Jumat, 02 Desember 2011

Qalb Aisyah 2 (Surat Cinta Dari Tuhan yang Kau Ikatkan)

Aku duduk di sofa ruang tamu rumahku. Sedikit-sedikit aku mencoba membenarkan letak jilbabku, merapikan gamis yang kukenakan dan beberapa menit berikutnya pergi ke arah dapur untuk menemui Bunda yang tengah mempersiapkan jamuan makan malam bersama adik dan kakak iparku.
“Tenanglah, apa yang Ananda risaukan, Nak?” Aku tak bisa menjawab pertanyaan Bunda, karena aku sendiri sebenarnya tak tahu apa yang aku cemaskan.
“Kembalilah ke ruang tengah. Temani Ayah dan Abangmu. Sebentar lagi, mungkin mereka akan datang.” Aku menuruti perkataan Bunda. Ayah tampak tenang dengan buku bacaannya, dan abangku menyibukkan diri di depan laptop, untuk menyelesaikan pekerjaan kantornya. Aku duduk di samping Ayah. Bersandar di bahunya.
“Tak ada sesuatu yang perlu dicemaskan.” Ayah mengalihkan perhatiannya padaku. Ia mengelus-elus kepalaku dengan lembut.
“Ayah, apakah Ananda sudah pantas menjalani ini semua? Jujur, Ananda sedikit merasa tak pantas.”
“Kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi pada diri kita setiap harinya. Semenit ke depan, kita pun tak kan mampu menebak apa yang akan terjadi. Kita hanya mencoba untuk berbuat sebaik mungkin setiap harinya dalam hidup, dan atas kebaikan-kebaikan itu, kita harus percaya bahwa Allah akan menyelipkan kejutan-kejutan kebahagiaan untuk kita, bahkan untuk hal yang kita anggap mustahil sekalipun.” Kini Ayah menutup bukunya, ia memandang wajahku dengan lekat, membetulkan sedikit letak kacamatanya, dan kembali melanjutkan kata-katanya.
“Jadi, tak ada yang tak pantas jika Allah telah menghendakinya Anakku. Jika keraguan masih menyelimutimu, tanyakanlah padanya. Bukankah ia yang mengajukan diri?” Ayah benar. Aku masih bisa menanyakan banyak hal sebelum membuat suatu keputusan untuk hidupku.
***
Pukul 20.05 WIB, dua buah mobil terdengar memasuki pekarangan rumah. Ayah, Bunda, dan abangku berjalan keluar untuk menyambut tamu yang datang. Aku masukke kamar ditemani adik dan kakak iparku. Beberapa menit berselang, samar-samar kudengar percakapan mereka yang kini telah berkumpul di ruang tamu.
“Kedatangan kami ke sini, tentu sudah Anda ketahui maksud dan tujuannya. Saya mewakili anak saya, ingin menyampaikan maksud hatinya yang ingin menyempurnakan separuh agama dengan mempersunting anak Anda.”
“Ini semua memang berkah untuk keluarga kami, keluarga biasa yang mungkin sebelumnya tak pernah membayangkan akan menjamu tamu dari keraton. Namun apa pun itu namanya, saya tetap yakin hanya takwa yang menjadi pembeda kita di hadapan Tuhan. Untuk urusan hati ini pun, saya tak ingin mengambil keputusan tersendiri. Saya bebaskan putriku untuk menentukan apa yang terbaik bagi hidupnya.”
“Tentu saja. Saya sangat setuju dengan pemikiran Anda. Langsung saja kita pertemukan keduanya, dan memutuskan yang terbaik diantara keduanya.”
Bunda, masuk ke kamarku. Menuntunku keluar menuju ruang tamu yang telah berubah menjadi ruang musyawarah. Adik dan kakak iparku tetap mengiringiku.
“Nah, kini orang yang ingin mempersuntingmu dan keluarganya telah hadir di rumah kita, Nak. Sampaikanlah apa yang ingin Ananda sampaikan. Kami tak akan memperdebatkan.”
“Saya hanyalah orang yang biasa, mengenalmu pun hanya sebagai orang yang dihormati dibeberapa kalangan. Saya mungkin tahu banyak tentangmu, namun apakah kamu benar-benar telah mengenal baik saya?” Aku mulai bertanya. Wajahku tertunduk tak mampu mengangkatnya untuk melihat orang-orang di sekelilingku.
