Senin, 28 April 2014

Cerpen Ke-6 di Dakwatuna


Kutemui dan Kunikahi Engkau di Masjid
(Masjid, ich bin verliebt)

            Siang itu, cuaca tidak terlalu baik. Musim dingin di Berlin mencapai -0,5̊ C. Jalanan kota tampak lengang, bisa di tebak separuh penduduk kota ini sedang berada di depan perapian masing-masing, menghangatkan diri. Aku tiba di Masjid Umar Bin Khatabb jam dua belas. Masih ada waktu kosong dua jam sebelum jadwal mengajar Al-Quranku di Masjid ini. Untung saja masjid ini memiliki restoran ditingkat atas, sehingga aku tidak perlu keluar lagi untuk mencari makan siang.
            Masjid yang di resmikan pada 21 Mei 2010 ini terdiri dari tujuh lantai. Dua lantai untuk tempat sholat dengan daya tampung seribu jamaah. Di setiap lantainya, terdapat fasilitas umum seperti kantor jasa perjalanan, sekolah Alquran dan Bahasa Arab bagi anak-anak, toko buku, cafe, restoran, jasa pelayanan kematian bagi umat muslim, hingga toko daging halal pun ada.
Aku memesan Kohlsuppe (sup kol) dan Erbsensuppe (sup kacang polong) dan teh hangat.
            “Assalamu’alaikum, Mas Faris,”
            “Wa’alaikum salam. Hafiz? Lama tidak bertemu. Kamu di German juga? Habis dari mana?”
            “Habis dari toko buku, Mas. Senang sekali bisa bertemu dengan Mas Faris di sini. Bertemu dengan saudara setanah air itu ibarat bertemu telaga surga. Sejuk.” Ia sumringah sekali.
            “Sudah lama di German, Fiz? Study di sini?”
            “Lah, mas ini tinggal di German kok bahasanya Inggris? Ia mas, baru tahun kedua. Kedokteran. Do’a kan ya biar lancar.”
            “Udah tahun kedua kok ketemunya baru sekarang ya?”
            “Kalau itu, jawabannya bisa ada beberapa kemungkinan mas. Kalau ndak saya atau mas yang sibuk, berarti memang baru ini takdirnya untuk ketemu. Hehehe..”
            “Kamu kenapa nggak ngabarin mas? O ya, kamu sudah pesan makanan? ayo pesan, biar mas yang traktir. Biasanya kan kantong anak kuliahan terbatas bulanan.” Candaku.
            “Ah, sampean ini mas. Pengertiannya menusuk hati sekali. Hehe..”
            Benar yang Hafiz katakan, bertemu saudara sendiri seperti menemui telaga surga. Sejuk. Dinginnya cuaca pun berganti hangat tawa. Hafiz, adik sepupuku dari Malang Surabaya ini bercerita banyak tentang pengalaman tahun pertamanya di kampus dan tinggal di German. Setelah sholat zuhur, aku pun mengajak Hafiz turut serta bersamaku mengajar anak-anak mengaji Al-Qur’an. Dua jam berlalu. Setelah sholat ashar berjamaah, murid-muridku pun pamit pulang. Aku senang dengan semangat mereka belajar mengaji. Meskipun cuaca dingin, mereka tetap hadir untuk mempelajari kalam Qur’an. Aku pun berjanji mengajak mereka liburan setelah musim dingin berlalu, sebagai reward atas semangat mereka.
            “Kalau begitu, saya pamit pulang ke asrama ya, Mas.”
            “Kalau kamu mau, kamu bisa tinggal sama mas. Mas kan tinggal sendiri di sini.”
            “Makanya Mas Faris harus menikah biar tidak tinggal sendiri lagi. Sudah 25 tahun kan? Ganteng, soleh, mapan pula. Tunggu apa lagi?”
            “Tunggu jodohnya, hehe..”
***
Turun ke lantai satu ruang sholat, aku dan Hafiz berpapasan dengan Sarah yang tengah memeluk seorang wanita. Wanita itu menangis sesengkuan di bahunya.
“Ru..qaya?” Panggil Hafiz sedikit ragu. Wanita yang berada dalam pelukan Sarah berpaling melihat ke arah Hafiz.
“Kamu kenapa menangis?”
Wanita yang bernama Ruqaya itu menghapus air mata dengan jemarinya. Ia tersenyum ke arah Hafiz dan aku, “Insya Allah, Alles Gute.”
“Katakanlah, bukankah kita teman?”
Sarah mengajak kami untuk berbincang di kafe. Di sana Ruqaya menceritakan sebab tangisannya kepadaku dan Hafiz. Ruqaya yang bernama asli Natalia Anne Muller, berasal dari keluarga nasrani yang taat. Setengah tahun yang lalu ia menjadi mualaf di Masjid Umar Bin Khatabb karena tersentuh oleh bacaan Al-Qur’an seorang pemuda yang ia dengar. Padahal saat itu, ia datang ke Masjid Umar hanya untuk melihat interior dan kemegahan masjid baru ini.
Setelah itu, ia pun kerap datang ke masjid ini, dan disitulah ia berjumpa dengan Sarah. Karena sering mengobrol dan bertanya ini itu tentang islam, mereka pun akhirnya menjadi teman akrab. Sarah yang tiga tahun lebih tua dari Ruqaya, sudah menganggap Ruqaya seperti adiknya sendiri. Lima bulan perjalanannya sebagai mualaf, Ruqaya sudah hafal juz amma. Ia dibantu Ustadzah Yasmin, salah satu staf konsultasi masjid Umar. Namun di tengah proses  belajarnya sebagai muslim, sebulan yang lalu rahasia kemuslimannya pun diketahui oleh keluarganya.
Ketika itu, Ruqaya sedang sholat maghrib di kamarnya. Di tengah sholat, ayahnya memanggil dan mengetuk pintu kamar. Karena Ruqaya tidak menjawab, ayahnya pun membuka pintu kamarnya.
“Natalia!” Teriak ayahnya, murka. Namun Ruqaya tak menjawab, ia tetap tenang dalam tasyahud akhirnya. Ia tak merespon teriakan ayahnya sampai sholatnya selesai.
