Kamis, 15 Desember 2011

Artikel Aisyah (Cukup Allah Sebagai saksi)


0diggsdigg
0

email


dakwatuna.com -
Bila ingin hidup ini tenang, tak usah hiraukan ada atau tidak ada orang yang melihat atau menilai amal-amal kita. Wakafaa billahi syahidaa. Cukup Allah yang menjadi saksi.” (QS. Annisa: 79).
Itulah isi SMS taushiyah yang kirimkan oleh Aa Gym. Sangat menyentuh. Untuk kita yang selama ini masih terpaku pada penilaian manusia terhadap segala perbuatan yang kita lakukan. Penilaian manusia tak bisa di jadikan sebagai tolak ukur baik atau tidaknya perbuatan kita. Bisa jadi di mata orang ini kita mendapat pujian tapi di mata yang lain kita di nilai hanya mencari sensasi semata.
Cukuplah Allah menjadi barometer setiap gerak kita. Ke mana kaki hendak melangkah. Ke mana mata hendak memandang. Apa yang ingin telinga dengar. Terlalu melelahkan bila memikirkan apa yang orang lain katakan sedangkan berbeda orang sudah tentu berbeda pendapat. Jika apa yang kita lakukan sudah sesuai syariat, maka abaikan saja penilaian orang lain. Jika memang penilaian itu mengandung sebuah nasihat kebajikan, bukalah lebar-lebar telinga dan mata hati kita. Tapi tulikan telinga kita untuk cacian dan gunjingan mereka. Bukan berarti kita harus tinggi hati jika pujian mengarah pada kita. Hanya kepada Allah, sepatutnya pujian di haturkan. Kita bisa karena Allah. Allah yang menggerakkan hati kita, meringankan langkah dalam berbuat kebaikan.
Cukup Allah menjadi saksi. Karena Allah yang Maha Tahu isi hati kita. Sedihkah atau bahagiakah.
Sebagai contoh dari beberapa berita yang saya baca. Negara Korea menjadi negara dengan tingkat bunuh diri tertinggi di dunia. Menurut Organization of Economic Cooperation and Developmemt, sebanyak 21 orang dari 100 ribu orang Korea melakukan bunuh diri.
Seorang Psikologi dari universitas Yonsei-korea, Hwang Sangmin, mencoba menganalisis fenomena bunuh diri ini. Menurutnya, orang Korea memiliki konsep Yan, dimana setiap orang berusaha bersikap diam dan tabah walaupun dalam keadaan marah. Terutama untuk kaum selebritis, pencitraan melalui konsep Yan amat besar dilaksanakan. Jika sudah di ambang batas, mereka cenderung putus asa dan akhirnya mengambil pilihan drastis untuk bunuh diri.
Itu karena di sana penilaian orang banyak menjadi tolak ukur yang utama. Image mereka ada di tangan orang banyak. Image mereka adalah kehendak orang banyak. Meskipun hal tersebut tak sesuai dengan hati nurani mereka. Terlebih bagi selebritas yang memiliki banyak penggemar. Mereka di tuntut menjadi seorang yang perfeksionis.
Faktor lain, karakter orang korea tergolong tertutup, sehingga para artis akan merasa malu jika ketahuan pergi ke konseling atau sedang depresi. Faktor agama juga tak kalah pentingnya. Hampir setengah warga Korea tidak memiliki agama, sehingga ketika mengalami depresi, penghargaan mereka terhadap kehidupan jadi rendah. Kepercayaan terhadap konsep reinkarnasi juga mendorong orang Korea mengakhiri hidupnya, dengan harapan kehidupan barunya akan lebih baik.
Akhirnya bunuh diri di anggap sebagai jalan keluar untuk menyelesaikan masalahnya. Untuk selebritas, segala perilakunya akan di contoh oleh penggemarnya. Fanatik yang berlebihan dalam mengidolakan seseorang, membuat masyarakat Korea akan mengikuti tiap perilaku yang di lakukan idolanya bahkan jika idolanya bunuh diri maka mereka akan mengikutinya. Para fans seolah terinspirasi, untuk mengakhiri suatu masalah adalah dengan jalan bunuh diri. Melihat permasalahan tersebut pemerintah Korea kini sedang menggalakkan adanya konseling untuk mengurangi populasi bunuh diri. Di harapkan dengan seperti itu masyarakat Korea mau membuka diri guna menceritakan masalahnya.
Bagi kita yang memiliki Allah sebagai penawar hati di kala kesedihan datang, melalui ayat-ayatnya yang berisi kabar gembira bagi orang yang sabar dan selalu menyerahkan segalanya kepada Allah maka tak patut kita berputus asa. Karena sesungguhnya hanya Allah tempat segala curahan rasa. Hanya Allah sebaik-baik tempat mengadu. Hanya Allah sebaik-baik saksi dari perilaku kita.
Fenomena yang terjadi Korea bisa di ambil hikmahnya, membuka diri kepada seseorang yang di percaya untuk bertukar pikiran. Bukan berarti membuka aib atau mengabaikan Allah sebagai tempat mengadu. Tentu jika hal itu di lakukan dengan pertimbangan, bahwa kita melakukan ikhtiar dengan mencari perantara Allah untuk mencarikan jalan keluar dan tanpa berlebihan.
Semoga kita menjadi hamba yang selalu mengandalkan Allah dalam tiap gerak kita. MenjadikanNya sebagai saksi utama. KarenaNya kita berlaku bukan karena yang lainnya. Merasakan Allah selalu hadir lebih dekat dari urat nadi. Aamiin.
Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya. (QS. Fathiir: 10)
Mencari kemuliaan dan kebahagiaan dengan harta benda dan penilaian manusia pasti tak akan pernah di dapat, hanya melelahkan batin dan semu belaka. Carilah kemuliaan di sisi Allah, di jamin bahagia, mulia yang asli dan kekal. (Aa Gym)
Allahua’lam.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2011/12/16683/cukup-allah-sebagai-saksi/#ixzz1gZ4zbOBP