“Saya memang tak mengenalmu dengan waktu yang lama. Bahkan saya tak lebih dari lima kali bertemu denganmu. Namun, pada setiap kesempatan dimana saya bertemu denganmu, saya mencoba mengenalmu dengan baik. Dalam waktu yang singakat itu pula, saya kenali dirimu sebagai seorang perempuan yang sederhana, penyuka kegiatan sosial, periang, kecerdasanmu mampu membawamu meraih beasiswa keluar negeri, namun yang terpenting dari semua itu, saya menilai dirimu sebagai seorang yang menjalankan agamamu dengan baik,”
“Dan apa yang tak terlihat langsung oleh saya tentangmu, sudah saya ketahui dari orang-orang terdekatmu. Termasuk sifat manjamu terhadap Ayah Bundamu.”
“Lalu apa yang kamu harapkan dengan menikahi saya? Apa yang membuatmu mengajukan diri untuk menjadi imam dikehidupan saya? Dan saya ingin memberitahukan bahwa didiri saya terbesit rasa ketidakpantasan untuk mendampingimu.” Tanyaku lagi dalam keadaan wajah yang masih tertunduk.
“Saya tak memandangmu sebagai orang yang tak sebanding dengan saya. Apa yang tak pantas di pandangan manusia, belum tentu tak pantas di hadapan Illahi. Apa yang saya nilai darimu adalah sesuatu yang saya lihat dengan hati, bukan dari apa yang ada di luarnya. Yang saya harapkan dengan menikahimu adalah meraih ridhonya Allah. Saya memilihmu atas agamamu. Atas kecintaanmu pada Rabbmu dan kekasihnya, dan saya ingin mendapat perhiasan dunia akhirat dengan menikahi wanita solihah. Lalu dimana letak ketidakpantasanmu jika yang saya lihat adalah seorang wanita dari segi agamanya?” Aku tak tahu bagaimana mimik wajahmu ketika menguraikan semua kata-kata itu. Namun yang harus kuakui, ada getaran kecil yang terjadi di sukmaku.
“Sekiranya saya menerima lamaranmu, apa yang dapat kamu berikan sebagai mahar dipernikahan nanti?”
“Sebenarnya, saya adalah orang yang tak punya apa-apa. Kebanyakan apa yang saya miliki adalah warisan turun temurun dari keluarga keraton. Saya tidak ingin memberikanmu mahar dari sesuatu yang tidak saya perjuangkan untuk mendapatkannya. Maka jika kamu ikhlas, saya hanya mampu memberimu surat cinta dari Tuhan. Saya ingin mengikatmu dengan surah Ar-Rahman dan Al-Kahf yang telah sedari lama saya hafal.”
Tanpa kupinta, ia melantunkannya untukku. Ada sesuatu yang kurasakan mengalir dingin di pipi. Cairan cinta atas rasa haru yang kudapatkan melalui perkataan seorang laki-laki. Satu-satu kini cairan cinta itu jatuh membasahi telapak tanganku yang kuletakkan di atas pangkuanku. Aku mulai sedikit memberanikan diri mengangkat wajahku, untuk melihat calon suamiku.
Subhanallah, aku pun melihatnya tertunduk dengan parit di pipi yang membekas dari tangisnya. Perlahan kulihat ia mulai mengangkat wajahnya juga, memandang ke arahku dengan sekali pandang. Namun sepersekian detik mata kami bertemu. Deg! Hatiku kurasakan bergetar kembali. Ada hawa sejuk yang masuk melalui celah-celah dinding hatiku, begitu lembut dan menenangkan.
“Apa yang bisa saya sanggah lagi ketika seseorang lelaki yang solih mendatangi saya untuk menunaikan sunah nabi? Apa yang saya pandang kini, tak lagi melihat statusmu, tapi apa yang saya lihat dari agamamu. Dengan mengucap basmalah, bismillahhirrahmannirrahim, saya bersedia menyempurnakan dien bersamamu.” Kataku dengan mantap.
Bunda menciumiku, begitu pula kulihat yang Ibumu lakukan terhadapmu. Ayah kita saling berpelukan, senyum bahagia menghiasi wajah keduanya. Beberapa kerabatmu dan saudaraku turut mengembangkan senyum bahagia pula. Pada setiap kehidupan hambanya yang beriman, selalu ada campur tangan Tuhan yang menjadikan skenarionya lebih indah. Medan, 24 November 2011

Sabtu, 19 November 2011

Album Kenangan

            Sahabatku, rasanya baru kemarin kita dipertemukan dalam sebuah bingkai kasih bernama persahabatan. Untuk pertama kalinya kala itu, kita beretemu dalam fase remaja yang kita tinggalkan, menuai asa berharap kemajuan masa depan.

