqaya sudah hafal juz amma. Ia dibantu Ustadzah Yasmin, salah satu staf konsultasi masjid Umar. Namun di tengah proses  belajarnya sebagai muslim, sebulan yang lalu rahasia kemuslimannya pun diketahui oleh keluarganya.
Ketika itu, Ruqaya sedang sholat maghrib di kamarnya. Di tengah sholat, ayahnya memanggil dan mengetuk pintu kamar. Karena Ruqaya tidak menjawab, ayahnya pun membuka pintu kamarnya.
“Natalia!” Teriak ayahnya, murka. Namun Ruqaya tak menjawab, ia tetap tenang dalam tasyahud akhirnya. Ia tak merespon teriakan ayahnya sampai sholatnya selesai.
“Sudah kuduga ada yang lain dari dirimu. Mengapa tadi kau tak ikut makanan siang bersama. Beberapa minggu yang lalu temanku juga menelepon mengatakan bahwa ia melihatmu memasuki Masjid. Aku pikir ia hanya salah orang, tetapi sekarang aku melihat dengan mata kepalaku sendiri! Kamu akan mendapatkan hukuman atas ini, Nat! Ayo ikut Ayah!”
“Ayah, setiap orang bebas memeluk agama yang ia yakini kebenarannya.”
“Mungkin untuk orang lain bisa, tapi kau anakku! aku yang mengatur hidupmu!”
Saat itu juga, ayahnya memukuli, menarik paksa dan menyeret Ruqaya ke gudang. Ia dibiarkan tinggal di sana. Bahkan, tak ada yang memberinya makan malam. Keadaannya cukup lemas karena saat berbuka puasa sunah tadi, ia hanya meminum seteguk teh. Di hari ketiga, ibunya diam-diam memberinya selimut, beberapa potong roti dan segelas susu. Ia tidak tega melihat Ruqaya tidur di lantai tanpa beralas apapun di musim dingin ini. Ruqaya merasa lega, karena ibunya tidak membenci dirinya atas pilihan hidup yang ia ambil.
“Bila menurutmu ini yang terbaik untuk kau jalani, maka laluilah dengan keimananmu, Nak. Semoga Tuhan menjagamu.”
Hari berikutnya, ayahnya memperlakukan Ruqaya seperti budak. Ia disuruh kerja ini itu, tanpa memberinya waktu istirahat dan makan yang cukup. Melihat keadaan Ruqaya yang semakin mengenaskan, tadi malam ibunya menyuruh Ruqaya untuk pergi dari rumah. Ia tidak ingin Ruqaya diperlakukan terus-terusan seperti itu. Kalau Ayahnya nekat, bisa saja sewaktu – waktu ia menjual Ruqaya. Aku dan Hafiz terdiam mendengar penuturannya. Aku pandang Ruqaya sekilas, ada memar di pelipisnya. Hafiz, tiba-tiba menarikku sedikit menjauh dari Sarah dan Ruqaya.
“Ada apa, Fiz?”
“Mas, saya pikir kamu sudah menemukan jodohmu,”
“Maksudmu Ruqaya?”
“Mas, saya berani menjamin bahwa ia wanita yang baik, bahkan jauh sebelum ia menjadi mualaf. Apalagi setelah sedemikiannya cobaan yang dia hadapi demi hijrahnya.”
Aku tersenyum, “Tidak usah khawatir, sebelum kamu minta, tadi juga sudah terlintas dipikiran mas. Bagaimanapun juga, menyelamatkan jiwa seorang muslim itu wajib.”