Senin, 12 Desember 2011

Qalb Aisyah 4 (Tangisku Oleh Katamu)


Allah hari ini aku mengadu padaMu. Aku mengadu dalam tangisku oleh kata-katanya. Kata-kata yang begitu menyentuh dan meresap dalam batas kemampuanku untuk memaknainya. Apakah ia memang begitu? Apakah semua ini sama? Atau ini suatu ayat yang salah kutafsirkan?
Allah, tumbuhkan keyakinan padanya, bahwa aku juga menanti yang sama. Aku juga tak punya apa-apa. Aku juga seorang yang hina. Aku bukanlah Zulaikha yang mengharapkannya setampan Yusuf, walau aku mengharapkan seperti ibunda Aisyah, tapi aku tidaklah secerdas Aisyah yang mendampingi Nabi Muhmmad, aku juga tidaklah sekaya Balqis yang sederajat dampingi Sulaiman. Aku hanyalah wanita akhir zaman berharap menjadi wanita sholehah mendampinginya dalam menggapai keridhoanMu. Benar, aku pun tak punya apa-apa. Aku masih terus belajar menata diri hingga pantas mendampinginya dan layak Engkau anugrahkan hambaMu yang taat.
Sesungguhnya setiap wanita yang baik pasti merindukan pernikahan, dimana dalam pernikahanlah dia bisa terjaga dari fitnah cinta, dia bisa terhormat dan sempurna sebagai wanita, yakni menjadi istri dan ibu bagi suami dan anak-anaknya. Seorang suami baginya adalah kehormatan, apapun status sosialnya. Aku memang mendamba pernikahan, tapi aku belum siap dalam waktu sekarang. Masih ada yang harus kutunaikan. Insya Allah hingga waktunya tiba nanti, kita mulai semuanya bersama-sama. Jadi, bukan kau sendiri…
Tetaplah jaga kemuliaanmu, tundukkan rasa dan gerak yang bisa merendahkan nilai dirimu, pertahankan agar senantiasa ‘malu’ menjadi penghiasmu dan penghiasku. Bukankah engkau menginginkan yang terbaik? Meski kadangkala yang terbaik tidak selalu seperti yang kita inginkan. Tapi yakinlah akan janjiNya, bahwa wanita baik-baik hanya untuk laki-laki baik-baik, begitupun sebaliknya. Bersabar dan tetap bersahaja dalam penantian. Meski ikhtiar tak boleh diabaikan. Jalani sesuai ketentuan sang Pemilik kehidupan.
Bila telah sampai waktunya, detik demi detik masa ta’aruf itu akan begitu mendebarkan. Saat-saat menuju pernikahan agung itu akan begitu mengharukan. Kau tahu mengapa?? karena itulah waktu yang tepat untuk pertama kalinya cinta mekar dari kuncupnya. Akan menjadi sebuah keharuan, karena luapan cinta yang merekah telah tertuju pada satu orang yang tepat, pada dia yang halal. Akan menjadi suatu kemuliaan, karena semua keindahan itu bernilai ibadah dan menuai pahala. Subhanallah, Dirimu adalah yang terpilih bagi dia yang telah dipilihkan olehNya. Begitulah seharusnya merekahkan cintaku, cintamu, Cinta yang terpilih.
Jika memang tak ada takdirNya untuk ini semua, masing-masing dari kita harus tetap berhuznuzhon. Sejatinya, hanya Ia lah yang tahu yang terbaik untuk kita. Tapi tolong, jangan sekali-kali kau rendahkan dirimu di hadapanku! Aku tak sanggup, karena andai kau halal untukku, akan kukatakan kau adalah yang terbaik sejauh ini yang menyentuh sukmaku. Kau banyak mengajarkanku beberapa hal secara tersirat. Aku mengagumimu. Aku menyukaimu dengan caraku. Dengan hatiku. Aku tahu, masih banyak permata lain di luar sana yang menawan, namun perkara hati, siapa yang dapat mengatur kemana ia tertambat?
Masing-masing dari kita hanya mampu berdo’a. Tetap jalani ini semua seperti biasa. Aku pun terkadang tak mampu menolak dirimu yang melintas dalam pikiranku. Tapi semua sudah cukup! Kita tak boleh terlena terlalu jauh. Saling memaklumi keadaan ini, walaupun rindu kebersamaan terlalu mengikat, namun apalah daya selain kesabaran yang dapat dibentangkan.
Semua ini, suatu saat nanti terjawab. Aku minta maaf padamu kalau kiranya aku telah menggangu kenormalan hidupmu. Sungguh aku tak ingin membuat hidupmu celaka karenaku! Pada Allah aku mohon ampun atas rasa yang datang belum pada saatnya. Aku mencemaskanmu, mencemaskan rasa ini karena takut Allah marah. Sungguh tak ada yang bisa kulakukan.. :’(
Afwan jiddan…
Afwan…