Aku berterimakasih pada Allah, karena mendapatkan kesempatan untuk memiliki sahabat-sahabat seperti kalian. Sahabat yang tulus, saling menasehati dan mengingatkan dalam kebaikan, saling terbuka untuk lebih mengakrabkan, dan tak pernah saling menjatuhkan. Aku juga sadar, kita pernah bersitegang, kadang masa, kita juga tak sependapat dalam satu pemikiran, namun itu yang membuat kita menjadi kaya.
Sahabatku, waktu kebersamaan kita, akankah berakhir dalam enam bulan ke depan? Kita punya mimpi masing-masing yang ingin kita kibarkan. Mungkin tak dalam satu kota. Jalinan ini, apakah akan berakhir?
 
Suci, mungkin akan melanjutkan S2 nya di Jawa atau ia akan berkelana dengan mimpinya ke Istanbul-Turki. Sahabatku yang cemasannya nggak ketulungan ini =D, Aku harap di mana pun kau berada, kau akan mempunyai sahabat yang bisa mengontrol kala panic dan cemas melandamu. Aku setuju padamu, kita harus berkelana seperti Ahmad Fuadi. Fantastisnya jika itu diraih melalui tulisan kita.
Tika, miss pengingat di antara aku, wulan, dan suci.  Ia mungkin akan kembali ke Takengon sembari memikirkan akan kuliah S2 di Medan kembali, atau ke kota lain yang tak dapat kuprediksi (mungkin Jogja).  Kalau kita berpisah nanti, kami yang pelupa tingkat tinggi ini, pasti akan kehilangan sosokmu.
Kakak tertuaku wulandari, ia pun mungkin tak kan lagi berada di Medan. Anggota baru di Mer-c ini, pasti akan berkelana kebanyak tempat. Mungkin ia akan menjadikan semua itu tempat favoritnya. Selain kota Mekah untuk haji dan umrah yang ia inginkan, dan tentu saja yang kita semua inginkan. Aku akan rindu kedewasaannya.
 
Fitri, aku paham keadaannya. Walaupun mungkin ia ingin pergi ke kota-kota yang telah ia letakkan mimpinya, ia mungkin akan tetap bertahan di kota kita ini. Sebagai anak bungsu, ia takkan sanggup meninggalkan Ayah dan Ibunya yang mulai memasuki usia keemasan. Ia akan bekerja di sini, tidak lagi sebagai anggota magang di biro, tapi akan menjadi pemilik biro. =D
Tipa, calon ibu dokter gigi yang tak jadi. Eheheh… Aku tau ia akan bebas ke kota manapun yang ia mau, asalkan adik semata wayangnya tak merepotkan (peace untuk Tomo =D). Aku akan rindu berbagi cerita padanya. Pada sosoknya yang keibuan. Yang selalu memanggilku dengan “de2kq”.
Kak Nda si ulat bulu, aku yakin ia akan melanjutkan S2. Tapi aku akan bingung, apakah ia akan tetap bertahan di Psikologi, atau beralih pada disign. Kutahu kau pecinta disign. Apalagi butikmu akan segera diluncurkan. Dan, kalau nanti tetap bertahan pada si Mamang, akan adeg nobatkan sebagai couple sejati. Ehehhe…
Fida anak sulung ini, sangat ahli di kain flannel. Jangan-jangan jadi pengusaha kain flannel nantinya? Lagi-lagi kita bercerita akan tanggung jawab. Ia sebagai anak sulung harus jadi panutan untuk kedua adiknya. Aku yakin kau bisa sahabatku.
Nisa, udah nikah duluan. Udah agak lain nih orientasinya. Wejanganku cukup jadi istri solehah aja deh, Mak. Kalau suamimu hebat, kau akan jauh lebih hebat. “Di belaknag laki-laki hebat, ada sosok perempuan yang luar biasa.” Jadi ibu pengusaha di rumah pun tak apa.
Intan dan bubun, aku rasa mereka akan segera menikah. Loh? Nggak ya? Ehehhe… prioritas mereka aku tebak akan bekerja, sembari waktu akan melanjutkan S2 juga. Mereka juga akan segera kembali ke kampung halaman tercinta. Menemui sang pembawa cahaya di hati mereka. IBU…
Aku, aku kemana ya??
Aku juga akan melanjutkan mimpiku. Menjadi salah satu novelis ternama di Indonesia. Kalau bisa juga melanglang buana dengan tulisanku. Namun, aku akan tetap melanjutkan ranah Psikologi untuk S2 ku. Aku juga punya satu kota yang kutuju, namun aku tak bisa berbagi sekarang, mohon do’anya semoga adik kalian ini bisa mewujudkannya.
 Aku yakin kita akan sukses. Toh kita semua nak kesayangan Ibu. Semua cerita yang telah kita bagi, kita memiliki basic dari Ibu-ibu yang super duper hebat. Kita akan berada di bawah ridhonya dan sekaligus di bawah ridho Allah. Ya, semua itu akan segera tiba diperjalanan hidup kita. Kita tinggalkan saja kenangan kita di sini. Lalu, pada kota yang lain, kita rangkai yang baru. Namun, saat kau pulang ke kota ini, ingatlah asa yang kita tinggalkan pada stiap sudut kota yang membuat kita mulai mengibarakan eksistensi.
Aku akan sangat merindukan kalian. :’(
Di manapun kita berda nanti, semoga bisa bertemu kala kita sudah mempunyai jagoan kecil dan peri kecil kebahagian, dan tentunya beserta pasangan jiwa kita =D.