“Sudah kuduga ada yang lain dari dirimu. Mengapa tadi kau tak ikut makanan siang bersama. Beberapa minggu yang lalu temanku juga menelepon mengatakan bahwa ia melihatmu memasuki Masjid. Aku pikir ia hanya salah orang, tetapi sekarang aku melihat dengan mata kepalaku sendiri! Kamu akan mendapatkan hukuman atas ini, Nat! Ayo ikut Ayah!”
“Ayah, setiap orang bebas memeluk agama yang ia yakini kebenarannya.”
“Mungkin untuk orang lain bisa, tapi kau anakku! aku yang mengatur hidupmu!”
Saat itu juga, ayahnya memukuli, menarik paksa dan menyeret Ruqaya ke gudang. Ia dibiarkan tinggal di sana. Bahkan, tak ada yang memberinya makan malam. Keadaannya cukup lemas karena saat berbuka puasa sunah tadi, ia hanya meminum seteguk teh. Di hari ketiga, ibunya diam-diam memberinya selimut, beberapa potong roti dan segelas susu. Ia tidak tega melihat Ruqaya tidur di lantai tanpa beralas apapun di musim dingin ini. Ruqaya merasa lega, karena ibunya tidak membenci dirinya atas pilihan hidup yang ia ambil.
“Bila menurutmu ini yang terbaik untuk kau jalani, maka laluilah dengan keimananmu, Nak. Semoga Tuhan menjagamu.”
Hari berikutnya, ayahnya memperlakukan Ruqaya seperti budak. Ia disuruh kerja ini itu, tanpa memberinya waktu istirahat dan makan yang cukup. Melihat keadaan Ruqaya yang semakin mengenaskan, tadi malam ibunya menyuruh Ruqaya untuk pergi dari rumah. Ia tidak ingin Ruqaya diperlakukan terus-terusan seperti itu. Kalau Ayahnya nekat, bisa saja sewaktu – waktu ia menjual Ruqaya. Aku dan Hafiz terdiam mendengar penuturannya. Aku pandang Ruqaya sekilas, ada memar di pelipisnya. Hafiz, tiba-tiba menarikku sedikit menjauh dari Sarah dan Ruqaya.
“Ada apa, Fiz?”
“Mas, saya pikir kamu sudah menemukan jodohmu,”
“Maksudmu Ruqaya?”
“Mas, saya berani menjamin bahwa ia wanita yang baik, bahkan jauh sebelum ia menjadi mualaf. Apalagi setelah sedemikiannya cobaan yang dia hadapi demi hijrahnya.”
Aku tersenyum, “Tidak usah khawatir, sebelum kamu minta, tadi juga sudah terlintas dipikiran mas. Bagaimanapun juga, menyelamatkan jiwa seorang muslim itu wajib.”
“Alhamdulillah, saya memang tidak salah mengagumi orang.”
Aku dan Hafiz kembali ke meja kami. Dengan Bismillah kuutarakan niatku, “Saya tidak tahu, apa hal yang saya sampaikan ini cukup membantu atau tidak, tetapi bila diizinkan, saya bermaksud menawarkan diri saya untuk menikahimu, Ruqaya.”
Sarah tampak kaget, namun sedetik kemudian tersenyum, Hafiz tampak bersemangat sekali, dan Ruqaya malah menangis memeluk Sarah. Apa ia tidak suka?
“Kalau kamu tidak setuju juga tidak apa, tapi kumohon jangan menangis,” Ucapku merasa bersalah.
“Ia terharu. Ini tangis bahagia, bukan bersedih Faris.” Jelas Sarah. Aku hanya ber ‘O’ saja sementara Hafiz menertawaiku. Alhamdulillah.
Saat itu juga aku mengabari staf Masjid Umar bin Khatabb untuk proses akad besok. Ruqaya ingin menikah di masjid ini. Karena aku juga mengajar di masjid ini, jadi banyak pihak yang turut membantu dengan suka rela pernikahan kami.
***
“Wah, cakep sekali sampean, Mas. Makin keluar nih aura kebahagiaan calon pengantin.” Goda Hafiz saat melihatku keluar kamar dengan pakaian pengantin.
“Dari dulu mas memang sudah cakep. Hehehe..” Karena kejadian semalam, Hafiz tidak jadi pulang ke asrama. Ia menginap di rumahku untuk membantu proses acara hari ini. Ruqaya sendiri menginap di apartemen Sarah. Jam sembilan kami tiba di masjid dan langsung proses akad dilaksanakan.
“Saya terima nikah dan kawinnya Ruqaya binti Jhon Muller dengan mas kawin seperangkat alat sholat, sebuah Al-Quran, dan uang sebesar 15.000 Euro dibayar tunai.”
“Sah? Barakallahulaka..,”
***
“Mas, kita ngaji bareng yuk?” Ajakmu setelah kita sholat subuh bersama. Aku tersenyum mendengarnya. Istriku tercinta langsung mengambil dua Al-Quran yang terletak di atas meja kerjaku.
“Mas yang baca terlebih dahulu, setelah itu baru saya.”
Aku memulai dengan ta'awudz dan basmalah. Kubaca surah Ar-Rahman. Hingga pada kalimat, “Maka nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang kau dustakan” Ruqaya menangis. Terus menangis sesengkuan.
Aku memberhentikan bacaanku, “Kamu tidak apa-apa Dinda?”
“Saya merasa bersyukur sekali dengan nikmat yang Allah berikan. Kamu tahu mas, kamu adalah jembatan cahaya dari cahaya yang kudapatkan.”
“Maksud Dinda?
“Kamu tahu kan saya mendapat hidayah untuk memeluk islam karena mendengar bacaan Al-Quran di masjid Umar? dan orang yang membaca Al-Quran itu adalah kamu mas. Dan saya tidak menyangka karena pada akhirnya kamu juga yang menyelamatkan hidup saya dari keterasingan keluarga sendiri. Kamu memuliakan saya dengan menjadikan saya pendamping hidupmu. Maka nikmat Allah yang mana lagi yang saya dustakan? Allah sangat menyayangi saya.” Ucapnya masih dengan tangis sesengkuan.