Jumat, 09 Desember 2011

Poetry Aisyah


Allah Ampuni Aku
Allah ampuni aku atas jiwa mungil yang telah terisi
Ampuni aku yang lemah akan diri
Ampuni aku yang telah lancang dan berani mencintai
Mengikat hati dan membelenggu diri
Pada hal yang tak pasti

Allah ampuni aku
Tak inginku terbudak oleh nafsu
Tak inginku memungut cinta palsu
Tak inginku mendapat marah-Mu
Atas apa yang tersembunyi dalam kalbu

Allah kuat kan aku
Jangan biarkan aku terbuai oleh angan semu
Bantu aku untuk abaikan semua madu palsu
Hingga waktu kan jawab semua tanyaku
Akhir penantianku dalam batas waktu
Yakni ikhwan akhir zaman yang mencintaiku karena-Mu
R.H Akmal (28 juni 2011)

Orang Asing
Jika kau jadi aku,
sanggupkah kau memaknai rasaku?
Aku bertanya padamu….
Mengapa kau membisu…
Aku tahu kau jauh lebih baik dari aku
Maka aku tak pantas berharap lebih jauh denganmu

Allah ampuni aku..
Aku menyayanginya dengan hati bukan logikaku
Kini hatiku sedang mengharu biru
Mencemaskannya atas rasaku

Namun, tanyaku sepertinya butuh waktu
Sampai aku tak tahu kapan batasku menunggu
Apakah aku harus berlalu?
Bergegas pergi meninggalkanmu dan rasaku?
Tolong tenangkan aku semampumu
R.H Akmal (22 juli 11)
Goresan Luka

Bertanya hati pada sikapmu
mengerang dalam batin atas lukaku
sepertinya fajar tak enggan lagi menyapaku
karna kini langit kulihat berawan kelabu

goresan luka ini kecil
tapi perih sayatnya begitu menusuk
namun jiwaku tetap memanggil
walau hati telah nyaris kau buat remuk

hanya pada allah kini ku mampu bertanya
atas batinku yang terluka dan nyaris bernanah
rahasia itu hanya Engkau yang jaga,
maka tuntun aku dalam sabar ya allah..