Minggu, 13 November 2011

Qalb Aisyah (Padanya yang Kunanti)

Benar adanya, kala usiaku sudah meninggalkan fase remaja, aku mulai melirik suatu masa yang menghantarkanku pada sesuatu yang kuanggap keanggunan, yakni menjadi sosok perempuan yang lembut, berkarakter, dengan jiwa yang penuh keteguhan pada sang penggenggam kehidupan.

Namun kiranya, dirimu harus bersabar dalam beberapa hal yang masih sedang kubangun dalam karakterku. Walau aku tahu, untuk menjadi pasanganmu, aku tak harus menjadi sempurna. karena bersamamulah kita akan saling menyempurnakan.  

Kau tahu, jujur aku belum bisa membayangkan siapa dirimu. walau aku sudah mencium aroma segar dari beberapa orang sejenismu, aku tetap tak mampu menyimpulkan apapun. Aku takut kalau kau cemburu. Tak hanya kau, aku pun tak ingin membuat Allah cemburu , terlebih pada cinta yang tak halal. Aku memang pernah jatuh cinta, pernah menaruh simpati pada kaummu, tapi aku ingin kau percaya, tak ada satupun yang benar-benar melekat di jiwa. mungkin benar juga kalau mereka bukanlah jodohku, karena bagaimanapun juga, sesuai  firman Allah,

“Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir” (Ar-Ruum 21).
  
Ya, Aku masih belajar, untuk bagaimana mampu menjaga hatiku agar hanya bertumpu pada yang satu. Kuharap kau tak ragu membina istana surga bersamaku =D.. Dengan aku yang  kecil namun tak rendahan, aku yang mencintai hal sosial namun kadang berlebihan, aku yang menyukai perangai kekanakan namun bukan sifat kekanak-kanakan, dan bahkan  mungkin dengan kekonyolanku, namun tetap kan kukemas dengan kebersahajaan...