“Allah menyayangi kita, Dinda. Mas juga sangat bersyukur memiliki istri soleha seperti Dinda yang terus giat mempelajari islam. Menyukai semua hal tentang islam. Begitu sami’na wa atho’na terhadap seruan Allah. Kamu yang mas pinta untuk menjadi bidadari surga mas kelak.” Aku mencium dahinya. Ia tenang, diam dalam pelukku.

Selasa, 10 Desember 2013

CERPEN KETIGA DI DAKWATUNA "AKU & SI MBAH

Aku dan Si Mbah
Entahlah! Rasanya tidak masuk akal bagiku ketika kudengar cerita Uwakku tentang Mbah Saif. Sosok yang belakangan ini kerap kudengar namanya dari mulut-mulut keluargaku, ah tidak! Sudah merembet pula rupanya pada tetangga kiri kanan rumahku. Pasalnya, cerita ini dimulai ketika seminggu yang lalu Uwak Tiur diminta untuk menemani salah seorang temannya di pabrik, pergi berobat.
Sudah sebulan belakangan ini, temannya itu merasakan sakit di kepala. Bermacam-macam obat sakit kepala yang dibelinya di kedai dekat rumah maupun pabrik, tak ada yang berhasil menyembuhkannya. Ke dokter, ia tak mau. Biaya mahal, diagnosa penyakit pun tak jelas menurutnya. Jadilah mereka pergi ke rumah Mbah Saif atas saran dari penjual obat dekat pabrik. Berdua dengan kereta, mereka melewati jalanan yang penuh dengan pohon-pohon tua. Hingga di ujung belokan jalan, tampak rumah panggung sesuai alamat yang diberikan penjual obat siang tadi.
“Ada paku-paku yang keluar dari kepala temenku itu. Berkarat, namun ada juga yang masih baru. Banyak! Ada 12 paku.”
“Seharusnya Wak ambil. Lumayan buat persediaan paku di rumah.”
“Asal kau tau, pakunya harus dibuang ke sungai atau ditanam. Bukan buat dipakai lagi. Nanti bisa kau pula yang kena santet!” Repet Wak Tiur padaku.
Uwak Tiur mempercayai kehebatan Mbah Saif, sebab mujurnya, esok tak ada lagi keluhan sakit di kepala yang keluar dari mulut temannya itu.
Cerita yang hebat itu mempengaruhi Bu Rustam. Mertuanya yang lumpuh, hendak ia bawa ke Mbah Saif agar sembuh dan bisa berjalan kembali. Hanya saja proses itu belum sempat ia lakukan, mengingat harus keluar kota selama tiga hari dalam tugas dinas. Tapi tak sama dengan Mpok Niluh. Ia begitu semangat membawa anak gadisnya bertemu Mbah Saif agar segera mendapat jodoh. Usia anak perawannya yang hampir kepala tiga itu ternyata membuat Mpok Niluh kalut tak dapat mantu.
Dari Mbah Saif mereka mendapat “oleh-oleh” bunga-bunga cantik untuk dimandikan, jamu untuk diminum, dan dibukakan aura. Aura apa coba? Bentuknya pun tak jelas! Aura yang kutahu, ya Aura Kasih penyanyi di TV. Namun lagi-lagi komentarku di pandang sinis.
“Bau kencur mana ngerti!”
Hebatnya lagi, penjual kedai nasi di depan kompleks rumahku jadi laris manis setelah mengunjungi Mbah Saif. Padahal dulunya sepi. Aku jadi penasaran bagaimana ia melakukan semua ini?
“Jadi bertambah rezekinya Uni,”
“Iya Alhamdulillah, Mbah Saif rancak!”
“Hm, ramai karena oleh-oleh Mbah Saif, atau karena harga yang diturunkan ya?” komentarku yang spontan itu mendapat cubitan dari Mama dan tatapan polos dari Uni.
***
Pagi-pagi perutku rasanya sakit sekali. Bajuku basah karena keringat dingin menahan sakit. Aku berteriak-teriak memanggil Mama, namun sampai suaraku tertahan di kerongkongan tak dapat di keluarkan, Mama tetap tak jua datang menghampiri. Kupecahkan saja gelas yang ada di meja untuk menarik perhatian. Dan berhasil! Mama datang.
“Ya Allah, kamu kenapa, Nak?”
“Sakit perut, Ma.”
“Sampai keringat dingin, Mama carikan obat dulu ya.”
Sepuluh menit berikutnya Mama kembali dengan obat sakit perut. Kuminum, lalu istirahat sejenak. Dua jam berikutnya aku berulah lagi. Perutku kembali sakit. Mama mencoba mengolesiku dengan minyak yang dicampur bawang merah, lalu aku disuruh tidur. Namun ulahku belum selesai sampai di situ, karena esok paginya aku merengek sakit perut lagi.
“Kita bawa ke tempat Mbah Saif aja, Yan,”
“Ke dokter saja lah kak Tiur.”
“Kau ini, dokter sekarang tak bisa dipercaya. Sudah, kutemani kau ke sana.”
Sepanjang jalan ke tempat Mbah Saif, Uwak Tiur mengomentari sikapku yang selama ini sering menjelek-jelekkan Mbah Saif. Uwakku yang tambun itu mengatakan, aku harus menyesali semua komentarku yang lalu, kalau nanti Mbah Saif berhasil menyembuhkanku.
Parahnya lagi, ia menduga sakit perut yang kualami karena kualat sering mengatai Mbah Saif. Ah, Uwakku itu, ternyata sudah banyak meninggalkan….