“Alhamdulillah, saya memang tidak salah mengagumi orang.”
Aku dan Hafiz kembali ke meja kami. Dengan Bismillah kuutarakan niatku, “Saya tidak tahu, apa hal yang saya sampaikan ini cukup membantu atau tidak, tetapi bila diizinkan, saya bermaksud menawarkan diri saya untuk menikahimu, Ruqaya.”
Sarah tampak kaget, namun sedetik kemudian tersenyum, Hafiz tampak bersemangat sekali, dan Ruqaya malah menangis memeluk Sarah. Apa ia tidak suka?
“Kalau kamu tidak setuju juga tidak apa, tapi kumohon jangan menangis,” Ucapku merasa bersalah.
“Ia terharu. Ini tangis bahagia, bukan bersedih Faris.” Jelas Sarah. Aku hanya ber ‘O’ saja sementara Hafiz menertawaiku. Alhamdulillah.
Saat itu juga aku mengabari staf Masjid Umar bin Khatabb untuk proses akad besok. Ruqaya ingin menikah di masjid ini. Karena aku juga mengajar di masjid ini, jadi banyak pihak yang turut membantu dengan suka rela pernikahan kami.
***
“Wah, cakep sekali sampean, Mas. Makin keluar nih aura kebahagiaan calon pengantin.” Goda Hafiz saat melihatku keluar kamar dengan pakaian pengantin.
“Dari dulu mas memang sudah cakep. Hehehe..” Karena kejadian semalam, Hafiz tidak jadi pulang ke asrama. Ia menginap di rumahku untuk membantu proses acara hari ini. Ruqaya sendiri menginap di apartemen Sarah. Jam sembilan kami tiba di masjid dan langsung proses akad dilaksanakan.
“Saya terima nikah dan kawinnya Ruqaya binti Jhon Muller dengan mas kawin seperangkat alat sholat, sebuah Al-Quran, dan uang sebesar 15.000 Euro dibayar tunai.”
“Sah? Barakallahulaka..,”
***
“Mas, kita ngaji bareng yuk?” Ajakmu setelah kita sholat subuh bersama. Aku tersenyum mendengarnya. Istriku tercinta langsung mengambil dua Al-Quran yang terletak di atas meja kerjaku.
“Mas yang baca terlebih dahulu, setelah itu baru saya.”
Aku memulai dengan ta'awudz dan basmalah. Kubaca surah Ar-Rahman. Hingga pada kalimat, “Maka nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang kau dustakan” Ruqaya menangis. Terus menangis sesengkuan.
Aku memberhentikan bacaanku, “Kamu tidak apa-apa Dinda?”
“Saya merasa bersyukur sekali dengan nikmat yang Allah berikan. Kamu tahu mas, kamu adalah jembatan cahaya dari cahaya yang kudapatkan.”
“Maksud Dinda?
“Kamu tahu kan saya mendapat hidayah untuk memeluk islam karena mendengar bacaan Al-Quran di masjid Umar? dan orang yang membaca Al-Quran itu adalah kamu mas. Dan saya tidak menyangka karena pada akhirnya kamu juga yang menyelamatkan hidup saya dari keterasingan keluarga sendiri. Kamu memuliakan saya dengan menjadikan saya pendamping hidupmu. Maka nikmat Allah yang mana lagi yang saya dustakan? Allah sangat menyayangi saya.” Ucapnya masih dengan tangis sesengkuan.