Belajar, ya belajar..
semoga tak lelah akan hal mulia itu..^_^

_pilar aisyah_





Sabtu, 05 November 2011

Cerpen Media Pilar Aisyah

Nek Siti dalam Senjanya
Terdengar suara repetan-repetan kecil dari ruang tengah rumah itu. Seperti orang mengigau yang tak jelas arah pembicaraannya.
“Owalah, kemanalah kalian semua? Tak ada satu pun yang nengok aku di sini.” Gerutu seorang Nenek tua yang tengah terbaring di sofa panjangnya.
“Udah nggak peduli lagi rupanya kalian sama aku?!” Ucapnya terus menggerutu sambil sesekali mengayunkan kipas yang menghasilkan angin berseliweran menerpa tubuhnya yang gerah.
Sayup-sayup, terdengar langkah seseorang.
“Assalamu’alaikum.” seorang remaja tanggung memakai seragam putih abu-abu masuk dan langsung menuju kamarnya. Sepertinya ia tidak memperhatikan Neneknya yang tengah terbaring sendiri di peraduannya.
“Siapa itu? Kau, Wan?” Selidik si Nenek.
“Iya, Nek.” Ada nada malas yang terbentuk dari intonasi suaranya.
“Nggak kau salami aku ya? Bilang assalamu’alaikum aja kau nggak.”
Tak ada komentar yang keluar untuk menyargah ucapan si Nenek. Pendengarannya memang telah berkurang.
            “Sini kau dulu! Kau tenggok aku dulu.” Paksa si Nenek.
Dengan langkah gontai laki-laki yang bernama Marwan itu menghampiri Neneknya. Si Nenek melihat dengan tatapan serius ke arah cucunya itu.
“Nggak senang kali kayaknya kau kupanggil! Macam…”
“Udahlah Nek, Nenek mau apa?” Ucap Marwan dengan ketus.
“Aku lapar! Kau ambilkan dulu makanku, yang lain entah ke mana semuanya.” Intonasi si Nenek mulai mencapai oktaf.
“Wak Lilis ke mana rupanya?”
“Tak kau dengar cakap Nenek kau ini? Tak tahu aku!”
Marwan melangkah ke dapur, dibukanya tudung nasi yang berisi sayur lodeh, tempe goreng dan ikan sambal. Mulailah dengan gaya tak berseni satu persatu lauk itu hijrah ke piring kaca yang Marwan pegang. Kini tangannya telah penuh dengan nasi hidangan komplit dan segelas air putih.
“Nanti kalau Nenek udah siap makan, taruh aja piring dan gelasnya di atas meja ini dulu. Marwan mau tidur, capek!” belum sempat Marwan melangkah menuju kamarnya, Nenek telah mengeluarkan perintahnya lagi.
“Kau suruh aku makan sendiri? Kau panggilkan dulu uwak kau, biar disuapkannya aku. Lemas aku ini. Nggak bisa aku makan sendiri.”
Marwan mencari Wak Lilis di kamarnya, namun tidak ada, lalu ia ke kamar mandi, halaman belakang, tetapi tetap juga tidak ada. Penggeledahan rumah telah selesai ia tunaikan, namun anak kedua Neneknya itu tidak juga kelihatan batang hidungnya. Marwan mencari ke luar rumah, mungkin sedang bergosip dengan ibu-ibu kompleks. Hmm,, benar saja dugaan Marwan, Uwak Lilisnya yang berbadan gempal itu tengah asyik berlagu kata sumbang dengan ibu-ibu kurang kerjaan lainnya.
“Wak, dipanggil Nenek! Minta disuapkan makan Nenek tuh!”
“Ada aja pun Nenek kau itu! Tak bisa aku berleha sebentar.”
Berleha sebentar?? Saban hari kutenggok wak tak pernah alpa berlagu kata sumbang sama ibu-ibu ini, gerutu Marwan dalam hati. Wak Lilis mengikuti langkah Marwan di belakang menuju rumah. Marwan kembali mengeram di kamarnya.
“Ke mana ajalah kau, Lis? Kau tinggalkan aku seorang diri.”
“Tapi tadi Ibu tidur. Keluarlah Lis sebentar.” Tanpa menunggu aba-aba dari Ibunya, Lilis telah menggamit nasi dan lauk, lalu segera mendaratkan ke mulut Ibunya sesuap demi sesuap hingga habis.
***
            Senja pupus berganti pekat. Deru suara mobil memasuki pekarangan rumah si Nenek. Pukul 20.00 WIB, sepasang suami istri turun dari mobil sedannya dan masuk ke rumah. Di tanggannya terjinjing bungkusan yang cukup besar.