***
Kedatangan kami disambut seorang lelaki sepuh. Penampilan yang tercermin dari orang yang dibanggakan uwakku ini terlihat seperti layaknya seorang Kiai besar. Ia mempersilahkan kami masuk dan tak banyak basa-basi, langsung menanyakan sakitku.
“Sakit apa?”
“Perutnya Mbah, dari kemarin katanya sakit. Udah dikasih obat dan disapukan minyak bawang, tapi belum sembuh juga.”
“Golekkan dia di sini.”
Aku disuruh berbaring di hadapan lelaki sepuh ini. Ia memeriksa perutku yang di atasnya telah ia taruhkan kain sarung, lalu perlahan ia menarik sesuatu dari perutku.
“Bungkusan hitam?” Pekik Mama dengan penuh keheranan.
“Setelah ini langsung dibuang saja ke sungai. Besok kembali lagi.” Komentarnya singkat dan dingin.
Besoknya bukan bungkusan hitam tak jelas entah apa isinya lagi yang keluar dari perutku, tapi beberapa jarum patah yang semuanya berkarat. Mama bolak-balik istighfar melihatnya. Dihari ketiga kedatanganku, banyak tamu yang berkunjung mengharap kesembuhan dari Mbah Saif. Ada lima belas orang, tak terhitung dengan keluarga yang ikut mengantar. Ini waktu yang tepat bagiku untuk bertanya.
“Mbah, apa tanggapan mbah dengan riwayat hadis Imam Muslim yang isinya, Nabi Muhammad melarang mendatangi para kaahin?” Ia tak menjawab. Hanya memandangku semenit, lalu fokus dengan pasiennya.
“Lalu ada lagi riwayat Bukhari-Muslim, yang isinya nabi mengatakan bahwa kaahin itu bukan apa-apa’.”
“Tapi yang kukatakan benar dan sembuh.”
“Kalaupun apa yang dikatakana kaahin itu benar, itu adalah suatu kebenaran yang disambar oleh seorang jin lalu jin itu menjelaskannya kepada telinga walinya, lalu mereka mencampurnya dengan seratus kebohongan.” Kukatakan komentar itu sambil membaca buku catatan kecilku yang telah kutulis beberapa hari yang lalu dari sebuah sumber di internet.
Semua orang memandangiku. Tak terkecuali Mama dan Uwak Tiur. Aku masih tetap menampilkan wajah naifku sambil menatap Mbah Saif, menanti jawaban. Orang yang ditunggu jawabannya malah menatapku balik tak karuan.
“Kalau kau anggap aku salah, lalu kenapa kau datang padaku? Bukankan sholatmu tak akan diterima selama empat puluh hari?”
“Cerdas!” Aku tertawa sambil mendengar pertanyaan si Mbah.
“Sakit perut itu hanya modus saya agar bisa ketemu si Mbah. Jadi saya ikuti saja permainan Mbah yang malah mengeluarkan bungkusan hitam tak jelas, begitupun dengan paku-paku dari perut saya. Wong perut saya aman sentosa kok!”
“Lagi pula kalau saya tidak datang, maka uwak saya ini akan terus membanggakan Mbah di depan orang-orang. Itu artinya, akan semakin banyak orang yang salah jalur dan semakin banyak pula dosa yang berserakan. Saya mahasiswa ingusan berhak menegur dengan ilmu yang telah didapatkan.”
“Jadi bapak ibu, menutup rapat jalan yang menuju kerusakan itu lebih didahulukan daripada mengambil suatu manfaat. Kalau sakit, lebih halal datang ke dokter. Lebih baik kehilangan banyak uang daripada kehilangan surga.” Ceramahku mirip ustadzah. Semuanya diam. Sama halnya dengan Mbah Saif. Namun matanya lebih menyala ke arahku.
“Oya Mbah, jangan mempermalukan kita dengan memanfaatkan pakaina suci itu. Ayo Ma, Wak, kita pulang.” Ajakku tanpa mau berpanjang lebar urusan lagi.
“Tunggu, Nak! Kaahin itu apa ya?” Tanya salah seorang ibu pengunjung.
“Alamak, sudah dijelaskan panjang lebar, tak paham juga kah? Gawat ibu-ibu ini.” Batinku (*)
                                               
Medan, 2013


Senin, 17 Juni 2013

Puisi Pilar Aisyah di Dakwatuna "Kesatria 2020"


Kesatria 2020
Apa makna dari zaman milenia?
Jika yang kau dapat hanya kehedonisan semata.
Dimana ia prajurit Khandaq?
yang siap menahan lilitan lapar demi terbit sang fajar.
Di negeriku, pemuda-pemudi diarak.
Disuguhi teori-teori purbakala penipu dunia.
Mengagungkan logika di atas ketauhidannya.
Menampar empati dan simpati untuk eksistensi diri tak berarti.
Tidakkah kau cemburu pada serdadu badar?
Tidak mampukah kau petik arti perang uhud?
Tidakkah kau malu pada pemuda sejati bernama Muhammad?
Yang masih menyebutmu meski ruh telah sampai di kerongkongan.
Nun, jikalah cermin masih kau punya,
Tentu retak diri yang kau dapat.
Negeri tentu rindu sosok Al-Fatih.
Tak pelak, bersabarlah negeriku,
Aku yakin masih ada jiwa yang tak membatu.
Aku masih mendengar nurani berseru!
Meski parau terindikasi di telingaku,
Pemuda kesatria menakbirkan Indonesia emas 2020…
Riska H Akmal