“Allah menyayangi kita, Dinda. Mas juga sangat bersyukur memiliki istri soleha seperti Dinda yang terus giat mempelajari islam. Menyukai semua hal tentang islam. Begitu sami’na wa atho’na terhadap seruan Allah. Kamu yang mas pinta untuk menjadi bidadari surga mas kelak.” Aku mencium dahinya. Ia tenang, diam dalam pelukku.

Selasa, 10 Desember 2013

CERPEN KETIGA DI DAKWATUNA "AKU & SI MBAH

Aku dan Si Mbah
Entahlah! Rasanya tidak masuk akal bagiku ketika kudengar cerita Uwakku tentang Mbah Saif. Sosok yang belakangan ini kerap kudengar namanya dari mulut-mulut keluargaku, ah tidak! Sudah merembet pula rupanya pada tetangga kiri kanan rumahku. Pasalnya, cerita ini dimulai ketika seminggu yang lalu Uwak Tiur diminta untuk menemani salah seorang temannya di pabrik, pergi berobat.
Sudah sebulan belakangan ini, temannya itu merasakan sakit di kepala. Bermacam-macam obat sakit kepala yang dibelinya di kedai dekat rumah maupun pabrik, tak ada yang berhasil menyembuhkannya. Ke dokter, ia tak mau. Biaya mahal, diagnosa penyakit pun tak jelas menurutnya. Jadilah mereka pergi ke rumah Mbah Saif atas saran dari penjual obat dekat pabrik. Berdua dengan kereta, mereka melewati jalanan yang penuh dengan pohon-pohon tua. Hingga di ujung belokan jalan, tampak rumah panggung sesuai alamat yang diberikan penjual obat siang tadi.
“Ada paku-paku yang keluar dari kepala temenku itu. Berkarat, namun ada juga yang masih baru. Banyak! Ada 12 paku.”
“Seharusnya Wak ambil. Lumayan buat persediaan paku di rumah.”
“Asal kau tau, pakunya harus dibuang ke sungai atau ditanam. Bukan buat dipakai lagi. Nanti bisa kau pula yang kena santet!” Repet Wak Tiur padaku.
Uwak Tiur mempercayai kehebatan Mbah Saif, sebab mujurnya, esok tak ada lagi keluhan sakit di kepala yang keluar dari mulut temannya itu.
Cerita yang hebat itu mempengaruhi Bu Rustam. Mertuanya yang lumpuh, hendak ia bawa ke Mbah Saif agar sembuh dan bisa berjalan kembali. Hanya saja proses itu belum sempat ia lakukan, mengingat harus keluar kota selama tiga hari dalam tugas dinas. Tapi tak sama dengan Mpok Niluh. Ia begitu semangat membawa anak gadisnya bertemu Mbah Saif agar segera mendapat jodoh. Usia anak perawannya yang hampir kepala tiga itu ternyata membuat Mpok Niluh kalut tak dapat mantu.
Dari Mbah Saif mereka mendapat “oleh-oleh” bunga-bunga cantik untuk dimandikan, jamu untuk diminum, dan dibukakan aura. Aura apa coba? Bentuknya pun tak jelas! Aura yang kutahu, ya Aura Kasih penyanyi di TV. Namun lagi-lagi komentarku di pandang sinis.
“Bau kencur mana ngerti!”
Hebatnya lagi, penjual kedai nasi di depan kompleks rumahku jadi laris manis setelah mengunjungi Mbah Saif. Padahal dulunya sepi. Aku jadi penasaran bagaimana ia melakukan semua ini?
“Jadi bertambah rezekinya Uni,”
“Iya Alhamdulillah, Mbah Saif rancak!”
“Hm, ramai karena oleh-oleh Mbah Saif, atau karena harga yang diturunkan ya?” komentarku yang spontan itu mendapat cubitan dari Mama dan tatapan polos dari Uni.
***
Pagi-pagi perutku rasanya sakit sekali. Bajuku basah karena keringat dingin menahan sakit. Aku berteriak-teriak memanggil Mama, namun sampai suaraku tertahan di kerongkongan tak dapat di keluarkan, Mama tetap tak jua datang menghampiri. Kupecahkan saja gelas yang ada di meja untuk menarik perhatian. Dan berhasil! Mama datang.
“Ya Allah, kamu kenapa, Nak?”
“Sakit perut, Ma.”
“Sampai keringat dingin, Mama carikan obat dulu ya.”
Sepuluh menit berikutnya Mama kembali dengan obat sakit perut. Kuminum, lalu istirahat sejenak. Dua jam berikutnya aku berulah lagi. Perutku kembali sakit. Mama mencoba mengolesiku dengan minyak yang dicampur bawang merah, lalu aku disuruh tidur. Namun ulahku belum selesai sampai di situ, karena esok paginya aku merengek sakit perut lagi.
“Kita bawa ke tempat Mbah Saif aja, Yan,”
“Ke dokter saja lah kak Tiur.”
“Kau ini, dokter sekarang tak bisa dipercaya. Sudah, kutemani kau ke sana.”
Sepanjang jalan ke tempat Mbah Saif, Uwak Tiur mengomentari sikapku yang selama ini sering menjelek-jelekkan Mbah Saif. Uwakku yang tambun itu mengatakan, aku harus menyesali semua komentarku yang lalu, kalau nanti Mbah Saif berhasil menyembuhkanku.
Parahnya lagi, ia menduga sakit perut yang kualami karena kualat sering mengatai Mbah Saif. Ah, Uwakku itu, ternyata sudah banyak meninggalkan….