            “Bu, ini udah Ratna belikan susu sama roti kelapa kesukaan Ibu. Rotinya Ratna taruh di kamar, susunya di kulkas ya, Bu.” Ucap menantunya itu.
Tak ada jawaban. Lalu berselang lima menit terdengar rintihan si Nenek, “Apalah yang ada di mataku ini? Kabus-kabus gini. Si Lilis tadi pun entah ke mana kusuruh belikan obat. Bisa buta pula nanti mataku.”
Menantunya yang tadi ingin beranjak ke luar kamar, kembali berpaling ke arah mertuanya itu. “Mata ibu kenapa?”
“Kaunya, Na. Baru pulang kau? Baguslah kau pulang, kau lihatkan dulu mataku kenapa?” Dengan seksama menantunya memperhatikan mata mertuanya itu. Ada cairan putih di pinggir bawah mata kirinya. Dengan sigap Ibu dari Marwan itu mengeluarkan sapu tangan yang ada di saku baju kerjanya, lalu dengan segera menyapu perlahan ke mata kiri mertuanya.
“Sudah Ratna bersihkan, ada kotoran sedikit. Sebentar Ratna ambilkan tetesan mata supaya mata Ibu nggak sakit.” Setelah diteteskan obat mata, si Nenek tertidur.
***
Malam berikutnya terjadi kericuhan di tengah guyuran air mata langit.
PRANG!!!
            “Seperti ada yang pecah, Yah?” Ratna memastikan suara yang ia dengar kepada suaminya. Telinganya bekerja mencari asal suara.
“Ibu??”
Ratna dan suaminya bergegas ke kamar si Nenek. Di sana sudah ada Marwan, Rara adiknya, dan Lilis. Ternyata suara pecahan itu telah membangunkan seisi  penghuni rumah.
            “Nenek menjatuhkan gelas dan piring yang berisi obat-obatnya, Ma.” Rara yang datang lebih dahulu memberitahukan perihal yang terjadi kepada orang tuanya sambari membersihkan puing-puing pecahan kaca yang berserabutan di lantai.
            “Nenek nih, selalu aja bertingkah aneh-aneh.” Marwan berkomentar perihal sepak terjang laku Neneknya yang kerap mengundang kejengkelan baginya.
            “Marwan!!!” Hardik papanya. Marwan kemudian berlalu untuk melanjutkan tidurnya yang terjeda karena ulah si Nenek.
            “Kalian semua memang udah nggak peduli lagi sama aku! Sering kalian biarkan aku sendiri di rumah. Kalian tinggalkan aku seorang. Kalian sibuk dengan diri kalian sendiri. Udah muak rupanya kalian ngurus aku yang sakit ini?” Si Nenek mengeluarkan petirnya di tengah hujan.
            “Kalian kan tahu, aku udah nggak bisa apa-apa lagi! Kalian uruslah aku! Si Lilis betandang aja kerjanya. Si Marwan malas kali kalau disuruh. Si Rara sibuk terus dengan belajarnya yang les inilah, itulah. Si Ratna sama si Andi kerja terus sampai malam, udah lama nggak dikusuknya kakiku yang sakit.”
            Tak ada satu pun penghuni rumah yang terlewatkan dari absen cercaan Nek Siti yang secara mendadak malam ini. Semua mendapat jatahnya masing-masing.
            “Tidak begitu, Bu! Kami semua tentu sayang sama Ibu.” Andi anak bungsunya itu mencoba menenangkan Ibunya yang kini telah terisak tangis.
            “Mungkin kalau aku sudah mati, kalian akan senang. Nggak ada lagi yang merepotkan kalian!”
            “Aku punya anak lima, tapi lihat aja kakak-kakak dan abang-abangmu! Semenjak aku sakit, mereka semua tak pernah sekali pun pulang kampung untuk melihatku. Mereka semua sibuk berkeliaran di pulau Jawa dan Kalimantan sana. Bagi kalian aku ini hanya beban, kan? Kalau kalian tua nanti, kalian pasti akan merasakan!” Marahnya kian membara.
Mereka semua terdiam dalam lontaran keluh kesah Nek Siti.
“Maafkan kami, Bu. Mungkin apa yang kami lakukan selama ini masih salah di mata Ibu, tapi Ibu jangan berkata seperti itu. Ibu itu Nenek dari anak-anakku, Ibu dari suamiku, kalau ada apa-apa dengan Ibu, kami semua juga akan sedih.”