Cerpen ke-2 Pilar Aisyah di Dakwatuna "Surat Cinta Dari Tuhan Yang Kau Ikatkan"


Surat Cinta Dari Tuhan Yang Kau Ikatkan
Aku duduk di sofa ruang tamu rumahku. Sedikit-sedikit aku mencoba membenarkan letak jilbabku, merapikan gamis yang kukenakan dan beberapa menit berikutnya pergi ke arah dapur untuk menemui Bunda yang tengah mempersiapkan jamuan makan malam bersama adik dan kakak iparku.
“Tenanglah, apa yang Ananda risaukan, Nak?” Aku tak bisa menjawab pertanyaan Bunda, karena aku sendiri sebenarnya tak tahu apa yang aku cemaskan. “Kembalilah ke ruang tengah. Temani Ayah dan Mas mu. Sebentar lagi, mungkin mereka akan datang.” Aku menuruti perkataan Bunda. Ayah tampak tenang dengan buku bacaannya, dan Mas Adit menyibukkan diri di depan laptop, untuk menyelesaikan pekerjaan kantornya. Aku duduk di samping Ayah. Bersandar di bahunya.
“Tak ada sesuatu yang perlu dicemaskan.” Ayah mengalihkan perhatiannya padaku. Ia mengelus-elus kepalaku dengan lembut.
“Ayah, apakah Ananda sudah pantas menjalani ini semua? Jujur, Ananda sedikit merasa tak pantas.”
“Kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi pada diri kita setiap harinya. Semenit ke depan, kita pun tak kan mampu menebak apa yang akan terjadi. Kita hanya mencoba untuk berbuat sebaik mungkin setiap harinya dalam hidup, dan atas kebaikan-kebaikan itu, kita harus percaya bahwa Allah akan menyelipkan kejutan-kejutan kebahagiaan untuk kita, bahkan untuk hal yang kita anggap mustahil sekalipun, Nak.” Kini Ayah menutup bukunya, ia memandang wajahku dengan lekat, membetulkan sedikit letak kacamatanya, dan kembali melanjutkan kata-katanya.
“Jadi, tak ada yang tak pantas jika Allah telah menghendakinya Anakku. Jika keraguan masih menyelimutimu, tanyakanlah padanya. Bukankah ia yang mengajukan diri?” Ayah benar. Aku masih bisa menanyakan banyak hal sebelum membuat suatu keputusan besar dalam hidupku.
***
Pukul 20.05 WIB, deru suara mobil terdengar memasuki pekarangan rumah. Ayah, Bunda, dan Masku berjalan keluar untuk menyambut tamu yang datang. Aku masuk ke kamar ditemani adik dan kakak iparku. Beberapa menit berselang, samar-samar kudengar percakapan mereka yang kini telah berkumpul di ruang tamu.
“Kedatangan kami ke sini, tentu sudah Anda ketahui maksud dan tujuannya. Saya mewakili anak saya, ingin menyampaikan maksud hatinya yang ingin menyempurnakan separuh agama dengan mempersunting anak Anda.”
“Ini semua memang berkah untuk keluarga kami, keluarga biasa yang mungkin sebelumnya tak pernah membayangkan akan menjamu tamu dari keraton. Namun apa pun itu namanya, saya tetap yakin hanya taqwa yang menjadi pembeda kita di hadapan Tuhan. Untuk urusan hati ini pun, saya tak ingin mengambil keputusan secara sepihak. Saya bebaskan putriku untuk menentukan apa yang terbaik bagi hidupnya.”
“Tentu saja. Saya sangat setuju dengan pemikiran Anda. Langsung saja kita pertemukan keduanya, dan memutuskan yang terbaik diantara keduanya.”
Bunda masuk ke kamarku. Menuntunku keluar menuju ruang tamu yang telah berubah menjadi ruang musyawarah. Adik dan kakak iparku tetap mengiringiku.
“Nah, kini orang yang ingin mempersuntingmu dan keluarganya telah hadir di rumah kita, Nak. Sampaikanlah apa yang ingin Ananda sampaikan. Kami tak akan memperdebatkan.”
“Saya hanyalah orang yang biasa, saya mengenalmu sebagai orang yang dihormati dikalangan masyarakat. Saya mungkin tahu tentangmu, namun apakah kamu benar-benar telah mengenal baik saya?” Aku mulai bertanya. Wajahku tertunduk tak mampu mengangkatnya untuk melihat orang-orang di sekelilingku.