R.H Akmal (30 Juli 2011)

Kamis, 08 Desember 2011

Qalb Aisyah 3 (Aku, Kau, dan Rabb Kita)


Setiap orang mungkin pernah mengalami apa yang tengah kurasakan ini, setiap orang mungkin punya caranya masing-masing untuk menyikapi dan memperlakukan persoalan yang tengah menyelimuti diriku ini.
Sebagai seorang manusia biasa dan seorang perempuan yang tengah memasuki fase dewasa awal, mungkin hal yang biasa bila mengalami VMJ. Yah, aku jua tak lepas dari itu. Namun karena itu, belakangan ini ‘hidupku jadi tak tenang’. Sungguh, aku tak bermaksud menyimpan atau melenakan perasaan ini. Aku mencoba melepasnya, karena kalau mengingatnya, aku takut Allah tidak berkenan akan ini. Menyukai dan jatuh cinta itu memang fitrah, namun berlarut dengan perasaan ini dan menjadikan aktivitas pikiran dan ibadah terganggu, ini menjadi sesuatu yang tak wajar lagi.
Memang, hal ini belum terjadi lama padaku. Namun, masa waktu yang singkat, sudah membolak balik jiwa mungil ini. Tidak sedramatis Laila dan Majnun memang, atau berakhir seperti kisah putri Zein. Belum ada yang berakhir, karena memulai saja juga belum. Dia juga tak mengganggu ibadah-ibadahku, malah dengan rasa ini, pada beberapa hal, ia mampu memotivasiku untuk menjadi yang sepadan. Karena aku ingat jodoh itu berbanding lurus pada diri kita. Yang tak kusuka, hanya dia kerap melintas dipikiranku tanpa kupinta.
Untuk rasa ini, aku belum berani untuk melanjutkannya kejenjang yang lebih serius. Walau terbesit rasa keinginan untuk menunaikannya, namun aku belum bisa. Masih ada beberapa hal yang harus kutunaikan sebelum mengabdikan diri untuk menjadi seorang istri soliha dan ibu untuk kesatria dan bidadari titipan Illahi.
Untuk ketidak mampuanku, aku memilih untuk mencintaimu dalam diam. Dalam diam suara ketidakmampuanku mengutarakannya padamu. Walau aku tak mampu menyembunyikannya dari Allah, dan beberapa sahabatku. Aku ingin kisah cinta seperti yang dijaga Fathimah R.A dan Ali bin Abi Thalib R.A, yang syeithan sekalipun tak tahu mereka saling menyimpan rasa, namun apalah aku ini, aku tak semulia mereka. Aku hanya mampu diam, diam hingga penantian siapakah yang menjadi takdirku tanpa yang kurekayasa untuk hadir.
Murabbiku juga meminta, agar kiranya bisa mendapatkan pasangan yang benar-benar tak kita kenal. Agar cinta itu bersih dan perawan. Seperti lirik lagu Maidany,
Tuhanku, berikan kucinta, yang Engkau titipkan, bukan cinta yang pernah kutanam. Aku ingin rasa cinta ini, masih menjadi cinta perawan, cinta yang hanya aku berikan saat ijab kabul telah tertunaikan.”
Dan aku pun mencoba mencari jalan keluar dari ini, dengan diamku. Mungkin ini tak menjawab apa-apa, namun aku hanya mencoba tetap pada azamku. Dan semoga Allah meridhoi langkahku, karena aku yakin, Allah akan memberikan jalan keluar pada hambanya yang mengalami kesulitan, karena sungguh Allah tak ingin melihat hambanya merasa kesusahan.
Allah aku ini dhoif,
Aku tak ada pengharapan yang lain selain selalu Engkau kasihi,
Ya Rabb, hati ini kepunyaanmu yang kau titipkan pada jasadku
Maka kuatkan aku dalam menjaganya,
Sabarkan aku dalam penantian sehingga aku menemukan waktuku dalam ridhoMu
Bukankah kelemahanku sebagai seorang wanita terletak di hati?
Maka padaMu aku berlindung dan memohon cintaMu untuk menjagaku…

Jumat, 02 Desember 2011

Qalb Aisyah 2 (Surat Cinta Dari Tuhan yang Kau Ikatkan)