“Udahku tahan-tahan selama ini. Kuperhatikan aja kalian terus. Aku pun lebih milih mati aja dari pada kalian telantarkan aku.” Kata-kata menantunya ternyata tak mampu meredupkan amarahnya.
“Nggak boleh ngomong gitu loh, Nek. Kalau malaikat Izrail lewat gimana? Rara sayang kok sama Nenek. Rara janji deh nggak akan sibuk-sibuk lagi. Jadi nanti setiap malamnya insyallah Rara akan memijit kaki Nenek. Iya kan, Ma?” Rara dan Ibunya bergantian memadamkan api yang telah berkobar dalam dada Neneknya itu. Namun, tatapan Neneknya tetap kosong. Wajah tirusnya masih berhiaskan ketegangan.
***
“Astaghfirullah!!”
Rara tampak mondari-mandir di sekeliling rumahnya. Raut wajahnya bagai kepiting direbus. Setiap sudut rumah telah ia cari, namun ia tidak menemukan apa yang ia cari. Ia menyerah. Di halaman depan, ada Pak Mamat yang tengah menyiangi tanaman. Dia bingung melihat Rara yang dari tadi lalu lalang di depannya.
“Rara sedang mencari sesuatu atau sedang menunggu seseorang?”
“Rara lagi nyari Nenek, Pak,”
“Oh, Nenek? Nenek pergi.”
“Pergi? Kemana?”
“Bapak sih kurang tahu ke mana, tadi Nenek cuma minta tolong sama Bapak untuk memanggilkan taxi. Nenek juga bawa tasnya.”
“Tapi Nenekkan lumpuh, dia pergi ke mana dengan kursi rodanya?” Rara langsung mengambil telepon genggamnya, tangannya lincah menari pada tiap tombol. Dia mengirimkan pesan singkat kepada orangtua dan abangnya perihal hilangnya si Nenek. Saat  menunggu kehadiran orangtua dan abangnya, Wak Lilis pulang dari supermarket.
“Wak, Nenek hilang! Nenek pergi!”
“Cakap apa kau ini, Ra? Nenek kau kan lumpuh, mana bisa dia pergi jauh.”
Papa dan Mamanya pun tiba di rumah, disusul Marwan dengan sepeda motornya.
“Bagaimana Nenek bisa hilang, Ra?”
“Kata Pak Mamat, Nenek menyuruhnya memenggilkan taxi. Lalu Nenek pergi sambil membawa tasnya. Hanya saja Pak Mamat tak menanyakan ke mana Nenek pergi, Ma.”
“Ibu, maafkan kami, Bu,” Wajah mereka meredup, merasa telah berdosa.
***
Di suatu tempat, seorang Nenek tersenyum di tengah keramaian manusia seusianya. Di belakangnya, ada seorang suster mendorong kursi rodanya melewati lorong-lorong tembok bercat putih, hingga sampailah ia pada kamar sempit berukuran setengah dari kamarnya.
“Mudah-mudahan aku bisa nyaman di sini. Paling tidak, di sekitarku adalah orang-orang yang bernasib sama sepertiku. Tak diperhatikan keluarga, atau lebih parahnya dengan sengaja dicampakkan ke tempat ini karena dianggap menyusahkan.” Nek Siti pun berbaring di tempat tidur barunya, di sebelahnya juga ada seorang Nenek yang tengah terbaring sama sepertinya, Nenek itu tersenyum pada Nek Siti sebagai teman sekamarnya yang baru.
                                                                                                Medan, Agustus 2011
*Diterbitkan Harian Medan Bisnis Rubrik Rentak 16-10-2011

Puisi Favorit Aisyah

LELAKI MULIA

Bagiku, lelaki mulia…
Ialah yang tidak menghinakan wanita.
Sikapnya santun penuh hormat,
Ialah cermin dari pribadi yang taat.
Lelaki mulia…
Selalu menjaga wanita.
Tak membiarkannya kecewa,
Apalagi terluka..
Oleh janji-janji buta.
Lelaki mulia…
Yang tak akan umbar kata,
Melainkan dengan sikap yang nyata.
Ialah lelaki mulia..
Memuliakan wanita,
Terutama Ibunya…..

Akhlaknya tidak tercela..
Penuh kehati-hatian dalam bicara,
Berpikir seribu kali sebelum mencinta..
Khawatir kan menyakiti wanita.
Lelaki mulia…
Dimanakah kau berada?
Semoga kita kan dipertemukan jua…

Dakwatuna.com