“Saya memang tak mengenalmu dengan waktu yang lama. Bahkan, saya bisa menyatakan bahwa saya tak lebih dari lima kali bertemu denganmu. Namun, pada setiap kesempatan di mana saya bertemu denganmu, saya mencoba mengenalmu dengan baik. Dalam waktu yang singakat itu pula, saya kenali dirimu sebagai seorang perempuan yang sederhana, penyuka kegiatan sosial, periang, kecerdasanmu mampu membawamu meraih beasiswa keluar negeri, namun yang terpenting dari semua itu, saya menilai dirimu sebagai seseorang yang menjalankan agamamu dengan baik,”
“Dan apa yang tak terlihat langsung oleh saya tentangmu, sudah saya ketahui dari orang-orang terdekatmu. Termasuk sifat manjamu terhadap Ayah Bundamu.”
“Lalu apa yang kamu harapkan dengan menikahi saya? Apa yang membuatmu mengajukan diri untuk menjadi imam di kehidupan saya? Dan saya ingin memberitahukan bahwa didiri saya, terbesit rasa ketidakpantasan untuk mendampingimu.” Tanyaku lagi dalam keadaan wajah yang masih tertunduk.
“Saya tak memandangmu sebagai orang yang tak sebanding dengan saya. Apa yang tak pantas di pandangan manusia, belum tentu tak pantas di hadapan Illahi. Apa yang saya nilai darimu adalah sesuatu yang saya lihat dengan hati, bukan dari apa yang ada di luarnya. Yang saya harapkan dengan menikahimu adalah meraih ridhonya Allah,”
“Saya memilihmu atas agamamu. Atas kecintaanmu pada Rabbmu dan kekasihNya, dan saya ingin mendapat perhiasan dunia akhirat dengan menikahi wanita solihah. Lalu di mana letak ketidakpantasanmu jika yang saya lihat adalah seorang wanita dari segi agamanya?” Aku tak tahu bagaimana mimik wajahmu ketika menguraikan semua kata-kata itu. Namun yang harus kuakui, ada getaran kecil yang terjadi di sukmaku.
“Sekiranya saya menerima lamaranmu, apa yang dapat kamu berikan kepada saya sebagai mahar dipernikahan nanti?”
“Sebenarnya, saya adalah orang yang tak punya apa-apa. Kebanyakan apa yang saya miliki adalah warisan turun temurun dari keluarga keraton. Saya tidak ingin memberikanmu mahar dari sesuatu yang tidak saya perjuangkan untuk mendapatkannya. Maka jika kamu ikhlas, saya hanya mampu memberimu surat cinta dari Tuhan. Saya ingin mengikatmu dengan surah Ar-Rahman dan Al-Kahf yang saya cintai.”
Tanpa kupinta, ia melantunkannya untukku. Ada sesuatu yang kurasakan mengalir dingin di pipi. Cairan cinta atas rasa haru yang kudapatkan melalui perkataan seorang laki-laki. Satu-satu kini cairan cinta itu jatuh membasahi telapak tanganku yang kuletakkan di atas pangkuanku. Aku mulai sedikit memberanikan diri mengangkat wajahku, untuk melihat calon suamiku. Melalui setiap kata yang ia ucapkan, aku mulai memahami perangai dari calon suamiku ini.
Subhanallah, aku pun melihatnya tertunduk dengan parit di pipi yang membekas dari tangisnya. Perlahan, kulihat ia mulai mengangkat wajahnya juga, memandang ke arahku dengan sekali pandang. Namun sepersekian detik, mata kami bertemu. Deg! Hatiku kurasakan bergetar. Ada hawa sejuk yang masuk melalui celah-celah dinding hatiku, begitu lembut dan menenangkan. Aku menundukkan kembali pandanganku.
“Apa yang bisa saya sanggah lagi, ketika seorang lelaki yang solih mendatangi saya untuk menunaikan sunah Nabi? Apa yang saya pandang kini, tak lagi melihat statusmu, tapi apa yang saya lihat dari agamamu. Dengan mengucap basmalah, bismillah hirrahman nirrahim, saya bersedia menyempurnakan separuh dien bersamamu.” Kataku dengan mantap!
Bunda menciumiku, begitu pula kulihat yang Ibumu lakukan terhadapmu. Ayah kita saling berpelukan, senyum bahagia menghiasi wajah keduanya. Beberapa kerabatmu dan saudaraku turut mengembangkan senyum bahagia pula. Kamu tersenyum padaku, seraya mengucapkan rasa terimakasihmu padaku. Pernikahan kita pun ditetapkan seminggu setelah hari ini. Pada setiap kehidupan hambanya yang beriman, selalu ada campur tangan Tuhan yang menjadikan skenarionya lebih indah.
Sayup Rindu, 2013