Aku duduk di sofa ruang tamu rumahku. Sedikit-sedikit aku mencoba membenarkan letak jilbabku, merapikan gamis yang kukenakan dan beberapa menit berikutnya pergi ke arah dapur untuk menemui Bunda yang tengah mempersiapkan jamuan makan malam bersama adik dan kakak iparku.
“Tenanglah, apa yang Ananda risaukan, Nak?” Aku tak bisa menjawab pertanyaan Bunda, karena aku sendiri sebenarnya tak tahu apa yang aku cemaskan.
“Kembalilah ke ruang tengah. Temani Ayah dan Abangmu. Sebentar lagi, mungkin mereka akan datang.” Aku menuruti perkataan Bunda. Ayah tampak tenang dengan buku bacaannya, dan abangku menyibukkan diri di depan laptop, untuk menyelesaikan pekerjaan kantornya. Aku duduk di samping Ayah. Bersandar di bahunya.
“Tak ada sesuatu yang perlu dicemaskan.” Ayah mengalihkan perhatiannya padaku. Ia mengelus-elus kepalaku dengan lembut.
“Ayah, apakah Ananda sudah pantas menjalani ini semua? Jujur, Ananda sedikit merasa tak pantas.”
“Kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi pada diri kita setiap harinya. Semenit ke depan, kita pun tak kan mampu menebak apa yang akan terjadi. Kita hanya mencoba untuk berbuat sebaik mungkin setiap harinya dalam hidup, dan atas kebaikan-kebaikan itu, kita harus percaya bahwa Allah akan menyelipkan kejutan-kejutan kebahagiaan untuk kita, bahkan untuk hal yang kita anggap mustahil sekalipun.” Kini Ayah menutup bukunya, ia memandang wajahku dengan lekat, membetulkan sedikit letak kacamatanya, dan kembali melanjutkan kata-katanya.
“Jadi, tak ada yang tak pantas jika Allah telah menghendakinya Anakku. Jika keraguan masih menyelimutimu, tanyakanlah padanya. Bukankah ia yang mengajukan diri?” Ayah benar. Aku masih bisa menanyakan banyak hal sebelum membuat suatu keputusan untuk hidupku.
***
Pukul 20.05 WIB, dua buah mobil terdengar memasuki pekarangan rumah. Ayah, Bunda, dan abangku berjalan keluar untuk menyambut tamu yang datang. Aku masukke kamar ditemani adik dan kakak iparku. Beberapa menit berselang, samar-samar kudengar percakapan mereka yang kini telah berkumpul di ruang tamu.
“Kedatangan kami ke sini, tentu sudah Anda ketahui maksud dan tujuannya. Saya mewakili anak saya, ingin menyampaikan maksud hatinya yang ingin menyempurnakan separuh agama dengan mempersunting anak Anda.”
“Ini semua memang berkah untuk keluarga kami, keluarga biasa yang mungkin sebelumnya tak pernah membayangkan akan menjamu tamu dari keraton. Namun apa pun itu namanya, saya tetap yakin hanya takwa yang menjadi pembeda kita di hadapan Tuhan. Untuk urusan hati ini pun, saya tak ingin mengambil keputusan tersendiri. Saya bebaskan putriku untuk menentukan apa yang terbaik bagi hidupnya.”
“Tentu saja. Saya sangat setuju dengan pemikiran Anda. Langsung saja kita pertemukan keduanya, dan memutuskan yang terbaik diantara keduanya.”
Bunda, masuk ke kamarku. Menuntunku keluar menuju ruang tamu yang telah berubah menjadi ruang musyawarah. Adik dan kakak iparku tetap mengiringiku.
“Nah, kini orang yang ingin mempersuntingmu dan keluarganya telah hadir di rumah kita, Nak. Sampaikanlah apa yang ingin Ananda sampaikan. Kami tak akan memperdebatkan.”
“Saya hanyalah orang yang biasa, mengenalmu pun hanya sebagai orang yang dihormati dibeberapa kalangan. Saya mungkin tahu banyak tentangmu, namun apakah kamu benar-benar telah mengenal baik saya?” Aku mulai bertanya. Wajahku tertunduk tak mampu mengangkatnya untuk melihat orang-orang di sekelilingku.