***
Kedatangan kami disambut seorang lelaki sepuh. Penampilan yang tercermin dari orang yang dibanggakan uwakku ini terlihat seperti layaknya seorang Kiai besar. Ia mempersilahkan kami masuk dan tak banyak basa-basi, langsung menanyakan sakitku.
“Sakit apa?”
“Perutnya Mbah, dari kemarin katanya sakit. Udah dikasih obat dan disapukan minyak bawang, tapi belum sembuh juga.”
“Golekkan dia di sini.”
Aku disuruh berbaring di hadapan lelaki sepuh ini. Ia memeriksa perutku yang di atasnya telah ia taruhkan kain sarung, lalu perlahan ia menarik sesuatu dari perutku.
“Bungkusan hitam?” Pekik Mama dengan penuh keheranan.
“Setelah ini langsung dibuang saja ke sungai. Besok kembali lagi.” Komentarnya singkat dan dingin.
Besoknya bukan bungkusan hitam tak jelas entah apa isinya lagi yang keluar dari perutku, tapi beberapa jarum patah yang semuanya berkarat. Mama bolak-balik istighfar melihatnya. Dihari ketiga kedatanganku, banyak tamu yang berkunjung mengharap kesembuhan dari Mbah Saif. Ada lima belas orang, tak terhitung dengan keluarga yang ikut mengantar. Ini waktu yang tepat bagiku untuk bertanya.
“Mbah, apa tanggapan mbah dengan riwayat hadis Imam Muslim yang isinya, Nabi Muhammad melarang mendatangi para kaahin?” Ia tak menjawab. Hanya memandangku semenit, lalu fokus dengan pasiennya.
“Lalu ada lagi riwayat Bukhari-Muslim, yang isinya nabi mengatakan bahwa kaahin itu bukan apa-apa’.”
“Tapi yang kukatakan benar dan sembuh.”
“Kalaupun apa yang dikatakana kaahin itu benar, itu adalah suatu kebenaran yang disambar oleh seorang jin lalu jin itu menjelaskannya kepada telinga walinya, lalu mereka mencampurnya dengan seratus kebohongan.” Kukatakan komentar itu sambil membaca buku catatan kecilku yang telah kutulis beberapa hari yang lalu dari sebuah sumber di internet.
Semua orang memandangiku. Tak terkecuali Mama dan Uwak Tiur. Aku masih tetap menampilkan wajah naifku sambil menatap Mbah Saif, menanti jawaban. Orang yang ditunggu jawabannya malah menatapku balik tak karuan.
“Kalau kau anggap aku salah, lalu kenapa kau datang padaku? Bukankan sholatmu tak akan diterima selama empat puluh hari?”
“Cerdas!” Aku tertawa sambil mendengar pertanyaan si Mbah.
“Sakit perut itu hanya modus saya agar bisa ketemu si Mbah. Jadi saya ikuti saja permainan Mbah yang malah mengeluarkan bungkusan hitam tak jelas, begitupun dengan paku-paku dari perut saya. Wong perut saya aman sentosa kok!”
“Lagi pula kalau saya tidak datang, maka uwak saya ini akan terus membanggakan Mbah di depan orang-orang. Itu artinya, akan semakin banyak orang yang salah jalur dan semakin banyak pula dosa yang berserakan. Saya mahasiswa ingusan berhak menegur dengan ilmu yang telah didapatkan.”
“Jadi bapak ibu, menutup rapat jalan yang menuju kerusakan itu lebih didahulukan daripada mengambil suatu manfaat. Kalau sakit, lebih halal datang ke dokter. Lebih baik kehilangan banyak uang daripada kehilangan surga.” Ceramahku mirip ustadzah. Semuanya diam. Sama halnya dengan Mbah Saif. Namun matanya lebih menyala ke arahku.
“Oya Mbah, jangan mempermalukan kita dengan memanfaatkan pakaina suci itu. Ayo Ma, Wak, kita pulang.” Ajakku tanpa mau berpanjang lebar urusan lagi.
“Tunggu, Nak! Kaahin itu apa ya?” Tanya salah seorang ibu pengunjung.
“Alamak, sudah dijelaskan panjang lebar, tak paham juga kah? Gawat ibu-ibu ini.” Batinku (*)
                                               
Medan, 2013


Senin, 17 Juni 2013

Puisi Pilar Aisyah di Dakwatuna "Kesatria 2020"


Kesatria 2020
Apa makna dari zaman milenia?
Jika yang kau dapat hanya kehedonisan semata.
Dimana ia prajurit Khandaq?
yang siap menahan lilitan lapar demi terbit sang fajar.
Di negeriku, pemuda-pemudi diarak.
Disuguhi teori-teori purbakala penipu dunia.
Mengagungkan logika di atas ketauhidannya.
Menampar empati dan simpati untuk eksistensi diri tak berarti.
Tidakkah kau cemburu pada serdadu badar?
Tidak mampukah kau petik arti perang uhud?
Tidakkah kau malu pada pemuda sejati bernama Muhammad?
Yang masih menyebutmu meski ruh telah sampai di kerongkongan.
Nun, jikalah cermin masih kau punya,
Tentu retak diri yang kau dapat.
Negeri tentu rindu sosok Al-Fatih.
Tak pelak, bersabarlah negeriku,
Aku yakin masih ada jiwa yang tak membatu.
Aku masih mendengar nurani berseru!
Meski parau terindikasi di telingaku,
Pemuda kesatria menakbirkan Indonesia emas 2020…
Riska H Akmal