Cerpen Media Pilar Aisyah di Dakwatuna "Sejak Kuyakini Ketaqwaanmu"


Sejak Kuyakini Ketakwaanmu

“Assalamu’alaikum,?”
“Wa’alaikumsalam warohmatullah…”
“Kenapa kelihatan tak bersemangat, Kan? Sedang ada masalah ya?”
Pemuda itu terdiam. Ia menundukkan pandangannya. “Aku ingin menikah.” Ucapnya.
“Alhamdulillah… memang sudah saatnya kamu menikah. Sudah punya calonnya?” Tanya sahabatnya itu dengan penuh kebahagiaan.
Mendengar pertanyaan sahabatnya, pemuda itu terdiam. Wajahnya yang tadi tertunduk, kini semakin dalam tertunduk. Lebih dari itu, tubuhnya berguncang. Senarai isak tangis mulai terdengar, disambut derai air mata yang tercurah.
“Mengapa antum menangis?” Tanya sahabatnya yang terlihat bingung. Pemuda itu tak menjawab.
“Jika pertanyaan ku membuatmu sedih, maafkanlah,”
“Bukan pertanyaan antum yang membuat kumenangis, tapi aku sendiri yang membuat keadaan ku seperti ini. Aku telah menghadirkan dua orang muslimah dalam hati ini. Tak ada maksud untuk membuat hati ini hitam. Hanya apa yang kurasakan ini, terjadi tanpa kupinta. Kesalahannya, mungkin karena aku telah membuka celah dimana terjadi interaksi yang membuatku menjadi terperdaya pada pesona keduanya.”
“Kalau begitu, kamu ambillah keduanya untuk menjadi istri…”
“Aku tak sanggup jika harus mempoligami bidadariku. Sekalipun aku tahu kebolehan berpoligami.”
“Jika tak sanggup, pilihlah yang terbaik dari keduanya.”
“Aku tak mampu memilih satu dari keduanya, Fiz.”
“Kalau begitu, aku pun berlepas dari kataku. Tunggulah takdir Allah untukmu. Semoga yang terbaik dari yang terbaik menjadi bidadarimu.”
***
Assalamu’alaikum, Akh… saya ingin menyampaikan bahwa teman-teman merasa senang dengan ceramah yang akhi sampaikan mengenai pernikahan. Alhamdulillah, banyak dari mereka yang kini sedang berproses untuk menyegerakannya. Bahkan saya sudah mendapat dua undangan. Semoga akhi juga segera mendapat yang terbaik…
-Nayla-
***
“Abang, tidak datang seminar di Aula kampus? Yang Ilham dengar, salah satu pembicaranya adalah Aulia.”
“Haruskah abang datang?”
“Ya tak adalah hak Ilham untuk mengharuskan. Ilham hanya membaca hati yang terlihat, Bang.”
“Membaca atau menerka?”
“Mana abang suka lah!” Ucap adiknya agak kesal seraya berlalu.
Hari ini, ia sebenarnya mendapat undangan khusus untuk datang ke acara seminar itu dari panitia penyelenggara. Hanya saja, ia ingin mencoba menenangkan hatinya dengan menjauhi kesempatan yang mungkin akan membuat hatinya semakin berat untuk mampu memilih.
***
“Arkan, aku datang kepadamu pagi ini dalam urusan yang mulia.”
“Apa gerangan urusan itu, Fiz?”
“Mungkin, ini jawaban dari takdirmu yang beberapa minggu lalu kita perbincangkan. Aku datang mewakili orang tua dari seorang wanita yang soliha untuk memintamu berta’aruf. Bacalah proposalnya. Lalu berilah keputusanmu besok.”
Sepulang dari kedatangan sahabatnya itu, ia hanya mampu meletakkan proposal itu di meja kamarnya. Pagi ini, ia ingin menjalankan aktivitas tanpa memikirkan urusan yang belakangan ini mengusiknya.
Sesampainya di masjid kampus, ia tak sengaja bertemu dengan Aulia kala menunaikan shalat Dhuha. Ia melihat Aulia tersenyum ke arahnya. Lalu berlalu bersama teman-temannya.
“Mungkinkah ia? Astaghfirullah…”
***
Selepas tahajud, Arkan teringat dengan proposal yang diberikan sahabatnya tadi pagi. Tangannya bergetar memegang lembaran-lembaran itu. Sekuat tenaga, ia mencoba membuka lembaran pertama. Namun sedetik kemudian, ia mengurungkan niatnya. Ia letakkan kembali proposal itu di atas meja. Namun ada selembar foto yang terjatuh di lantai. Ia memungut foto itu, dan yang terlihat di matanya adalah seorang wanita berbalut jilbab putih yang begitu anggun dengan senyum khas yang ia kenali. Senyum itu, kepunyaan Aulia…
“Allah, apakah ini takdirku?...” Arkan menyungkurkan diri dalam sujud malam yang tengah.
***
Arkan datang menemui sahabatnya Hafiz, untuk memenuhi janji keputusan atas kedatangan sahabatnya itu kemarin.
“Baiknya sekarang kita langsung ke rumahnya untuk menyegerakan ta’arufmu.”
Mereka pun menuju rumah Aulia. Ketika sampai di sana, mereka disambut dengan hangat oleh orang tua Aulia.
“Mengapa Nak Arkan tidak datang beserta orang tua?”
“Sebelumnya saya minta maaf, Pak. Bagi saya sendiri, ta’aruf pertama ini ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan sebelum saya memutuskan untuk melanjutkan ke taraf pernikahan. Jika saya merasakan kemantapan hati, baru saya akan datang kembali beserta keluarga untuk segera melamar.”
“Baiklah jika begitu pertimbangan, Nak Arkan.”
Aulia pun dihadirkan. Wanita itu hadir bagaikan cermin dari foto diri yang tengah malam tadi Arkan lihat.
“Silahkan bertanyalah, Nak…”
“Assalamu’alaikum Aulia… bolehkah kuketahui sebab hingga sampainya proposalmu padaku?”
“Wa’alaikumsalam mas…, jika hal itu yang kamu tanyakan, maka aku akan menyanjung seorang wanita soliha yang kudapati kebijaksanaannya. Aku mengadu mengenai hatiku. Lalu ia berkata, menikahlah! Lalu aku bertanya pada siapa? Pada seorang pemuda yang kau yakini dirinya mampu menjadi pendampingmu dunia akhirat, dan yang saling solih mensolihkan, ujarnya. Aku tak tahu siapa! Tapi aku teringat sosokmu saat menyampaikan ceramah mengenai pernikahan. Lalu aku memutuskan untuk memilih berta’aruf denganmu.”
“Boleh aku tahu wanita itu?”