“Saya memang tak mengenalmu dengan waktu yang lama. Bahkan saya tak lebih dari lima kali bertemu denganmu. Namun, pada setiap kesempatan dimana saya bertemu denganmu, saya mencoba mengenalmu dengan baik. Dalam waktu yang singakat itu pula, saya kenali dirimu sebagai seorang perempuan yang sederhana, penyuka kegiatan sosial, periang, kecerdasanmu mampu membawamu meraih beasiswa keluar negeri, namun yang terpenting dari semua itu, saya menilai dirimu sebagai seorang yang menjalankan agamamu dengan baik,”
“Dan apa yang tak terlihat langsung oleh saya tentangmu, sudah saya ketahui dari orang-orang terdekatmu. Termasuk sifat manjamu terhadap Ayah Bundamu.”
“Lalu apa yang kamu harapkan dengan menikahi saya? Apa yang membuatmu mengajukan diri untuk menjadi imam dikehidupan saya? Dan saya ingin memberitahukan bahwa didiri saya terbesit rasa ketidakpantasan untuk mendampingimu.” Tanyaku lagi dalam keadaan wajah yang masih tertunduk.
“Saya tak memandangmu sebagai orang yang tak sebanding dengan saya. Apa yang tak pantas di pandangan manusia, belum tentu tak pantas di hadapan Illahi. Apa yang saya nilai darimu adalah sesuatu yang saya lihat dengan hati, bukan dari apa yang ada di luarnya. Yang saya harapkan dengan menikahimu adalah meraih ridhonya Allah. Saya memilihmu atas agamamu. Atas kecintaanmu pada Rabbmu dan kekasihnya, dan saya ingin mendapat perhiasan dunia akhirat dengan menikahi wanita solihah. Lalu dimana letak ketidakpantasanmu jika yang saya lihat adalah seorang wanita dari segi agamanya?” Aku tak tahu bagaimana mimik wajahmu ketika menguraikan semua kata-kata itu. Namun yang harus kuakui, ada getaran kecil yang terjadi di sukmaku.
“Sekiranya saya menerima lamaranmu, apa yang dapat kamu berikan sebagai mahar dipernikahan nanti?”
“Sebenarnya, saya adalah orang yang tak punya apa-apa. Kebanyakan apa yang saya miliki adalah warisan turun temurun dari keluarga keraton. Saya tidak ingin memberikanmu mahar dari sesuatu yang tidak saya perjuangkan untuk mendapatkannya. Maka jika kamu ikhlas, saya hanya mampu memberimu surat cinta dari Tuhan. Saya ingin mengikatmu dengan surah Ar-Rahman dan Al-Kahf yang telah sedari lama saya hafal.”
Tanpa kupinta, ia melantunkannya untukku. Ada sesuatu yang kurasakan mengalir dingin di pipi. Cairan cinta atas rasa haru yang kudapatkan melalui perkataan seorang laki-laki. Satu-satu kini cairan cinta itu jatuh membasahi telapak tanganku yang kuletakkan di atas pangkuanku. Aku mulai sedikit memberanikan diri mengangkat wajahku, untuk melihat calon suamiku.
Subhanallah, aku pun melihatnya tertunduk dengan parit di pipi yang membekas dari tangisnya. Perlahan kulihat ia mulai mengangkat wajahnya juga, memandang ke arahku dengan sekali pandang. Namun sepersekian detik mata kami bertemu. Deg! Hatiku kurasakan bergetar kembali. Ada hawa sejuk yang masuk melalui celah-celah dinding hatiku, begitu lembut dan menenangkan.
“Apa yang bisa saya sanggah lagi ketika seseorang lelaki yang solih mendatangi saya untuk menunaikan sunah nabi? Apa yang saya pandang kini, tak lagi melihat statusmu, tapi apa yang saya lihat dari agamamu. Dengan mengucap basmalah, bismillahhirrahmannirrahim, saya bersedia menyempurnakan dien bersamamu.” Kataku dengan mantap.
Bunda menciumiku, begitu pula kulihat yang Ibumu lakukan terhadapmu. Ayah kita saling berpelukan, senyum bahagia menghiasi wajah keduanya. Beberapa kerabatmu dan saudaraku turut mengembangkan senyum bahagia pula. Pada setiap kehidupan hambanya yang beriman, selalu ada campur tangan Tuhan yang menjadikan skenarionya lebih indah. Medan, 24 November 2011