“Ia orang yang mengundangku untuk menghadiri ceramahmu untuk pertama kalinya saat kita belum berkenalan. Ia orang yang kau kenal. Wanita itu adalah Nayla.”
Arkan tertunduk mendengar nama Nayla yang tersebut oleh Aulia. Lalu ia mencoba untuk bertanya kembali, “Apa Nayla tahu akan ta’aruf ini?”
“Ya, bahkan air matanya sesaat berlinang ketika aku mengatakan bahwa aku ingin berta’aruf denganmu. Ia katakan ia bahagia atas pilihanku. Ia juga yang membantu mengantarkan proposalku kepada Hafiz, untuk disampaikan kepadamu.”
“Terimakasih atas keteranganmu. Aku senang mendengarnya. Aku juga mendapatimu sebagai wanita yang baik. Namun bolehkah aku meminta sesuatu hal kepadamu?”
“Silahkan…”
“Aku tak dapat memberikan keputusan saat ini, besok pukul 10.00 datanglah ke masjid kampus beserta orang tuamu, undanglah juga Nayla untuk datang. Insya allah besok akan kuputuskan apakah ta’aruf ini dilanjutkan atau tidak.”
“Baiklah…”
“Apakah Bapak dan Ibu mengizinkan permintaan saya?”
“Kami tak keberatan jika Nak Arkan maunya begitu.”
***
Malamnya Arkan memulai istikharah. Rasa bingung coba ia tepis dengan menguatkan azamnya. Setelah istikharah, ia terus melanjutkan tahajud dan melebur diri dalam do’a-do’a yang panjang dan khusyuk.
“…. Ya Allah, diantara tanda-tanda kekuasaanMu, telah Engkau ciptakan bagi kami isteri-isteri dari jenis kami sendiri, supaya kami cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Engkau jadikan di antara kami rasa kasih dan sayang. Aku percayakan urusanku ini kepadaMu Rabb, karena Engkaulah hakikatnya yang paling mengetahui mana yang terbaik bagiku. Aku tak ingin melukai hati siapapun, jikalau memang diriku tak pantas untuk bersanding dengan salah satu hambaMu yang soliha itu, aku ikhlas Rabb. Karena mereka adalah sebaik-baik perhiasan dunia. Berikanlah petunjukMu Rabb….”
***
Masjid kampus pagi ini masih tampak lengang. Hanya ada beberapa orang yang tengah shalat Dhuha. Arkan duduk bersama Hafiz. Lima menit berselang, datanglah Aulia beserta orang tuanya. Kini mereka hanya tinggal menunggu Nayla.
“Nayla minta maaf, ia tidak bias datang. Ia ada rapat di kantornya pagi ini.” Terang Aulia setelah menelpon sahabatnya yang tak kunjung datang itu.
“Bagaimana Nak Arkan?”
“Baiklah, dengan mengucap Basmalah saya putuskan ..….”
***
“Kenapa kamu nggak datang, Nay? Kamu merasa ndak siap?”
“Sesungguhnya ada satu hal yang membuat para nabi dapat bergembira ketika menerima penderitaan, Mbak. Yaitu, mereka telah memutuskan berlari menuju Allah. Mereka terus-menerus percaya dan meyakini bahwa Allah sangat-sangat adil dan penyayang. Jika ada satu dua penderitaan, itu hanya jalan menuju kebahagiaan. Lalu kenapa saya harus merasa ndak siap jika saya akan menuju kebahagiaan, Mbak? Dan saya tak berhak untuk menghalau kebahagiaan orang lain, apalagi sahabat saya. Lagian, rapat ini kan juga penting untuk saya hadiri.”
“Kamu memang layak bahagia, Nay...”
“Setiap orang berhak bahagia, Mbak…”
***
“Nay, jangan lupa ya datang ke pernikahanku besok. Untuk walimahannya akan diadakan pekan depan, Nay.”
“Alhamdulillah, ana turut senang. Insya Allah ana akan datang.”
***
Hari ini kediaman Aulia penuh berkah dengan hari istimewanya. Wajahnya bersinar penuh kebahagiaan.
“Nay, kamu dampingi aku ya?” Pinta Aulia pada Nayla.
Pihak pengantin wanita berada di lantai atas. Ijab Kabul dilakukan di lantai bawah. Suara ijab kabul itu begitu terdengar tegas dan khidmat. Namun Nayla merasa bahwa suara itu bukan suara Arkan. Ia mencoba melihat ke arah pengantin pria, dan yang ada di sana adalah Hafiz. Apa yang terjadi? Tanya benaknya.
“Iya, Nay. Aku menikah dengan Hafiz, bukan Arkan! Aku sudah menikah. Aku ingin, kau juga menikah.” Nayla memeluk sahabatnya itu. Dari sudut-sudut mata bening mereka menetes tangis bahagia.
***
Sebulan berlalu. Pada suatu pagi yang cerah, Nayla kedatangan tamu istimewa.
“Kedatangan saya ke sini, tak lain adalah untuk melamar anak bapak menjadi bidadari saya.”
“Subhanallah, sebuah niat yang baik. Namun sesenang apapun kami orang tuanya, keputusan tetap ada pada Nayla.”
“Tak ada alasan bagiku untuk menolak lamaran dari seorang lelaki yang solih. Maka dengan mengucap Bismillahirrahmannirrahim aku menerima lamaranmu.” Ucapnya dengan wajah yang tertunduk.
“Alhamdulillah…” Senyum tertebar pada setiap yang hadir dalam lamaran itu.
***
Lusanya, walimatul ursy diadakan. Setelah walimahan usai, Nayla bertanya suatu hal pada suaminya, “Suamiku, sebenarnya ada yang ingin kutanyakan kepadamu. Bukan aku ingin mengungkit masa lalu, namun aku hanya ingin mengobati rasa penasaranku. Sebenarnya, apa yang terjadi di masjid kampus dalam ta’aruf kedua itu?”
Dengan menatap istrinya lembut, Arkan berkata, “Yang terjadi adalah takdir Allah. Dengan mengucap basmalah kala itu, kuputuskan untuk menolak melanjutkan ta’aruf ke arah pernikahan. Ketidak hadiranmu yang membuatku harus memutuskan hal demikian. Karena sebenarnya, kamulah wanita pertama yang membuatku merasakan cinta. Hafiz lalu maju setelah penolakanku. Ia melamar Aulia menjadi bidadarinya. Dan apa yang terjadi selanjutnya, tentu telah kamu ketahui istriku…”
“Maha suci Allah yang mengikat hati kedua insan yang mencinta karenaNya. Aku pun mencintaimu sejak kuyakini ketakwaanmu…” Ucap Nayla sembari mencium tangan suaminya.
***

Seleret, 2013